Tuesday, March 31, 2020
TerpopulerTokoh

Kenapa Erdogan kuliahkan putrinya ke Amerika Serikat?

TURKINESIA.NET – Sebagaimana diketahui, dua putri Erdogan, Esra [lahir 1983] dan Sumeyye [lahir 1985] merupakan lulusan Amerika Serikat.

Esra menyelesaikan pendidikan SMA-nya di Kadıköy İmam Hatip dan pendidikan sarjana pada tahun 2003 di bidang sosiologi dan sejarah di Indiana University. Kemudian meraih gelar master dari University of California, Berkeley. Disusul kemudian gelar PhD sosiologi di universitas yang sama pada 2014.

Sedangkan anak bungsunya, Sumeyye lulus dari SMA Araklı İmam Hatip di Trabzon, kemudian belajar sosiologi dan politik di Indiana University di Amerika Serikat sebelum mendapatkan gelar master dari London School of Economics pada 2008.

Apa alasan yang melatarbelakangi Erdogan hingga mengirimkan kedua putrinya untuk kuliah di negeri non-muslim?

Dikutip dari buku “Erdogan: Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki”, salah satu tujuan terpenting yang menjadi fokus utama Erdogan sejak awal perjuangan politiknya adalah memperluas kebebasan umum dan aktifitas keagamaan. Agenda ini tentunya ditujukan pada kepentingan para perempuan yang mengenakan jilbab, yang mengalami penindasan dan pelanggaran hak-hak mereka untuk mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah dan perguruan Tinggi Turki hanya karena mereka berjilbab, dimana pemerintah sekular melarang penggunaannya di pusat-pusat kebudayaan.

Umat Islam Turki mengalami berbagai penindasan di bawah tekanan sekularisme yang senantiasa berupaya mengasingkan identitas Islam dan menghapuskannya dengan cara melarang kaum perempuan muslim mengenakan jilbab atau menghalanginya dalam beraktifitas.

Rezim-rezim sekular Turki sebelumnya sengaja mengeluarkan konstitusi yang melarang perempuan yang berjilbab atau berhijab dengan berbagai bentuknya mulai dari konstitusi Al-Qiyafah, yang dikeluarkan Attaturk sendiri tahun 1934 hingga konstitusi yang hingga konstitusi yang melarang berjilbab di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang dikeluarkan rezim militer tahun 1981, setelah kudeta.

Rezim-rezim Islam gagal untuk mencegah berlakunya konstitusi tersebut karena campur tangan pihak pengadilan dan membatalkan pencegahan ini sehingga menetapkan konstitusi yang melarang penggunaan jilbab.

Sejak saat itu, ribuan pelajar muslim putri yang berjilbab terpaksa pergi ke Azerbaijan, Swiss, dan negara lainnya untuk melanjutkan studi perguruan tinggi mereka. Akan tetapi lembaga-lembaga dan rezim sekular senantiasa menolak pengakuan dan pengesahan ijazah universitas yang mereka peroleh dari luar negeri.

Semua orang mengetahui bahwa Partai Keadilan dan Pembangunan menempatkan kasus dan permasalahan ini sebagai prioritasnya. Bagaimana tidak, Erdogan sendiri tidak nyaman dengan pelarangan dan batasan-batasan yang diterapkan kepada kaum perempuan muslim. Kenyataan inilah yang memaksanya mengirim kedua putrinya yang berjilbab untuk melanjutkan studinya di Amerika Serikat agar dapat menjaga jilbab mereka.

Di AS maupun London, Esra dan Sumeyye belajar di universitas dan dapat terus mengenakan kerudungnya, sesuatu yang hingga 2010, tidak mungkin dilakukan di Turki.

Seolah Erdogan berkata kepada pendukung sekularisme di negerinya “negara-negara barat saja, yang maju dan menganut paham liberal-sekuler tidak melarang perempuan berjilbab sedemikian rupa, sebagaimana yang berlaku di Turki.” []

Leave a Response

error: Content is protected !!