Selasa, Oktober 19, 2021
Timur Tengah

Protes serangan atas Idlib, konsulat Rusia di Istanbul didemo

TURKINESIA.NET – ISTANBUL. Ratusan demonstran Turki dan Suriah mengadakan aksi protes di Istanbul terhadap pemboman intensif Rusia dan rezim di Idlib, Sabtu [28/12].

Idlib merupakan wilayah yang seharusnya menjadi zona de-eskalasi di Suriah.

Sekitar 300 pengunjuk rasa – sebagian besar warga Suriah yang tinggal di Turki – berkumpul dekat konsulat Rusia di Istanbul, berteriak, “Putin pembunuh, keluar dari Suriah!” merujuk pada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Para pengunjuk rasa di Istanbul, termasuk wanita dengan anak-anak mereka, memegang foto-foto korban serangan, sementara beberapa mengacungkan spanduk bertuliskan: “Rusia membunuh rakyat dan anak-anak kami dan dunia tidak melakukan apa-apa.”

“Apa yang diinginkan Rusia dari kami? Anak-anak, para istri sekarat. Orang-orang sekarat,” kata demonstran Suriah Ahmed Marwan, 24, kepada AFP.

“Kami bukan teroris, kami adalah manusia. Kami datang ke negara ini untuk hidup. Meninggalkan tanah airmu tidak mudah tetapi kami hidup dalam kesakitan ini. Sudah cukup.”

“Kami di sini untuk memprotes pembantaian ini yang terjadi di Suriah,” kata pemrotes Turki, Gülden Sönmez.

“Di sini, saya juga ingin melakukan panggilan ini ke Rusia, dan terutama Bashar al-Assad… siapa pun yang bertanggung jawab atas pembantaian ini, mereka semua harus diadili dan membayar kejahatan perang ini atas nama kemanusiaan,” dia menambahkan.

Polisi Turki memblokir kelompok itu dari berjalan menuju konsulat di Jalan Istiklal yang sibuk, tetapi sebaliknya membiarkan kelompok itu membentangkan spanduk bertuliskan: “Lebih dari 30.000 anak-anak dibunuh oleh Rusia dan rezim Assad.”

Sejak pertengahan Desember, pasukan rezim Assad dan sekutunya Rusia telah meningkatkan serangan ke zona de-eskalasi di tepi selatan Suriah.

Rezim Suriah dan Rusia terus-menerus melanggar perjanjian zona de-eskalasi.

Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan Vladimir Putin telah mencapai kesepakatan di Sochi pada 17 September 2018 mengenai gencatan senjata di wilayah Idlib harus terus dijaga dengan penarikan senjata berat dan radikal dari wilayah tersebut.

Terlepas dari kesepakatan Sochi, rezim yang didukung oleh Moskow, mengintensifkan serangannya mulai 26 April dengan dalih memerangi teroris.

Kekerasan terbaru telah membuat lebih dari 235.000 orang terlantar dan menewaskan puluhan warga sipil, meskipun ada kesepakatan gencatan senjata pada Agustus dan seruan internasional untuk de-eskalasi.

Turki adalah rtempat tinggal bagi sekitar lima juta pengungsi, di antaranya 3,7 juta adalah warga Suriah.

Rezim Assad yang sekarang mengendalikan 70% dari Suriah, telah berulang kali bersumpah untuk mengambil kembali wilayah Idlib yang menampung sekitar tiga juta orang, termasuk banyak pengungsi dari daerah lain.

Khawatir dengan gelombang baru pengungsi di dekat perbatasannya, Turki minggu ini mengirim delegasi ke Moskow dalam upaya untuk mendesak kesepakatan gencatan senjata baru.

Erdogan telah memperingatkan Eropa bahwa Turki tidak bisa menangani gelombang baru pengungsi Suriah yang melarikan diri akibat meningkatnya pemboman di Idlib.

Sumber: Daily Sabah

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x