Friday, December 13, 2019
rekomendasiSejarah

Pertempuran Manzikert, awal runtuhnya Bizantium di tangan bangsa Seljuk

TURKINESIA.NET – SEJARAH. Pertempuran Manzikert (atau dalam bahasa Turki disebut Malazgirt) yang terjadi pada 26 Agustus 1071 di di Propinsi Muş, Turki, merupakan sebuah peristiwa bersejarah di mana bangsa Seljuk Turki yang dipimpin oleh Sultan Alp Arsalan mengalahkan pasukan Bizantium dan membuka ‘gerbang Anatolia’ untuk bangsa Turki.

Pada saat itu, Seljuk memerintah sebuah kerajaan Muslim Sunni Turko-Persia yang didirikan oleh Tughril Beg pada tahun 1037. Seljuk menguasai wilayah yang luas yang membentang dari Kush Hindu ke Anatolia timur dan dari Asia Tengah ke Teluk Arab.

Sebab terjadinya pertempuran

Saat berada di daerah Van, tepi danau sebelah timur Turki tanggal 26 Dzulqaidah 464 H (Agustus 1071 M), Sultan Alp Arsalan mendapatkan informasi bahwa Kaisar Bizantium, Romanus Diagenes IV sedang menyiapkan bala tentara besar untuk menjajah Azerbaijan dan daerah-daerah Islam di Asia Kecil.

Kaisar Romanus berangkat bersama pasukan Romawi, Georgia (Azerbaijan) dan Perancis. Jumlah dan persenjataannya sangat kuat dengan 200.000 pasukan terlatih. Sultan pun menggalang 20.000 pasukan Muslimin untuk mencegah kedatangan pasukan musuh.

Sultan Arsalan sempat gentar saat melihat jumlah pasukan musuh. Namun seorang ulama bernama Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik al Bukhari menasihati sultan; “Sesungguhnya engkau berperang dalam membela agama yang Allah janjikan untuk menolongnya dan akan Allah menangkan atas semua agama. Saya berharap Allah telah menuliskan kemenangan ini atas namamu. Maka hadapilah mereka di jam-jam saat para khatib Juma’at sedang berdoa di atas mimbar, sebab mereka berdoa untuk kemenangan kaum mujahidin.”

Saat pelaksanaan Jumat, Sultan menjadi imam shalat. Ia menangis yang diikuti isak tangis mujahidin. Ia lalu berdoa dan diaminkan oleh seluruh pasukan. Kemudian ia menyampaikan pidato dengan tampil dalam jubah putih, seperti dalam sebuah kain kafan pemakaman Islam. Arsalan memberikan semangat serta menyatakan bahwa ia siap mati dalam pertempuran.

Sultan Arsalan berkata lantang, “Siapa yang ingin meninggalkan tempat ini, maka tinggalkanlah. Sebab di sini, tidak ada seorang sultan yang menyuruh dan melarang.”

‘Aku berjuang karena hanya mengharapkan pahala dari Allah SWT dan dengan penuh kesabaran. Kalau seandainya aku menang, maka itu adalah merupakan suatu nikmat dari Allah, seandainya aku mati syahid, maka putraku Malik Shah yang akan menggantikanku.”

“Jika saya terbunuh, maka inilah kafanku!”

Arsalan pertama kali mengusulkan syarat perdamaian. Tapi Romanos menolak tawaran tersebut dan kedua pasukan tersebut kemudian melakukan Pertempuran Manzikert.

Pada 26 Agustus (27 Dzul Qa’dah) pasukan Byzantium bersiap dalam formasi tempur dan bergerak menuju posisi Seljuk. Alp Arsalan pun menyiagakan pasukannya dalam bentuk bulan sabit.

Hujan panah berhasil diserap oleh lini tengah Byzantium, namun jebakan berupa tenda sultan yg dibiarkan tanpa penjagaan berhasil menarik perhatian Romanus sehingga kendalinya terhadap kedua lini sayap menjadi kendur. Padahal, kedua lini sayap Byzantiumlah yang mengalami kerugian tertinggi akibat hujan panah Seljuk. Berkali-kali pasukan Byzantium mengajak Seljuk untuk bertempur jarak dekat, namun tidak pernah diladeni dan tidak terpancing untuk itu. Menjelang sore, Romanus mengeluarkan perintah mundur namun lini cadangan yang seharusnya melindungi manuver mundur itu tidak melakukan tugasnya; Doukas, panglima Romawi yang dipercaya oleh Kaisar Romanus sengaja meninggalkan rivalnya di palagan dalam ancaman yang besar. Peluang yang ditunggu-tunggu Alp Arsalan dari pagi akhirnya tiba dan ia melepaskan seluruh pasukan yang selama ini bermanuver mundur untuk maju sekuat-kuatnya ke arah lini tengah yang tidak lagi memiliki perlindungan.

Lini sayap kanan Byzantium langsung hancur akibat serangan terarah pasukan Seljuk itu.

Sementara, lini sayap kiri dibawah Bryennios bertahan lebih lama namun mereka juga hancur, sehingga lini tengah Byzantium menjadi semakin terkepung. Kesatuan kawal Varangian juga setia melindungi Romanus walau mereka seperti pulau kecil dikelilingi samudera. Menjelang subuh keesokan harinya seluruh prajurit profesional tagmata Byzantium sudah gugur, sedikit sisa pasukan wajib militer dibawah Andronicus yang sudah tercabik berhasil lolos, dan Kaisar Romanus tertawan. Dan pada akhirnya, tentara Seljuk memenangkan perang.

Tertawannya Romanus

Sang Kaisar sendiri tertawan. Ketika Kaisar Romanus IV digiring ke tenda Alp Arslan ia tidak menyangka bahwa sosok yg penuh luka dan berdebu itu adalah kaisar Romawi Timur. Romanus ditampar tiga kali sambil ditanya;

“Jika aku menjadi tawananmu, apa yang akan kau lakukan terhadapku?”

“Pasti semua yang buruk-buruk.” Jawab Romanus.

“Lalu apa yang kuperbuat menurutmu?”

“Mungkin kau akan membunuhku dan kau giring aku di negerimu, atau mengampuniku dan mengambil tebusan dariku dan mengembalikan aku ke negeriku.”

“Tak ada yang aku inginkan kecuali mengambil tebusan darimu.” Jawab Sultan.

Alp Arslan memperlakukan Romanus dengan sangat baik dan kembali menawarkan klausul perdamaian yang sama dengan yang ia tawarkan sebelum pertempuran. Romanus ditawan selama satu pekan dimana ia diperbolehkan menyantap hidangan di meja sultan sambil merundingkan klausul perdamaian. Kota benteng Antioch, Edessa, Hieropolis, dan Manzikert diserahkan kepada Seljuk. Hampir seluruh wilayah tengah Anatolia tak disentuh padahal sudah tidak ada lagi kekuatan Byzantium yang mampu mempertahankannya.

Romanus menebus dirinya dengan harga yang sangat mahal, yakni 150.000 dinar (atau 637.500 gram emas. Sekitar Rp 255 milyar dengan asumsi 1 gram emas = Rp 400.000 rupiah). Lalu ia berdiri di hadapan Sultan dan memberi minum padanya.

Sultan memberinya bekal 1.000 dinar untuk pulang dan mengirim beberapa komandan pasukan untuk menjaga hingga selamat ke negerinya. Sultan sendiri mengantarnya sejauh 4 mil dengan sebuah pasukan yang membawa panji-panji bertuliskan ‘Laa ilaaha illALlah Muhammad Rasulullah.

Tidak lama setelah ia kembali ke singgasananya, Romanus mendapatkan kekaisarannya dalam ancaman bahaya internal. Ia telah merekrut ulang pasukan kekaisaran yang setia kepadanya namun 3 kali dikalahkan oleh Doukas yang mengkhianatinya di Manzikert. Ketika ia tertangkap oleh Doukas maka perlakuan yanv dideritanya adalah penyiksaan serta pembutaan kedua matanya secara kejam. Tidam lama kemudian ia wafat akibat infeksi dari penyiksaan pembutaan yang dialaminya.

Perpecahan internal di antara bangsa Romawi makin memperlemah kekaisaran tersebut. Dalam jangka waktu sepuluh tahun setelah pertempuran ini, kaum Turki Seljuk telah merebut kota Nicaea. Kota tersebut berada di tepi Selat Bosporus, di seberang Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium. Pertempuran ini dianggap merupakan awal dari melemahnya Kekaisaran Romawi Timur dan jatuhnya Anatolia pada Turki Saljuk.

Sumber; Hidayatullah, Wikipedia, Daily Sabah

Leave a Response

error: Content is protected !!