- Advertisement -
Erdoganpedia

Erdogan: Saya melarang warga merokok karena mencintai mereka

Erdogan

TURKINESIA.NET, ANKARA – Presiden Erdogan mengatakan dirinya melarang warga merokok karena mencintai mereka. Pernyataan itu disampaikan saat Turki memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada Selasa.

Erdogan menemukan lagi momentum untuk mengulangi penentangan kerasnya terhadap rokok. Presiden menjadi tuan rumah bagi sekelompok pemuda, mulai dari atlet hingga aktor di Kompleks Kepresidenan di ibu kota Ankara.

Dalam jamuan tersebut, Presiden Turki ini mengecam tingkat merokok dan memperingatkan kaum muda untuk tidak jatuh cinta pada rokok elektronik tanpa asap, yang juga sama bahaya dengan jenis rokok lainnya.

Erdogan menyebut serangkaian langkah yang telah diambil oleh pemerintah Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK), dari “larangan merokok di dalam ruangan hingga pajak yang tinggi.”

Perjuangan efisien pemerintahannya, sebut Erdogan, telah membantu “penurunan relatif dalam tingkat merokok.”

Erdogan menekankan bahwa orang-orang muda yang membuat Turki bangga dengan prestasi mereka menanamkan harapan untuk masa depan dalam perang melawan produk tembakau. Ia berharap mereka dapat meningkatkan kesadaran terhadap “bahaya fatal ini.”

“Pandemi tembakau menempati urutan teratas daftar penyebab kematian dalam hal penyakit yang dapat dicegah dan merupakan ancaman kesehatan global terbesar. Setiap tahun, 100.000 orang di negara kita dan 7 juta di dunia meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan merokok. Sayangnya, kami masih belum berada di tempat yang kami inginkan (dalam hal membatasi tingkat merokok),” katanya.

Cerita tentang Erdogan merebut rokok dari tangan warga pernah viral beberapa tahun lalu. Saat itu Erdogan menjanjikan hadiah bagi warga tersebut jiak berhasil berhenti merokok.

“Saya mengambil bungkus rokok mereka karena saya mencintai orang-orangnya. Saya mencintai warga saya dan ingin menyelamatkan mereka dari sesuatu yang akan menyakiti mereka,” ungkapnya.

Baca juga  Erdogan: “Hamas bukan teroris tapi gerakan perlawanan”

Dia juga menyoroti bahaya rokok elektronik, hookah dan cerutu, yang telah menggantikan merek rokok yang lebih populer. “Kami memperluas perjuangan kami melawan rokok,” sebut Erdogan.

Meskipun hari-hari orang-orang merokok di koridor rumah sakit dan bus umum mungkin sudah lama berlalu, Turki tidak sepenuhnya “bebas asap rokok.”

Kecanduan merokok menyebabkan penyakit yang membunuh ribuan orang di negara ini setiap tahun, menjadikannya target utama organisasi pemerintah dan non-pemerintah (LSM).

Merokok  telah dilarang di semua tempat dalam ruangan pada tahun 2008 dalam langkah revolusioner untuk negara yang memunculkan istilah “merokoklah seperti orang Turki.”

Namun, angka menunjukkan bahwa lebih dari 15 juta orang masih merokok di seluruh provinsi.

Terlepas dari larangan merokok di dalam ruangan, pemerintah menerapkan semua opsi lain yang tersedia untuk memberantas kecanduan, mulai dari menawarkan pengobatan gratis kepada pecandu hingga mengenakan pajak yang tinggi untuk produk tembakau.

Kementerian Kesehatan juga menjalankan hotline untuk pecandu. Menurut angka yang dikutip oleh Anadolu Agency (AA), hotline itu membantu 40% penelepon menghentikan kebiasaan itu tahun lalu.

Hotline ini terhubung dengan klinik berhenti merokok yang didirikan di seluruh negeri dalam memerangi merokok.

Tingkat kecanduan penelepon diuji sebelum mereka diberikan strategi yang disesuaikan secara individual untuk berhenti.

Spesialis membimbing mereka selama proses, terutama pada metode untuk mengatasi kekurangan nikotin, dan pecandu setia diarahkan ke klinik.

Kru perawatan kesehatan memantau pecandu selama satu tahun untuk membantu dan memotivasi mereka selama proses berlangsung. Tahun lalu, sekitar 700.000 orang menelepon hotline.

Angka resmi menunjukkan bahwa tingkat perokok naik menjadi 28% pada 2019, dari 26,5% pada 2016 – dengan 52,9% pria berusia antara 35 dan 44 tahun merokok menurut angka resmi. Sedangkan angka untuk wanita mencapai 24,1%.

Baca juga  Presiden Erdogan kehilangan sahabat karibnya, Yavuz Bahadıroğlu

Angka oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa 31% kematian di antara pria di Turki berasal dari penyakit yang disebabkan oleh merokok, dan 12% untuk wanita.

Sumber: Daily Sabah

votes
Article Rating
admin
the authoradmin
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
%d bloggers like this: