Sunday, January 19, 2020
Tokoh

Hakan Fidan : Loyalitas penjaga rahasia Erdogan

Turkinesia.net – Sosok pendiam. Bekerja dalam senyap. Tidak heran banyak pihak menjulukinya “penguasa bayangan” di Turki.

Diyakini sebagai orang nomor dua terkuat di Turki setelah Erdogan. Kesetiaannya kepada Erdogan dan negara sudah berulang kali teruji.

Salah satu tokoh kunci dibalik kegagalan kudeta 15 Juli 2016. Dia mampu membongkar usaha kudeta beberapa jam sebelum kudeta terjadi.

Dialah Hakan Fidan, Kepala Organisasi Intelijen Nasional (Turki: Milli İstihbarat Teşkilatı, MİT).

 

Hubungannya dengan Erdogan

Mengenai kedekatan Hakan Fidan dengan Erdogan, pada 2012 Erdogan pernah mengatakan “Dia adalah penjaga rahasia saya, dia adalah penjaga rahasia negara,” Erdogan menggambarkan Fidan sebagai “birokrat yang sangat terlatih”.

‘Aku mengirimnya’ ucap Erdogan saat keikutsertaan Fidan dalam pembicaraan damai dengan tokoh-tokoh senior pemberontak Partai Pekerja Kurdistan terungkap ke publik, di Oslo tahun 2009.  Itu terungkap pada 2011 ketika rekaman rahasia bocor ke media. Rekaman tersebut mengungkapkan negosiasi Turki dengan para pemberontak PKK.

Setelah perundingan gagal, pemerintah Erdogan mendelegasikan Fidan untuk bernegosiasi dengan kepala PKK Abdullah Ocalan yang dipenjara. Ocalan menjalani hukuman seumur hidup di pulau penjara Imrali di Laut Marmara.

Erdogan secara terbuka menyuarakan dukungan untuk sekutunya, menyatakan: “saya yang mengirimnya ke Oslo dan ke Imrali.”

Pada 2012, parlemen Turki mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan otorisasi Perdana Menteri untuk menginterogasi kepala intelijen negara itu, secara efektif melindungi Fidan dari penuntutan.

 

Tokoh kunci kegagalan upaya kudeta 15 Juli 2016

Hakan Fidan orang pertama yang mencium niat jahat sejumlah tokoh militer yang telah merencanakan kudeta. Dia memutuskan mengadakan pertemuan dengan sejumlah pemimpin senior militer pada pukul 3 sore untuk mengambil prosedur yang dibutuhkan. Setelah itu, instruksi dikeluarkan: tidak boleh ada penerbangan militer yang dipindahkan dari posisi mereka.

Instruksi tersebut segera membuat pemimpin kudeta menyadari bahwa rencana dan kedok mereka terbongkar. Pelaku kudeta akhirnya merubah rencana, mereka beraksi lebih awal dari target yang seharusnya Sabtu pukul 03.00 menjadi Jumat pukul 21.00.

Fidan kemudian menghubungi Erdogan yang sedang liburan resmi di sebuah resort pantai di kota Marmaris. “Terjadi kudeta, tuan Presiden! Kami akan bertempur dengan mereka hingga mati! Anda bergabunglah bersama rakyat, nyatakan keadaan darurat sekarang juga!” kata Fidan kepada Erdogan.

Fidan juga meminta Erdogan segera meninggalkan lokasi liburannya dan berusaha dengan segala cara agar bisa berkomunikasi dengan rakyat untuk menginstruksikan melawan upaya kudeta.

Benar saja, tak berselang lama setelah Erdogan meninggalkan hotelnya, gerombolan pasukan kudeta datang menyerbu tempat tersebut.

Melalui aplikasi Facetime, Erdogan berhasil menghubungi seorang presenter televise CNNTurk. Erdogan menyerukan kepada rakyat untuk turun ke jalan. Rakyat merespon begitu cepat. Gelombang massa tumpah ruah ke jalanan membuat makar para pelaku kudeta menjadi gagal.

Setelah upaya kudeta gagal, Erdogan memberi kepercayaan penuh kepada Hakan Fidan untuk melakukan sapu bersih setiap orang yang terlibat upaya kudeta.

Baru-baru ini, MIT yang dipimpin Fidan berhasil memburu dan meringkus beberapa anggota teroris pelaku kudeta yang lari ke Kosovo dan membawa pulang ke Turki.

Sangat dibenci oleh Israel

Fidan dipandang sebagai sosok yang tidak ramah oleh Israel. Hubungan Israel dengan Turki menukik tajam pada musim semi tahun 2010 setelah pasukan komando Israel melakukan operasi mematikan untuk menyerbu armada bantuan Gaza. Delapan warga Turki tewas dalam serangan itu.

Sebuah laporan media AS pada tahun 2013 juga menuduh Fidan membongkar sebuah jaringan intelijen Israel yang beroperasi di Turki. Akibat pembongkaran ini, sekitar 10 orang warga Iran yang melakukan pertemuan dengan agen Mossad di Turki, kemudian ditangkap pemerintah Iran. Pembocoran informasi ini mengakibatkan kerugian “signifikan” bagi intelijen Israel.

 

Kehidupan Pribadi, pendidikan dan karir

Pria kelahiran Ankara tahun 1968 ini, detail tentang kehidupannya sebagian besar bersifat rahasia, dengan hanya sedikit biografi yang diterbitkan di situs web MIT. Dia digambarkan sebagai orang biasa.

Ia memulai pendidikan tinggi di Akademi Angkatan Darat Turki dan lulus pada tahun 1986.

Ia bertugas di angkatan bersenjata Turki sebagai perwira non-komisioner dari 1986 hingga 2001 dan bekerja di Korps Reaksi Cepat Sekutu yang berbasis di Jerman.

Dia juga pernah menjabat sebagai kepala Badan Pengembangan dan Kerjasama Turki dari tahun 2003 hingga 2007.

Pada bulan November 2007 ia diangkat sebagai wakil menteri di Kementerian.

Dari 27 Mei 2010 hingga Februari 2015, Erdogan menunjuknya sebagai wakil menteri (yaitu kepala) dari Organisasi Intelijen Nasional (Turki: Milli İstihbarat Teşkilatı, MİT).

Ia kemudian melakukan reformasi besar dalam tubuh intelijen Turki dengan menggabungkan semua lembaga intelijen di Turki, yaitu intelijen militer, intelijen luar negeri, dan intelijen dalam negeri menjadi satu wadah; Lembaga Intelijen Nasional.

Pada 7 Februari 2015, ia mengundurkan diri dari posisinya untuk mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Nasional Agung Turki dari AK Parti.

Menyangkut niat pengunduran diri dari MIT untuk mencalonkan diri di parlemen, dalam sebuah wawancara televisi, Wakil Perdana Menteri Bulent Arinc mengatakan kepada CNNTURK:

“Secara pribadi, saya pikir melihat seseorang yang ditugaskan tugas Superman memasuki parlemen (untuk menjadi anggota parlemen) adalah pemborosan. Dia melakukan pekerjaan setara dengan 50 anggota parlemen lakukan. Saya pikir tugas ini (intelijen) terlalu penting. Dia seharusnya menyimpannya,” katanya.

Satu bulan kemudian, pada 9 Maret 2015, ia menarik kembali pencalonannya dan beberapa jam kemudian diangkat kembali ke pekerjaan sebelumnya oleh Pemerintah.

Ayah tiga anak yang sudah menikah memiliki gelar sarjana dalam ilmu politik dan pemerintahan dari Universitas Maryland University College di Amerika Serikat. Pada 1999, ia meraih gelar master jurusan Hubungan Internasional Universitas Bilkent Ankara. Tesis masternya berjudul “Studi Banding antara Sistem Intelijen Turki, Inggris, dan Amerika Serikat”.

Dia pernah memimpin sebuah badan publik untuk pengembangan yang dikenal sebagai TIKA, yang aktif di berbagai wilayah Turki, Afrika dan juga di negara-negara Muslim lainnya di mana Turki telah berusaha untuk mendapatkan pijakan sebagai bagian dari strategi untuk menjadi kekuatan regional.

Sebelum ditunjuk untuk memimpin MIT, Fidan bekerja di kantor Erdogan sebagai wakil menteri dan juga dikenal telah bekerja sangat akrab dengan Perdana Menteri Ahmet Davutoglu. []

Leave a Response

error: Content is protected !!