Wednesday, February 26, 2020
BeritaPolitik

Erdogan protes hak veto: “Nasib manusia tak bisa ditentukan oleh lima negara”

TURKINESIA.NET – WASHINGTON. Sistem dan institusi tata kelola global yang ada saat ini perlu direformasi secara signifikan. Hai itu guna memenuhi kebutuhan dunia saat ini yang menderita ketidakadilan global, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pidatonya di sesi ke 74 Majelis Umum PBB di New York, Selasa [24/09].

Erdogan menekankan bahwa dunia sedang berjuang melawan ketidakadilan dan ketidaksetaraan global. Ia lalu mengutip ucapan penyair Rumi yang mengatakan bahwa keadilan berarti bagian yang sama dari hak dan tanggung jawab.

Erdogan menyoroti sejumlah masalah yang mengancam perdamaian dan keamanan global bagi orang-orang di berbagai belahan dunia.

Erdogan mengkritik kekuatan global karena gagal mengambil tindakan untuk menangani krisis.

“Komunitas internasional kehilangan kemampuan untuk menemukan solusi jangka panjang terhadap tantangan seperti terorisme, kelaparan, kesengsaraan, perubahan iklim,” kata Erdogan.

“Tidak dapat diterima bahwa satu bagian dunia hidup dalam kemewahan dan menikmati manfaat kemakmuran sementara orang-orang di bagian lain menderita kemiskinan, kesengsaraan, dan buta huruf,” kata Erdogan.

Erdogan mengingatkan para pemimpin dunia yang berkumpul bahwa tatanan global yang ada dibangun untuk menerapkan keadilan di dunia setelah tragedi Perang Dunia II. Presiden menekankan bahwa status quo [negara pemilik hak veto] telah kehilangan kapasitasnya untuk menyelesaikan masalah-masalah global seperti terorisme, kelaparan, kesengsaraan, dan perubahan iklim.

“Kita tidak dapat berpaling dari kenyataan bahwa kita semua tidak aman, tidak ada dari kita yang akan aman. Selama bertahun-tahun, saya telah mengatakan dari mimbar ini bahwa kita tidak dapat meninggalkan nasib manusia pada kebijaksanaan segelintir negara,” tambahnya.

Tak lama kemudian, Erdogan mengulangi ungkapannya yang terkenal, “Dunia lebih besar dari lima,” yang mengacu pada lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yaitu Cina, Prancis, Rusia, Inggris dan AS, yang memegang kekuasaan veto di lembaga PBB.

Erdoğan sekali lagi meminta PBB untuk mengubah status quo demi tatanan global yang adil.

Dia juga menyinggung soal kepemilikan senjata nuklir. “Negara-negara yang memiliki senjata nuklir menggunakannya sebagai pengungkit di saat krisis” kata Erdogan.

Erdogan lalu mengusulkan, nuklir harus diizinkan atau dilarang untuk semua negara.

“Kita tidak bisa tetap diam tentang masalah-masalah global ini,” menambahkan bahwa reformasi PBB secara radikal harus segera dilakukan.

Struktur Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa saat ini telah lama dikritik oleh beberapa pemimpin dunia. Mereka menekankan bahwa nasib dunia tidak dapat bergantung hanya pada lima negara anggota Dewan Keamanan yang memiliki hak veto.

Para pemimpin di KTT itu juga mendesak agar reformasi signifikan harus dilakukan untuk membuat lembaga internasional tersebut lebih efektif dalam menyelesaikan krisis dunia.

Presiden Erdogan sering mengkritik PBB, mengatakan bahwa struktur organisasi itu saat ini adalah hambatan untuk menyelesaikan masalah yang sedang berlangsung di seluruh dunia. Presiden mengkritik fakta bahwa pemilik veto dapat memblokir keputusan penting internasional mengenai berbagai masalah rumit, oleh sebab itu menurut Erdogan, PBB perlu direformasi secara signifikan. Erdogan mengusulkan jumlah anggota yang duduk di Dewan Keamanan PBB harus ditingkatkan menjadi sekitar 20. [Daily Sabah]

Leave a Response

error: Content is protected !!