Senin, Januari 17, 2022
InternasionalTimur Tengah

Pengamat: Operasi Turki akan mengisi kekosongan di utara Suriah

TURKINESIA.NET  – ANKARA. Operasi militer yang diluncurkan oleh Turki minggu ini di timur laut Suriah mengisi kekosongan akibat penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari wilayah Suriah utara, kata pengamat politik.

Menyoroti dukungan Washington terhadap organisasi teroris PKK/PYD-YPG, seorang pakar politik luar negeri dari India pada Kamis menggarisbawahi bahwa mendukung teroris dengan kedok memerangi Daesh tidak dapat diterima.

“Tidak ada yang bisa menempati posisi Turki saat ini,” kata Shastri Ramachandaran, yang menulis tentang masalah kebijakan luar negeri untuk India dan mengikuti masalah di Timur Tengah.

Turki pada Rabu meluncurkan Operasi Mata Air Perdamaian di sebelah timur Sungai Eufrat, Suriah utara untuk mengamankan perbatasannya dengan menghilangkan unsur-unsur teroris.

Tujuan lain Turki adalah memastikan kembalinya pengungsi Suriah ke kampung halamannya secara aman serta melindungi integritas teritorial Suriah.

“Pasca-keputusan AS menarik diri dari Suriah, Turki tidak punya pilihan selain mengisi kekosongan dari perkembangan ini,” kata Ramachandaran dari New Delhi kepada Anadolu Agency.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Rabu bahwa otoritas AS telah memindahkan 50 tentaranya dari kawasan Suriah yang kini sedang diupayakan oleh Turki untuk dibersihkan dari kelompok teroris, termasuk PKK/PYD-YPG.

“Pertempuran antara berbagai pihak telah berlangsung selama ratusan tahun. AS seharusnya tidak pernah berada di Timur Tengah,” kata Trump lewat Twitter sembari menginformasikan bahwa 50 tentara AS telah dipindahkan.

Kebijakan ‘lepas tangan’ Trump

Pakar senior Timur Tengah dan jurnalis India Saeed Naqvi mengatakan bahwa Presiden Trump telah “menyerahkan permainan itu”.

“Dia [Trump] ingin Turki, Rusia, dan Iran masuk ke [Suriah],” kata Naqvi kepada Anadolu Agency.

“Ini hanyalah kebijakan lepas tangan. Trump bertanya: ‘Haruskah [memerangi teroris] [hanya] menjadi tanggung jawab saya?” ungkap Naqvi.

Mantan diplomat Pakistan Shamshad Ahmad Khan menggarisbawahi bahwa Turki memiliki hak untuk memastikan integritas teritorialnya.

“Turki, teman sejati Pakistan, harus mengambil langkah ini dengan berkonsultasi dengan negara-negara sahabat,” tutur Khan.

“Sebagai warga Pakistan, kami menunjukkan rasa solidaritas total dengan Turki dan rakyatnya,” kata dia mengisyaratkan pada Operasi Mata Air Perdamaian Turki.

Baca juga  Perusahaan telekomunikasi dan bank swasta terbesar Turki alami serangan cyber

Penulis sekaligus jurnalis Kallol Bhattacharjee mendukung argumen Ramachandran itu.

“Kekosongan kekuasaan tak pernah dibiarkan bertahan dalam urusan internasional, dan peluncuran operasi terhadap PKK segera setelah presiden AS mengumumkan penarikan unsur AS dari wilayah tersebut adalah tanda kebenaran abadi itu,” tutur Bhattacharjee dari harian The Hindu di New Delhi kepada Anadolu Agency.

“Operasi [mata Air Perdamaian] adalah aksi militer yang paling menentukan medan perang Suriah selama beberapa tahun terakhir,” lanjut dia.

Cukup jelas, terang Bhattacharjee, bahwa AS, Iran dan kekuatan regional lainnya telah memberikan dukungan secara diam-diam pada operasi [terhadap PKK] ini untuk mengamankan kepentingan jangka panjang Turki.

Mencegah Balkanisasi Suriah

Mian Abrar penulis isu-isu terorisme di Asia Selatan dari Pakistan meyakini Operasi Mata Air Perdamaian akan membersihkan sisa-sisa kantong pakaian teroris seperti Daesh dan PKK.

“Ini adalah langkah bijaksana yang akan menggagalkan upaya pembentukkan Balkanisasi Suriah serta membantu mengembalikan kedaulatan Suriah,” sebut Abrar.

Dia menduga Barat berupaya mendirikan negara baru yang terdiri dari tanah Irak, Suriah dan Turki.

Abrar berpendapat bahwa Ankara telah belajar dari pengalaman Pakistan, yang sangat mengalami kesusahan setelah perang Afghanistan.

“Pakistan menghadapi masa-masa sulit karena efek samping dari terorisme dan operasi [Turki] ini sudah dekat,” katanya.

Dia menambahkan bahwa Operasi Mata Air Perdamaian akan menciptakan pemandangan baru untuk aliansi regional antara Turki, Rusia, Iran, Pakistan, China dan negara-negara Asia Tengah melawan unsur terorisme, terutama Daesh, PKK dan Taliban.

Perang melawan Daesh

Ramachandaran mengatakan Turki telah lama menjadi korban dari kelompok teror.

Menurutnya operasi yang digelar Turki sesuai dengan hak yang dimilikinya untuk membela diri sejalan dengan hukum internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB.

“Setidaknya 300 orang tewas akibat serangan yang diklaim Daesh di Turki; di antaranya bom bunuh diri, serangan bersenjata dan penembakan warga sipil, ”ungkap dia.

Baca juga  Usai mencoblos, Erdogan memuji tingginya partisipasi rakyat dalam Pemilu

Dia mengatakan peperangan Turki melawan kelompok teroris seperti PKK, YPG dan Daesh bukanlah sebuah hal yang baru atau baru dimulai.

“PKK,YPG bertanggung jawab dalam insiden pembunuhan 40 ribu orang, di antaranya wanita dan anak-anak [di dalam Turki].”

“Perjuangan Turki [saat ini] adalah bagian dari pertempuran 30 tahun melawan kelompok teroris ini,” tukas dia.

Semua mata tertuju pada Turki

Para pengamat berpendapat dunia sedang menyaksikan operasi Turki di Suriah dan operasi tersebut perlu dilakukan secara berhati-hati terkait hak asasi manusia warga sipil.

“Pasukan Turki harus berhati-hati dalam operasi mereka itu agar warga sipil tidak terbunuh atau terluka, serta korban sipil tidak berjatuhan atau menyebabkan kerusakan yang mengiringi,” kata Ramachandaran.

Bhattacharjee khawatir operasi itu dapat menyebabkan sejumlah warga sipil tergusur.

“Negara-negara kawasan harus bersiap-siap untuk membantu warga sipil melepaskan krisis kemanusiaan besar,” tutur dia.

Menurut pernyataan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Turki menampung pengungsi Suriah dengan jumlah terbesar di dunia yaitu sekitar 3,5 juta orang sejak perang di Suriah dimulai pada 2011.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Kamis mengatakan tujuan negaranya adalah untuk memastikan semua orang bisa kembali lagi ke rumahnya setelah Operasi Mata Air Perdamaian membersihkan Suriah utara dari teroris.

“Kami tak terima siapa pun dirugikan oleh Operasi Mata Air Perdamaian, terutama warga sipil,” kata Erdogan.

Operasi Mata Air Perdamaian

Turki meluncurkan Operasi Mata Air Perdamaian pada Rabu untuk mengamankan perbatasannya dengan menghilangkan unsur-unsur teroris guna memastikan kembalinya pengungsi Suriah dengan aman dan integritas wilayah Suriah.

Menurut Turki, kelompok teroris PKK dan cabangnya YPG/PYD merupakan ancaman terbesar bagi masa depan Suriah, yang membahayakan integritas teritorial dan struktur kesatuan negara.

Ankara juga menekankan bahwa mendukung teroris dengan dalih memerangi Daesh/ISIS tidak dapat diterima.

Turki berbagi perbatasan sepanjang 911 kilometer dengan Suriah dan telah lama mengecam ancaman dari teroris di timur Sungai Eufrat dan pembentukan koridor teroris di sana.

Turki berencana untuk memukimkan kembali 2 juta warga Suriah di zona aman selebar 30 kilometer yang akan didirikan di Suriah, membentang dari Sungai Eufrat ke perbatasan Irak, termasuk Manbij.

Baca juga  Turki latih polisi Qatar untuk persiapan Piala Dunia 2022

Namun, kehadiran kelompok teroris seperti PKK, PYD dan YPG mengancam keamanan zona tersebut.

Turki telah membersihkan area seluas 4.000 kilometer persegi di Suriah dari kelompok-kelompok teroris dalam dua operasi lintas-perbatasan.

Sejak 2016, Turki telah melakukan dua operasi militer besar di Suriah barat laut – Operas Perisai Eufrat dan Ranting Zaitun – untuk membersihkan wilayah dari kelompok teroris Daesh dan YPG.

Kedua operasi itu sejalan dengan hak negara untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB, resolusi Dewan Keamanan PBB no. 1624 (2005), 2170 (2014) dan 2178 (2014), sembari tetap menghormati integritas teritorial Suriah.

Selama Operasi Perisai Eufrat, pasukan Turki telah melumpuhkan 3.060 teroris Daesh.

Sementara itu, lebih dari 300 orang tewas dalam serangan yang diklaim oleh Daesh di Turki, di mana kelompok teroris itu menargetkan warga sipil dalam bom bunuh diri dan serangan bersenjata dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa – bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak dan bayi.

Sumber: Anadolu Agency Indonesia

votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x