Monday, February 17, 2020
Timur Tengah

MHP: Turki harus ‘masuki Damaskus’ dan tinjau ulang hubungan dengan Rusia

TURKINESIA.NET – ANKARA. Seorang politisi senior Turki pada hari Selasa mengutuk rezim Assad dan serangan terhadap pasukan Turki serta meminta pemerintah untuk mempertimbangkan kembali hubungannya dengan Rusia yang merupakan sekutu utama rezim tersebut.

“[Suriah Bashar al-] Assad adalah pembunuh, kriminal, ilegal dan sumber perselisihan,” kata pemimpin Partai Gerakan Nasionalis (MHP) Devlet Bahceli kepada kelompok parlemen dari partainya.

“Jika perlu, negara Turki harus merencanakan untuk memasuki Damaskus,” kata Bahceli.

Pernyataan Bahceli disampaikan setelah lima tentara Turki gugur dan lima lainnya terluka dalam serangan pasukan rezim Assad di Idlib, Suriah barat laut pada Senin. Serangan itu menyusul serangan serupa pekan lalu yang menewaskan tujuh tentara dan seorang kontraktor sipil yang bekerja dengan militer Turki.

Pasukan Turki berada di Idlib – yang merupakan zona gencatan senjata, berdasarkan kesepakatan antara Turki dan Rusia – sebagai bagian dari misi anti-teror dan perdamaian.

Sejak dua serangan itu, Turki telah melakukan serangan balasan yang memukul sejumlah target dan menewaskan 177 pasukan rezim Assad.

Bahceli juga menuduh Rusia tidak mendukung Turki dalam masalah Suriah, dan mengatakan Moskow turut bertanggung jawab atas pasukan Turki yang gugur baru-baru ini.

“Kita harus menghadapi kenyataan ini,” Bahceli menekankan.

Rusia mencapai tujuannya “langkah demi langkah di Suriah melalui krisis dan kekacauan,” katanya.

“Harapan tulus kami adalah agar pemerintah meninjau kembali hubungannya dengan Rusia,” kata pemimpin MHP itu.

Idlib telah menjadi kubu oposisi dan kelompok bersenjata anti-pemerintah sejak pecahnya perang sipil Suriah pada tahun 2011.

Pada bulan September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.

Tetapi lebih dari 1.800 warga sipil telah tewas dalam serangan oleh rezim dan pasukan Rusia sejak saat itu, mengabaikan gencatan senjata 2018 dan yang baru yang dimulai pada 12 Januari.

Sumber: Anadolu Agency

Leave a Response

error: Content is protected !!