Thursday, July 25, 2024
Indonesia-Turki

PPI Bursa gelar budaya di Turki, tampilkan tokoh mitologi Indonesia

PPI Bursa gelar budaya di Turki
PPI Bursa gelar budaya di Turki

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Bursa (PPI Bursa) mengadakan gelar budaya di Orhangazi Hall, Merinos Ataturk Kongre Kultur Merkezi, Bursa Turki, Senin (3/7/2023).

Kali ini, pertunjukkan budaya ketiga yang digelar PPI Bursa tersebut bertajuk “Endonezya ile Bir Gun (EIBG)” (Sehari Bersama Indonesia).

Tapi, berbeda dari kebanyakan pertunjukkan budaya Indonesia di Turki, EIBG 3 ini menampilkan budaya Indonesia melalui teater bertema lingkungan dengan beberapa tokoh mitologi Indonesia. Seperti Nyi Roro Kidul, Buto Ijo, dan Nini Anteh dipadukan dengan karakter khas Turki, Hacivat dan Karagoz, yang didukung dengan paduan suara dan tarian Indonesia.

Tak hanya mempromosikan budaya Indonesia, EIBG 3 juga berusaha mengkampanyekan isu lingkungan yang menjadi perhatian bersama saat ini.

Tentunya dalam program ini dapat meningkatkan hubungan diplomasi antara Indonesia dan Turki.

Menurut Ketua Pelaksana, Ulfah Lathifah, pertunjukkan dibuka dengan pameran instalasi seni berbentuk ombak yang berbahan dasar botol plastik bekas menggambarkan kehidupan serta bunga mawar merah yang terbuat dari kotak telur yang menggambarkan keberanian.

“Sambil mengamati instalasi seni, penonton bisa menikmati pastel, dadar gulung, kue sus, dan bolu pandan,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/7/2023).

Selain itu, Photobooth juga disediakan bagi penonton yang ingin mengambil foto bersama hiasan yang melambangkan 3 elemen utama dalam pementasan yakni laut, hutan, dan bulan.

Pertunjukan dengan 650 penonton tersebut juga dihadiri oleh Lalu Muhamad Iqbal (Duta Besar Republik Indonesia di Ankara), Sevket Orhan (Kepala Bursa City Council), Arif Bayrak (Wakil Wali Kota Bursa), dan Wakil Gubernur Bursa Yusuf Gökhan Yolcu.

Dijelaskan, teater diawali dengan pertunjukkan wayang oleh Dalang dan kehancuran ‘rumah’ di atas panggung dengan asap buatan.

Adegan-adegan selanjutnya menceritakan perjalanan Insan mencari ‘rumah’ baru, bergantian antara media videotron dan panggung, didukung oleh tarian dan paduan suara.

Sebagaimana pertunjukkan diawali oleh Dalang, akhir cerita juga ditutup oleh Dalang, kemudian penampilan lagu daerah Indonesia, lagu pop Turki, diikuti dengan flashmob penampil dan penonton yang naik ke panggung.

Tentunya, penonton yang hadir malam itu merasa terhibur dan mengenal budaya Indonesia lebih dekat. Seperti paparan salah satu penonton, Sapargul Choiubekova, mahasiswi asal Kyrgyzstan yang sedang menempuh pendidikan di Bursa.

“Saya selalu hadir di acara Endonezya İle Bir Gun, tapi yang ketiga ini adalah yang terbaik dan saya benar-benar menikmati acara ini,” tutur dia.

Selaras dengan ungkapan Ketua PPI Ankara, Naura Arifa mengatakan bahwa ini bukan sekadar acara kebudayaan biasa, tapi juga mengandung pesan tentang lingkungan. “Tidak ada rumah untuk manusia selain bumi.

Maka dari itu kita harus menjaga bumi,” terang dia. Selain mengandung pesan tentang lingkungan, teater ini juga sarat akan filosofi hidup bahwa yang tak terhingga bukanlah air melainkan harapan.

Sedang yang paling kuat bukanlah pohon tapi tekad, dan yang paling tinggi bukanlah bulan melainkan tujuan.

Sumber: Kompas

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x