Tuesday, March 31, 2020
Uncategorised

Fakta di balik tingginya angka perceraian di Turki

TURKINESIA.NET – ANKARA. MG, seorang perempuan berusia 43 tahun yang tinggal di Kota Izmir, Turki, berpisah dengan suaminya setelah menjalani pernikahan selama 11 tahun.

“Ketika saya mengetahui bahwa suami saya berselingkuh dengan perempuan lain, saya menegaskan kepadanya bahwa saya tidak ingin lagi tinggal bersamanya. Saya adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua anak,” tutur dia kepada Anadolu Agency.

Data menunjukkan bahwa semakin banyak orang di Turki yang memilih meninggalkan pasangannya ketimbang memaksakan diri untuk bertahan dalam pernikahan yang tak bahagia.

Menurut Badan Statistik Turki (TurkStat), tingkat perceraian di negara itu meningkat 10,9 persen dari 2017 hingga 2018, di mana sebanyak 142.448 pasangan bercerai.

Ozge Unal, seorang psikolog, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa perceraian sebagian besar dipicu oleh penggunaan media sosial, normalisasi konsep perceraian, dan ketidaksiapan menjadi orang tua.

TurkStat juga mengungkapkan bahwa perceraian kerap terjadi selama lima tahun pertama pernikahan.

Unal mengatakan ada tiga fase dalam hubungan pernikahan. Di fase pertama, pasangan masih berusaha saling mengenal satu sama lain.

Fase itu diikuti oleh periode di mana pasangan akan dihadapkan pada realita, karena masing-masing pihak mulai menunjukkan perilaku, perasaan, dan sikap aslinya.

Kemudian, di fase ketiga, pasangan yang dianugerahi anak akan menghadapi berbagai konflik yang tentunya tak lagi hanya melibatkan dua individu saja.

“Di tahap inilah banyak pasangan yang memilih untuk berpisah,” jelas psikolog itu.

Menurut dia, pengantin baru terkadang buru-buru memutuskan untuk punya anak demi memperbaiki hubungan mereka, padahal anak bukanlah solusi dalam sebuah pernikahan.

Gara-gara media sosial

Ozge Unal membenarkan bahwa berselingkuh adalah penyebab utama perceraian dan hal ini diperparah dengan penggunaan media sosial.

“Saat ini, berselingkuh lebih mudah karena berkenalan dengan seseorang di dunia maya pun mudah. Apalagi, berhubungan di jejaring sosial tidak memerlukan kontak fisik, sehingga mereka tak sadar sudah berselingkuh,” papar dia.

Unal juga mengatakan bahwa perselingkuhan menunjukkan ada yang kurang dalam hubungan pasangan.

“Perselingkuhan biasanya terjadi di pasangan dengan komunikasi yang buruk dan minim toleransi,” tambah psikolog tersebut.

TurkStat mengungkapkan angka perceraian di Turki paling banyak terjadi di Provinsi Izmir, yaitu 2,79 per seribu.

Sumber: Anadolu Agency Indonesia

Leave a Response

error: Content is protected !!