Thursday, July 25, 2024
Kontra-teror

Turki peroleh data 9.952 “serigala tunggal” ISIS di seluruh dunia

Turki berhasail memperoleh database berharga dari kelompok teroris ISIS setelah operasi yang dilakukan dalam beberapa bulan terakhir oleh polisi di Istanbul. Database tersebut berisi nama dan informasi tentang 9.952 teroris “serigala tunggal”

Surat kabar Sabah memperoleh akses ke rincian operasi yang dimulai di sebuah kafe di Istanbul dan diakhiri dengan penangkapan seorang tersangka yang memiliki database di Bandara Istanbul.

Keberadaan database yang berisi informasi biografi para teroris lone wolf, mulai dari skill hingga informasi tempat tinggal dan identitasnya, diketahui keberadaannya oleh sebagian besar badan intelijen mulai dari CIA dan MI6 hingga Mossad.

Badan-badan intelijen menugaskan 40 agen di Tajikistan, Uzbekistan, dan Pakistan untuk melacak database yang diketahui dimiliki anggota Daesh di negara-negara tersebut.

Basis data tersebut pertama kali dimiliki oleh pemimpin ISIS/Daesh Abu Bakr al-Baghdadi yang terbunuh pada 27 Oktober 2019.

Agen-agen AS menjelajahi daerah di mana al-Baghdadi terbunuh di Suriah dalam sebuah operasi tetapi menemukan bahwa itu sudah lama hilang dan sekarang dalam kepemilikan penerus al-Baghdadi Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi.

Sementara itu, unit intelijen dan kontraterorisme polisi Istanbul yang melakukan operasi melawan Daesh, menemukan percakapan yang mencurigakan di antara target intelijen yang mereka sadap.

Mereka menemukan “pertukaran kargo” milik Daesh, meskipun mereka tidak mengetahui isinya.

Percakapan antara anggota ISIS asing dan kolaborator lokalnya menyebabkan operasi pengawasan lebih lanjut.

Menurut laporan Abdurrahman Soğuksu, direktur kontraterorisme kepolisian Istanbul, database tersebut menjadi topik pembicaraan antara Mehmet Çelik, Zeyneddin Çalışkan, Hikmet Aliyev, Seymur Rzayev dan Ilyas Yıldırım yang berkumpul di sebuah kafe.

Orang-orang itu, yang memiliki hubungan dengan intelijen Iran, berbicara tentang “kargo digital” yang dijual oleh anggota Daesh yang mencurinya dari pimpinan kelompok teroris dan mendiskusikan cara mendapatkannya untuk intelijen Iran.

Pengawasan Turki mengungkapkan bahwa anggota Daesh yang memiliki database menegosiasikan penjualan database tersebut kepada lima orang yang tidak mengetahui hubungan mereka dengan intelijen Iran, dengan harga 8,5 juta euro ($9,33 juta).

Kedua belah pihak menyetujui pengiriman database di Istanbul dan setelah berbulan-bulan negosiasi, Kementerian Intelijen Iran (VAJA) memberi tahu orang-orang itu bahwa mereka siap membayar harganya, setelah melihat “pratinjau” database.

Seorang kurir Daesh tiba di Istanbul untuk penjualan sementara polisi Istanbul meluncurkan operasi tersebut.

Kurir itu dicegat di terminal kedatangan Bandara Istanbul dan basis data ditemukan di tangannya. Polisi juga menahan lima pria yang bekerja untuk intelijen Iran.

Seymur Rzayev adalah warga negara Azerbaijan asal Iran dan terlibat dalam proyek rahasia untuk pengembangan kendaraan udara tak berawak (UAV) di Iran sementara Aliyev, seorang warga negara Iran, mengoperasikan perusahaan kargo antara Türkiye dan negara-negara Turki. Çalışkan dan Çelik, juga pengusaha, bekerja untuk memasok suku cadang untuk proyek pertahanan strategis Iran.

 

Jejak berdarah ISIS

Basis data adalah bagian utama dari perburuan internasional untuk waktu yang lama karena berisi semua informasi tentang teroris serigala tunggal dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Belgia, Belanda, Swedia, Norwegia, Denmark, Swiss, Austria dan Spanyol yang merupakan anggota sel tidur Daesh di seluruh dunia.

Dikatakan, Al-Qurashi yang mengetahui bahwa badan intelijen asing sedang mencarinya, memutuskan untuk mengirimkannya ke negara lain. Tetapi kurir yang dia tugaskan untuk pengiriman mengetahui tentang isi database dan memutuskan untuk menjualnya.

Dia menghilang tetapi ditemukan oleh anggota ISIS. Dia mengaku kehilangan database dan tidak mengaku, meskipun interogator kelompok teroris memotong kedua kakinya. Pimpinan kelompok teroris tersebut tidak percaya bahwa database tersebut hilang begitu saja, kemudian mengejar calon tersangka yang menurut mereka telah mencuri database tersebut.

Buntutnya, mereka mengeksekusi seorang anggota ISIS di Uzbekistan dan dua lainnya di Suriah karena dicurigai melakukan pencurian. Tapi, mereka gagal menemukan daftar teroris serigala tunggal yang berharga.

Serangan tunggal adalah ancaman paling jahat dari Daesh yang telah kehilangan wilayah yang direbutnya di Irak dan Suriah karena pengaruhnya berkurang di tengah operasi kontraterorisme di kedua negara tersebut.

Salah satu serangan serigala tunggal Daesh terjadi pada 12 Juni 2016, di sebuah klub malam Florida, menewaskan 50 orang dan pembunuhan 84 orang di Nice Prancis ketika sebuah truk menabrak kerumunan.

Di Turki, Abdulkadir Masharipov, serigala tunggal asal Kyrgyz, membantai 39 orang di klub malam populer Istanbul saat orang-orang berkumpul untuk menyambut Tahun Baru pada 1 Januari 2017.

Pada 2013, Turki menjadi salah satu negara pertama yang menyatakan Daesh sebagai kelompok teroris.

Turki telah diserang oleh Daesh beberapa kali, dengan lebih dari 300 orang tewas dan ratusan lainnya terluka dalam setidaknya 10 bom bunuh diri, tujuh serangan bom, dan empat serangan bersenjata. Akibatnya, Turki melancarkan operasi di dalam dan luar negeri untuk mencegah serangan lebih lanjut, termasuk beberapa operasi kontraterorisme di Suriah.

Teroris dari Daesh dan kelompok lain seperti PKK dan sayap Suriahnya, YPG, mengandalkan jaringan anggota dan pendukungnya di Turki. Sebagai tanggapan, Ankara telah mengintensifkan penumpasan terhadap teroris dan hubungan mereka di dalam negeri, melakukan operasi tepat dan membekukan aset untuk melenyapkan kelompok teroris sampai ke akar-akarnya.

Sejak kekalahan resminya di Irak pada 2017 dan kehilangan wilayah yang signifikan di Suriah sejak 2015, para pejuang ISIS telah memimpin operasi mereka di bawah tanah selain kehilangan pemimpin mereka karena operasi militer.

Tiga pemimpin terakhir kelompok itu, semuanya warga Irak, tewas di Suriah dalam beberapa tahun terakhir di luar wilayah yang pernah dikuasainya.

Pemimpin Daesh terakhir, Abu al-Hassan al-Hashimi al-Qurayshi, penerus Abu Ibrahim al-Hashemi al-Qurayshi yang bunuh diri selama serangan AS awal tahun 2022, terbunuh pada pertengahan Oktober tahun lalu oleh Free Syria Army (FSA) di Suriah selatan, sebagaimana dikonfirmasi oleh Komando Pusat AS (CENTCOM).

Pendiri kelompok Abu Bakr al-Baghdadi diburu oleh Amerika dalam serangan di Idlib pada Oktober 2019.

Militan Daesh yang tersisa, yang jumlahnya mencapai ribuan, sebagian besar bersembunyi di wilayah terpencil di seluruh wilayah tetapi masih memiliki kemampuan untuk melakukan gaya serangan pemberontakan yang signifikan.

Sumber: Daily Sabah

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x