Sunday, January 19, 2020
Tahukah Anda?

Ingin ke Turki? Ini hal-hal yang wajib kamu tahu!

Oleh: Nia Deliana*

TURKINESIA.NET – Ingat pribahasa dimana bumi diinjak di situ langit dijunjung? Nah untuk bisa hidup tentram di Turki, mengikuti pribahasa ini adalah salah satu obatnya.

Jika kamu turis yang datang hanya untuk satu minggu barangkali lebih aman kalau ada seorang penerjemah. Nah, jika kamu datang sebagai pelajar, gelin (suami/istrimu orang Turki), atau bekerja, maka mampu berbahasa Turki adalah kunci ampuh. Meskipun begitu, komunikasi pakai bahasa tubuh oke aja. Yang penting, smile.

Pemerintah Turki sejak puluhan tahun lalu mewajibkan orang asing yang datang ke negaranya untuk belajar bahasa Turki. Tomer adalah institusi pendidikan khusus pemerintah yang menyediakan kursus bahasa Turki secara extensif. Tomer tersebar diseluruh provinsi.  Kebijakan seperti ini efektif sekali karena fasilitas publik di Turki hanya mengenal bahasa tanah airnya. Bahasa Inggris yang menjadi lingua Franca duniapun terbilang ‘asing’ di Turki. Jika kamu sakit dan harus berurusan dengan rumah sakit, mampu berbahasa Turki penting sekali. Atau pastikan punya penerjemah yang mendampingi. Begitu juga jika berurusan dengan kepolisian. Imigrasi? Nah, jangan khawatir, disini petugas-petugasnya bisa bahasa Inggris. Jika petugas di sana menolak berbahasa Inggris, hanya ada dua alasan. Pertama, ia masih dalam posisi training; kedua, ia tidak tahu bahwa ada dunia lain selain Turki. Canda, bro!

Selain soal bahasa, orang Indonesia yang ingin mengunjungi Turki perlu tahu etika sosial selama berada di Turki. Etika-etika yang tertulis di bawah ini barangkali tak akan kamu temui diajarkan secara khusus di sekolah-sekolah di Indonesia, melainkan hanya lewat sosialisasi langsung dengan masyarakat Turki. Aturan-aturan tersebut saya tuliskan dibawah ini satu persatu ya.

Pertama, saat bertamu

Bertamu ke rumah orang Turki tidak bisa terjadi tanpa undangan dari yang punya rumah. Meskipun kamu ingin sekali mengunjungi teman Turkimu, lebih baik tunggu undangannya, karena jika tidak, ini akan menjadi Ayip (aib). Jika yang punya rumah mengundangmu, maka bawa dirimu sendiri, bukan datang dengan teman-temanmu yang tidak ia undang itu.

Saat bertamu, kebiasaan orang Turki adalah senyuman, teh panas, makan, dan nyambung secara positif saat berbincang. Saat itu pastikan untuk melakukan beberapa hal dibawah ini;

  1. Jangan pernah melepas kaus kaki di dalam rumah. Ini disebabkan oleh karakter orang Turki yang risih dengan keringat dari kaki (atau sumber bakteri kaki lainnya) menempel di lantai yang selalunya super bersih.
  2. Kecilkan peluang untuk memakai kamar mandi kecuali jika menginap lebih dari dua hari.
  3. Pastikan saat minum teh yang selalunya panas betul, bunyi seruput dari mulut kamu tidak kedengaran.
  4. Hindari makan makanan basah dengan tangan. Selalu pakai garpu, sendok, dan pisau tanpa berdentingan dengan piring berulang ulang.
  5. Saat makan, upayakan untuk membangun percakapan. Percakapan terus menerus atau ‘cukup’, tergantung dari selera tuan rumah. Nah, untuk poin ini kamu harus pandai membaca raut wajah si tuan rumah.
  6. Selalu tawarkan bantuan selama jamuan.
  7. Tidak meminta apa yang tidak disediakan tuan rumah.

Jika kamu mengundang temanmu ke rumah, pastikan rumahmu;

  1. Tidak bau makanan atau bau-bau lainnya yang meny Bau menyengat, wangi atau tidak, akan membuat mereka tidak nyaman.
  2. Rumah dalam keadaan  bersih.
  3. Layani sebagaimana mereka melayani tamu-tamunya.
  4. Pastikan tidak ada jemuran pakaian di jendela atau balkon (apartemen). Ada tamu atau tidak, bukan kebiasaan yang baik di Turki untuk cucian terlihat bergelantungan di balkon.

 

Kedua, saat di area publik

Saat kamu jalan-jalan di luar kediamanmu, berbelanja ke pasar, supermarket, ke taman bermain dan rekreasi, akan ada banyak hal berbeda yang akan kamu temui. Nah, agar terhindar dari ‘bully’ tanpa sengaja, perhatikan beberapa hal berikut;

  1. Jika bertemu dengan orang yang kamu kenal tapi bukan teman dekat, sapaan ringan wajib. Sapaan ini berupa “Merhaba. Nasilsiniz? (Halo, apa kabar?). Ia akan balas menyapamu dengan kata yang sama. Jika ia sedang bekerja, ucapkan “Kolay gelsin” (Semoga ‘pekerjaanmu’ mudah). Jika ia hanya terlihat berjalan kaki, maka cukup ucapkan “Iyi Gunler (semoga harimu baik)”. Dua sapaan terakhir ini diucapkan saat hendak berpisah. Sapaan-sapaan dasar seperti ini adalah etika dasar sosial di Turki.
  2. Tidak menatap langsung orang Turki yang tidak kamu kenal lebih dari beberapa detik, terlebih saat mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang asing di negerimu seperti, intimasi publik, perempuan perokok (muslimah atau bukan), peminum, pasangan cek-cok, orang cacat, dan hal-hal lain yang tatapan menimbulkan ketidaknyamanan bagi mereka. Jauhi juga menatap orang-orang dalam bus atau metro.
  3. Ketika bermain di taman bermain atau menggunakan fasilitas publik yang lain, pastikan kamu atau anakmu mengikuti antrian dan tidak merusak fasilitas publik
  4. Tingkatkan perhatian saat menyebrangi jalan. Pengendara mobil dan motor di Turki terkenal cepat, meskipun di jalanan sempit dan ramai pejalan kaki.  Meskipun banyak yang toleran, pengemudi yang sebaliknya muncul tanpa bisa diprediksi.

 

Ketiga, saat di Masjid

Saat berada dalam aktifitas ibadah, penting sekali untuk tidak menghakimi. Jika kamu harus bertanya maka upayakan pertanyaanmu netral.

Beberapa perbedaan yang barangkali akan kamu temui adalah:

  1. Hampir setiap masjid di Turki punya satu bagian lokasi bagi perempuan tapi belum tentu selalu punya kamar wudhu dan toilet bagi perempuan.
  2. Jangan heran jika melihat rak-rak sepatu di dalam masjid. Ini diadakan untuk keselamatan sepatu sepatu dari incaran tangan-tangan yang tak bertanggungjawab. Sebagian masjid menyediakan kantung plastik untuk menyimpan sepatumu ketika sh
  3. Masyarakat Turki mayoritasnya bermazhab Hanafi. Sembahyang sunat setelah dan sebelum shalat wajib itu sudah bagaikan keharusan yang dilakukan.
  4. Masyarakat Turki, terutama perempuan tidak berwudhu 5 kali sehari. Terkadang dua hingga tiga kali saja bergantung pada kondisi yang tidak membatalkan wudhu. Bagi penganut mazhab Hanafi, makan setelah wudhu tidak membatalkan. Mereka boleh langsung menunaikan shalat setelah berkumur membersihkan sisa-sisa makanan.
  5. Tidak membaca Alquran dan bershalawat dengan suara keras.

Keempat, saat menyapa dan berbicara

  1. Jika orang yang kamu temui bukan teman dekatmu, maka sapaan ringan wajib. Jika kemudian ingin bercakap cakap maka bataskan pada hal penting sahaja yang terkait dengan kamu dan dia. Jika tidak ada, perpisahan secara sopan lebih disukai. Intinya, orang Turki tidak suka buang waktu untuk berbicara hal-hal sederhana yang tak relevan.
  2. Saat berbicara, kontak mata dengan lawan bicara penting, dibarengi dengan kesigapan tubuh dan senyuman. Respon yang baik lebih dihargai.

Keenam, saat di restoran

  1. Bagi Muslim, restoran-restoran yang bertuliskan Ocakbasi, Mehane, Pub, atau bertandakan papan biru terbaca Tekel, tidak dianjurkan untuk masuk. Karena ini berarti restoran tersebut menjual dan menggunakan bahan-bahan tak halal dalam makanan dan minumannya.
  2. Pemesanan makanan dilakukan tanpa membiarkan pelayan menunggu lama. Oleh karena itu pilih dan negosiasikan dulu kemudian baru memanggil pelayan.
  3. Saat berbincang selama makan, baik jika tidak menaikkan suara lebih dari yang bisa dijangkau pendengar.
  4. Saat berada direstoran dengan teman-teman, jangan heran jika melihat orang-orang Turki saling ribut di depan kasir. Tak seperti di Indonesia yang rebutan minta dibayarin, di Turki malah sebaliknya. Baik laki-laki maupun perempuan, rebutan ingin bayar duluan buat teman-teman adalah hal umum yang terjadi di restoran-restoran.
  5. Meskipun begitu, orang Turki tidak suka bicara soal uang antar sesamanya kecuali jika dalam keadaan genting.

Ketujuh, saat mengemudi

Kalau kamu pengemudi mobil, sudah pasti kamu harus mengikuti rambu rambu lalu lintas yang berlaku di negara itu. Hanya saja, orang Turki menyetir dengan cepat, terkadang di jalan sempit dan ramai sekalipun. Tentu ini persoalan. Meskipun begitu, perhatikan beberapa hal.

  1. Jangan heran juga jika kamu menyetir dengan lamban, terutama di jalan yang kosong, akan datang pengemudi lainnya yang mem-bully- Kasus-kasus pertikaian antara pengemudi sering terjadi di Turki.
  2. Jika kamu adalah penumpang, ketahui juga bahwa Supir bus dan mini bus di Turki betul-betul ahli speeding. Penumpang di dalam harus pegangan dengan kencang, apalagi dalam posisi berdiri. Meskipun begitu, ada banyak pengemudi bis umum yang memelankan kendaraannya bagi ibu-ibu dan anak-anak yang melintas. Untungnya lagi, meskipun speeding laju begitu, penumpang orang tua dan anak kecil hampir selalu kebagian tempat duduk meskipun penuh dan berdesakan. Anak remaja yang tidak sensitif siap-siap aja diceramahi orang tua langsung di tempat yang sama.

Hal kampungan lainnya!

Sandal dan sarung memang tradisi Indonesia, tapi dimaknai kampungan dan tidak beradab jika dipakai di kawasan-kawasan publik di Turki.

Makan dengan tangan juga tradisi masyarakat Indonesia namun ini juga asing bagi publik Turki. Kamu bisa-bisa dikira pengemis.

Jangan suka telat. Upayakan Tepat waktu. Membiarkan orang lain menunggumu lebih dari 5 menit saja sudah sangat tidak sopan.

Perempuan Muslimah di Turki tidak menyanyi dan menari di publik. Nyanyian dan menari itu aib. Bagi sebagian kelompok malah diharamkan. Ini juga berlaku buat kamu yang berjilbab dan sedang berada di Turki.

Jangan sembarangan selfi, terlebih dengan orang Turki. Biasakan minta izin dulu. Bagi sebagian orang Turki itu persoalan etika jurnalisme. Bagi yang lain itu persoalan keagamaan.

Saya kira ini saja etika sosial sepanjang pengalaman 3 tahun saya berada di Turki. Pastinya, ada beberapa hal lain yang belum tertulis di sini dan itu menjadi PR kita semua untuk berbagi dengan sesama pengunjung Indonesia.

Toleransi adalah salah satu  nilai yang tidak menyebar secara merata di Tuki. Tidak seperti orang Indonesia yang kerap mampu memahami kekurangan orang-orang asing saat melawat Indonesia, orang Turki lebih suka orang asing tahu terlebih dahulu budaya dan kebiasaanya daripada nantinya terjadi kesalahpahaman berat. Akhirnya, selamat menikmati Turki.

*Penulis merupakan ibu rumah tangga yang berdomisili di Turki

Leave a Response

error: Content is protected !!