Sunday, March 29, 2020
Turki

Demonstrasi menentang penjajahan Rusia atas Krimea berlangsung di Istanbul

TURKINESIA.NET – ISTANBUL. Demonstrasi menentang penjajahan Rusia atas Krimea terjadi di Lapangan Beyazit di Istanbul pada 23 Februari.

“Sebuah aksi protes menentang pendudukan Republik Otonomi Krimea oleh Rusia terjadi di Istanbul,” Konsulat Jenderal Ukraina di Istanbul melaporkan.

Aksi protes yang diselenggarakan oleh Pusat Tatar Krimea di Istanbul dihadiri oleh perwakilan Tatar Krimea, serikat Turki dan Ukraina.

Para peserta memegang poster “kemarin Stalin, hari ini Putin”, “Hentikan kejahatan Kremlin, kembalikan yang dicuri”, “Tatar Krimea tidak akan menyerah” dan lainnya.

Para aktivis juga memprotes penutupan saluran TV ATR Crimean Tatar.

“Beresiko. Satu-satunya saluran TV Tatar Krimea di bawah ancaman penutupan,” kata salah satu poster.

“Selama enam tahun, rekan-rekan kami sangat sulit karena mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengamati kebiasaan mereka, untuk secara bebas menganut agama mereka, untuk belajar dalam bahasa mereka. Sekarang Tatar Krimea yang tinggal di Crimea sedang dianiaya karena kebangsaan dan agama mereka,” tulis koresponden Masyarakat Budaya Ukraina Aliya Usenova dalam keterangan demonstrasi tersebut.

Ukraina terus berupaya menuntut tindakan hukum terhadap Rusia di pengadilan internasional atas kejahatan di Krimea dan Donbas.

Deportasi Tatar Krimea adalah pembersihan etnis yang berdampak terhadap setidaknya 191.044 orang Tatar dari Krimea pada tanggal 18-20 Mei 1944.

Deportasi ini dilancarkan oleh Lavrentiy Beria, kepala polisi rahasia  dan keamanan negara Soviet, yang bertindak atas nama Josef Stalin. Dalam waktu tiga hari, polisi rahasia NKVD menggunakan kereta-kereta ternak untuk mendeportasi orang-orang Tatar Krimea, termasuk wanita, anak-anak dan lansia. Mereka dipindahkan secara paksa keUzbekistan yang terletak ribuan kilometer jauhnya. Mereka sendiri merupakan salah satu dari sepuluh suku bangsa yang terkena dampak kebijakan perpindahan populasi di Uni Soviet yang dicanangkan oleh Stalin.

Deportasi tersebut dimaksudkan sebagai hukuman kolektif karena terdapat orang-orang Tatar Krimea yang berkolaborasi dengan Nazi Jerman. Sumber-sumber Soviet mendakwa mereka sebagai pengkhianat, tetapi kaum nasionalis Tatar membantahnya dan mengklaim bahwa program deportasi ini adalah bagian dari rencana Soviet untuk mengakses Selat Dardanella dan memperoleh wilayah di Turki yang dihuni oleh kerabat etnis Tatar.

Walaupun Nazi awalnya menganggap rendah orang-orang Tatar Krimea, kebijakan mereka berubah akibat perlawanan yang sengit dari Uni Soviet. Banyak tahanan perang Soviet yang direkrut oleh Wehrmacht dan dimasukkan ke dalam satuan-satuan pendukung. Sementara itu, 15.000 hingga 20.000 orang Tatar Krimea berhasil diyakinkan untuk membentuk battalion pertahanan diri untuk melindungi desa-desa Tatar Krimea dari serangan-serangan kelompok partisan Soviet serta untuk memburu mereka, walaupun satuan-satuan tersebut biasanya membela pihak yang terkuat di wilayah tertentu. Selain itu, Komite Muslim juga dibentuk, meskipun komite tersebut memiliki hak yang terbatas dalam memerintah.

Tindakan-tindakan ini menguatkan kecurigaan di pihak Soviet bahwa suku bangsa Tatar Krimea adalah suku bangsa pengkhianat, walaupun sebenarnya terdapat lebih banyak orang-orang Tatar Krimea yang bergabung dengan Tentara Merah, dan ribuan masih mengabdi untuk Soviet selama pertempuran Berlin; selain itu, sejumlah orang Tatar Krimea juga bergabung dengan kelompok-kelompok partisan. Saat Nazi mundur dari wilayah Krimea, kebanyakan hiwi (pemberi bantuan secara sukarela) dan anggota keluarga mereka bersama-sama dengan orang-orang yang terkait dengan Komite Muslim turut dievakuasi. Meskipun banyak pejabat Soviet yang mengakui bahwa para kolaborator Tatar Krimea telah dievakuasi, permintaan untuk menghukum orang-orang Tatar Krimea secara keseluruhan semakin menguat.

Sekitar 8.000 orang Tatar Krimea tewas saat dideportasi, sementara puluhan ribu orang hilang akibat kondisi pengasingan yang keras. Selain itu, sekitar 80.000 rumah dan 360.000 hektare lahan di Krimea ditinggalkan. Stalin mencoba menghilangkan semua unsur Tatar Krimea dan pada sensus-sensus berikutnya melarang penyebutan nama suku bangsa Tatar Krimea.

Pada tahun 1956, pemimpin Soviet yang baru, Nikita Khrushchevmengecam kebijakan-kebijakan Stalin, termasuk deportasi berbagai suku bangsa, tetapi tidak mencabut arahan yang melarang kembalinya orang Tatar Krimea. Mereka kemudian terpaksa menetap di Asia Tengah selama beberapa dasawarsa. 260.000 orang Tatar Krimea baru dapat kembali ke tanah air mereka pada masa perestroika pada akhir era 1980-an, setelah larangan kembalinya kelompok-kelompok etnis yang telah dideportasi dinyatakan batal demi hukum pada tahun 1989. Secara keseluruhan, pengasingan mereka berlangsung selama 45 tahun.

Pada tahun 2004, jumlah orang Tatar yang ada di Krimea sudah mencapai 12 persen. Namun, pemerintah setempat tidak membantu upaya mereka untuk kembali atau memberikan ganti rugi atas tanah yang telah dirampas. Federasi Rusia sebagai negara penerus Uni Soviet tidak menawarkan pemulihan maupun ganti rugi, dan mereka juga tidak menindak pelaku deportasi secara hukum. Meskipun begitu, pada tanggal 12 Desember 2015, Parlemen Ukraina mengeluarkan sebuah resolusi yang mengakui peristiwa ini sebagai sebuah genosida, dan menetapkan 18 Mei sebagai “Hari Mengenang Para Korban Genosida Tatar Krimea”.

Deportasi ini sendiri merupakan peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Tatar Krimea, dan telah dipandang sebagai lambang penderitaan dan penindasan yang dialami oleh kelompok-kelompok etnis kecil di Uni Soviet.

Sumber: UKRINFORM/Wikipedia

Leave a Response

error: Content is protected !!