Friday, December 13, 2019
rekomendasiTokoh

Abdurrahman Bey : Muslim India yang tinggalkan keluarga, kemewahan, pendidikan demi Turki

TURKINESIA.NET – TOKOH. Abdurrahman Bey adalah seorang Muslim dari Peshawar yang saat itu masih menjadi bagian dari wilayah India di bawah kekuasaan Inggris. Kota Peshawar di Lembah Khyber yang terkenal saat ini merupakan wilayah Pakistan.

Di Turki, nama ini dikenal juga sebagai Abdurrahman Peşavari [Peshawari]. Saat ia masih mahasiswa di Aligarh College, kecintaannya yang besar terhadap Turki membuatnya mendapat julukan Turki Laka yang berarti anak lelaki Turki.

Rakyat Turki mengenang dirinya karena jasa dan pengabdiannya yang begitu tulus. Dia bertugas di Angkatan Darat Ottoman dari tahun 1912 hingga 1925, hingga akhir hidupnya.

Abdurrahman Bey yang berasal dari sebuah keluarga terkemuka dan merupakan putra Agha Ghulam Ahmed Samdani I termotivasi dengan semangat persatuan Islam. Usianya baru beranjak 26 tahun saat ia memutuskan meninggalkan keluarga, kemewahan, hingga pendidikannya di Universitas Muslim Aligarh yang bergengsi demi pergi berjuang bersama Turki.

Karena tidak yakin dengan persetujuan ayahnya, dia menjual semua barang miliknya, termasuk pakaian dan buku-buku untuk mengumpulkan dana perjalanan jalur laut.

Saat itu, sebuah misi disusun oleh Dr. Mukhtar Ahmed Ansari untuk berangkat ke Turki untuk mendukung kekhalifahan Utsmaniyah yang saat itu sedang melemah. Dukungan militer terhadap Kekhalifahan tidak diizinkan oleh pemerintah Inggris, karena itu sebuah tim medis yang terdiri dari 24 dokter dan perawat pria terbentuk. Menurut sumber lain, jumlah mereka 26 orang.

Abdurrahman meninggalkan studinya dan mengajukan diri untuk misi ini sebagai pembawa tandu/perawat. Abdurahman bersama rekan-rekannya berlayar dengan sebuah kapal Italia dari Mumbai ke Istanbul. Selama perjalanan panjang tersebut, para sukarelawan dokter dalam kelompok itu melatihnya untuk tindakan pertolongan pertama.

Bersama dengan Dr. Ansari, Shoaib Qureshi dan Abdurrahman Sıddıki ia tiba di Istanbul pada bulan Desember 1912 untuk membantu tentara yang terluka dari Perang Balkan.

Setelah berdirinya negara Pakistan, Dr. Ansari kemudian ditunjuk sebagai duta besar Pakistan untuk Baghdad dan Abdurrahman Sıddıki menjabat sebagai gubernur.

Dia kemudian bergabung dengan kelompok Bulan Sabit Merah Ottoman, membawa bantuan keuangan dari Muslim India untuk membeli peralatan medis bagi pasukan Ottoman yang bertempur di Balkan.

Komunitas Muslim India mendukung Ottoman di akhir-akhir masa kekhilafahan dan Peshawari menjadi anggota penting kelompok ini, kata Mucahit Arslan, seorang peneliti sejarah Turki yang mengungkap kisah “pahlawan tak dikenal” dari Perang Kemerdekaan Turki.

Gerakan Khilafah oleh komunitas Muslim di India yang dikuasai Inggris dimulai pada awal 1912. Saat Ottoman bertempur di Balkan, banyak Muslim India berkontribusi, baik secara finansial atau secara langsung. Di Eropa, beberapa mahasiswa  kedokteran India yang kaya mendirikan rumah sakit lapangan selama pertempuran Gallipoli.

Setelah berakhirnya Perang Balkan, Abdurrahman adalah satu-satunya anggota tim yang memilih bertahan di Turki.

Setelah perang, meskipun keluarganya mendesaknya untuk kembali ke rumah, ia memilih untuk tinggal di Republik Turki yang baru berdiri di Ankara. Dia menolak permintaan ibunya untuk kembali dengan mengatakan, “aku tidak bisa kembali saat negara Muslim berada di bawah invasi.”

Dia memutuskan untuk mendaftar di Angkatan Darat dan memulai pelatihannya di Istanbul, kemudian dikirim ke Beirut dimana dia memulai dinas aktifnya sebagai letnan di pasukan regular sampai Perang Dunia Pertama dimulai.

Setelah kekalahan Jerman dan Turki pada akhir Perang Dunia I, kekuatan Sekutu menduduki Istanbul. Mustafa Kemal Pasha mendirikan pemerintahan sementara di Angora (Ankara) untuk menentang Sekutu. Abdurrahman bergabung dengan pasukan ini dalam perjuangan mereka untuk memulihkan kedaulatan Turki. Dia terluka tiga kali ketika berperang di Gallipoli melawan angkatan laut Kerajaan Inggris, di mana pasukan Turki berhasil mengusir pasukan penyerang dari Selat Dardanelles.

Saat bergejolak Perang Kemerdekaan Turki melawan pendudukan sekutu, dia turut berperan menjadi jurnalis pertama untuk Anadolu Agency, surat kabar resmi pemerintah Turki yang baru lahir. Dia menjadi rekan bagi dua pendiri Anadolu Agency, novelis terkenal Halide Edip (Adivar) dan jurnalis terkenal Yunus Nadi (Abalioglu). Abdurrahman menulis berita di sebuah kantor kecil, mengetik cerita-cerita kekejaman masa perang, kemenangan dan kekalahan dan mengirimkannya, menurut memoar Yunus Nadi.

Di awal kelahiran Republik Turki, pada masa pemerintahan Mustafa Kemal Atatürk, tepatnya tahun 1921, dia ditunjuk sebagai duta besar Turki untuk Afghanistan.

 

Kematian tragis

Perjuangan Abdurrahman berakhir di Istanbul saat menjadi korban salah tembak pada 30 Juni tahun 1925. Target pembunuhan yang sebenarnya adalah Rauf Bay, seorang politisi Turki terkemuka yang kemudian hari menjadi perdana menteri Turki. Sayangnya, Abdurrahman sangat mirip dengan Rauf Bay.

Di Turki, nama Abdurrahman benar-benar mendapatkan tempat dan rasa hormat di hati rakyat. Dia telah membuktikan kesetiaannya kepada bangsa Turki hingga akhir hayatnya.

Temannya, Esad Fuad Togay membuat kuburannya yang saat ini masih dapat ditemukan di perkuburan Macka. Pada 2014 jalan menuju kuburnya diaspal. []

 

 

Leave a Response

error: Content is protected !!