Thursday, July 25, 2024
Sejarah

Keteladanan dari Sultan Muhammad Al-Fatih

Keteladanan dari Sultan Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II yang identik dengan kisahnya saat penaklukan Konstantinopel. Beliau merupakan anak dari Sultan Murad II yaitu khalifah sebelum Muhammad Al-Fatih.

Dikatakan ketika sedang menunggu proses kelahiran putranya, Sultan Murad II menenangkan dirinya dengan membaca Al-Qur’an dan lahir anaknya saat bacaan sampai di surat Al-Fath, surat yang berisikan janji-janji Allah akan kemenangan kaum muslim.

Merujuk buku yang berjudul Muhammad Al-Fatih karya Abdul Latip Talib, beliau dilahirkan oleh permaisuri Aishah, istri Sultan Murad II pada 27 Rajab 835 H bertepatan dengan tanggal 29 Maret 1432 M di Adrianapolis, yang sekarang lebih dikenal dengan kota Edirne (perbatasan Turki – Bulgaria), setelah 8 tahun pengepungan kota Konstantinopel oleh ayahnya.

Syaikh Ramzi Al-Munyawi dalam bukunya Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel mengatakan, Muhammad Al-Fatih diberi gelar sebagai khalifah atau sultan pada saat usianya 19 tahun. Beliau menjadi sultan ketujuh dari silsilah para sultan Dinasti Utsmani.

Sejarah Singkat Muhammad Al-Fatih
Muhammad Al-Fatih diangkat menjadi gubernur Amasya saat umurnya baru menginjak 6 tahun. Setelah dua tahun memimpin Amasya, Muhammad Al-Fatih dipindah tugaskan ke Manisa oleh ayahnya.

Mengutip buku Muhammad Al-Fatih 1453 karya Felix Y. Siauw, saat di Manisa, Muhammad Al-Fatih dikelilingi oleh ulama-ulama terbaik pada zamannya dan mempelajari berbagai disiplin ilmu. Baik itu yang berkaitan dengan Al-Qur’an maupun ilmu-ilmu lainnya seperti tsafaqah Islam, ilmu fiqh, bahasa, astronomi, matematika, kimia, fisika, serta teknik perang dan militer.

Sultan Murad II mengetahui jika anaknya memiliki sifat yang keras. Tetapi beliau menganggap bahwa sifat yang dimiliki anaknya bisa menjadi modal utama dalam belajar dan menjadi pemimpin.

Guru Muhammad Al-Fatih yang pertama adalah Syaikh Ahmad Al-Kurani. Di bawah bimbingan beliau, Muhammad Al-Fatih mulai menghafal Al-Qur’an dan mempelajari etika belajar pada usia 8 tahun.

Saat belajar, Syaikh Ahmad Al-Kurani tidak berperilaku istimewa dan mencium tangannya, seperti yang dilakukan ulama-ulama lain. Beliau justru tidak segan menegur Muhammad Al-Fatih dengan keras jika melanggar syariah Allah.

Guru kedua Muhammad Al-Fatih adalah Syaikh Aaq Syamsudin. Berbeda dengan guru pertamanya, Syaikh Aaq Syamsudin adalah ulama yang berpengaruh dalam membentuk mental Muhammad Al-Fatih. Beliau tidak hanya mendidik Muhammad Al-Fatih dengan ilmu-ilmu yang dikuasainya, melainkan juga senantiasa mengingatkannya akan kemuliaan ahlu bisyarah yang akan membebaskan Konstantinopel, ibukota Romawi Timur (Bizantium).

Syaikh Aaq Syamsudin setiap hari menceritakan kisah perjuangan Rasulullah SAW dan pengorbanannya dalam menegakkan Islam. Syaikh Aaq Syamsudin senantiasa meyakinkan dan mengulang-ngulang perkataannya kepada Muhammad Al-Fatih bahwa dirinya adalah pemimpin yang dimaksud dalam hadits Rasulullah SAW sebagai penakluk Konstantinopel.

Setelah Sultan Murad II wafat, pemerintahan kerajaan Turki Utsmani dipimpin oleh Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmed II. Dirinya berusaha membangkitkan kembali sejarah umat Islam sampai dapat menaklukan Konstantinopel.

Usaha penaklukan Konstantinopel pertama dilancarkan pada tahun 44 H di zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Kemudian pada zaman khalifah Ummayah, Abbasiyah, zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid pada tahun 190 H, akan tetapi semua mengalami kegagalan.

Usaha awal umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan mendirikan benteng Bosporus. Benteng ini didirikan umat Islam pada zaman Sultan Mehmed II dan dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel.

Akhirnya kota Konstantinopel berhasil jatuh di tangan umat Islam pada 29 Mei 1453 M. Setelah memasuki Konstantinopel di sana terdapat gereja Hagia Sophia yang kemudian dijadikan masjid bagi umat Islam.

Sultan Muhammad Al-Fatih kemudian tutup usia pada saat mempersiapkan untuk menaklukan Roma 3 Mei 1481 dalam usia 49 tahun. Bagi umat Islam, wafatnya Sultan Mehmed II adalah kehilangan yang sangat besar.

Sumber: detik

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x