Monday, February 17, 2020
Timur Tengah

Erdogan: Rezim Assad, Rusia dan milisi dukungan Iran bantai warga sipil di Idlib

TURKINESIA.NET – ANKARA. Presiden Recep Tayyip Erdogan pada hari Rabu [12/02], mengatakan rezim Assad, milisi yang didukung Iran dan pasukan Rusia melakukan pembantaian  terhadap warga sipil di Idlib.

Turki akan mengambil tindakan nyata untuk memastikan pasukan rezim Bashar Assad menarik diri dari daerah dekat pos pengamatan di provinsi Idlib barat laut Suriah pada akhir Februari, kata Erdogan.

Berbicara pada pertemuan kelompok parlemen Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) di Parlemen, Erdogan mengatakan Turki tidak akan lagi bertindak dengan mengandalkan janji-janji kosong tetapi sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Ia menekankan bahwa Turki telah dengan sabar menunggu syarat-syarat perjanjian untuk dilaksanakan di Suriah, tetapi kesabarannya telah habis – terutama setelah serangan rezim mulai menargetkan pasukan Turki di Idlib.

“Saya ingin menyoroti sekali lagi bahwa sebagian besar serangan yang dilakukan oleh rezim dan Rusia di Idlib menargetkan warga sipil daripada teroris,” kata Erdogan, menambahkan bahwa rezim Suriah, Rusia dan milisi yang didukung Iran terus membantai warga sipil di Idlib.

Tujuan serangan rezim terhadap warga sipil adalah untuk mendorong mereka ke perbatasan Turki demi memudahkan pengambilalihan daerah itu, kata presiden.

Erdogan seraya menambahkan bahwa Turki telah memperkuat unit militernya di daerah itu dan bekerja sama dengan pasukan oposisi moderat.

“Jika rezim [Assad] atau organisasi teroris mendapatkan kontrol penuh atas Suriah, maka keamanan dan stabilitas Turki akan terancam,” kata Erdogan.

Turki hanya akan aman jika keamanan ditegakkan di Suriah, tambahnya.

Pekan lalu, serangan rezim Assad di Idlib menewaskan tujuh tentara Turki dan satu kontraktor sipil yang bekerja dengan militer Turki dan melukai lebih dari belasan orang. Erdogan menekankan bahwa jumlah korban dari pihak Turki di Idlib mencapai 14, sementara 45 tentara terluka dalam serangan itu.

Sebagai balasan, Turki menyerang target rezim Assad dan membunuh puluhan tentara Suriah.

Idlib telah menjadi kubu oposisi dan kelompok bersenjata anti-pemerintah sejak pecahnya perang sipil Suriah pada tahun 2011.

Pada bulan September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.

Tetapi lebih dari 1.800 warga sipil di sana telah tewas dalam serangan-serangan oleh rezim dan pasukan Rusia sejak itu, mengabaikan gencatan senjata 2018 dan yang baru yang dimulai pada 12 Januari.

Lebih dari 1,7 juta warga Suriah telah bergerak di dekat perbatasan Turki karena serangan hebat selama setahun terakhir.

Turki tetap menjadi negara dengan pengungsi terbanyak di dunia, menampung lebih dari 3,7 juta warga Suriah sejak dimulainya perang sipil Suriah.

Sumber: Daily Sabah

Leave a Response

error: Content is protected !!