Thursday, July 9, 2020
Tokoh

Mengenal Alfatih Ali Hasanain, guru Erdogan dari Sudan: Firasatnya tentang Erdogan jadi kenyataan  

Oleh: Taufik M Yusuf Njong*
TURKINESIA.NET – TOKOH. “Selamat datang wahai Perdana Menteri Turki baru” ucap Dr. Alfatih Ali Hasanain saat mengunjungi Erdogan yang saat itu masih mendekam dalam penjara. Erdogan dipenjara karena menbaca bait puisi yang dianggap pengadilan sebagai bentuk provokasi terhadap rakyat untuk membangkitkan rasa keberagamaan keyakinan tertentu.

Sebagai seorang tahanan politik Erdogan tentu terkejut dengan perkataan sahabat dan gurunya tersebut. Takdir kemudian menceritakan kepada kita bahwa Al-Ghazi Erdogan memang menjadi perdana menteri Turki, persis seperti firasat Dr. Alfatih Ali Hasanain.

Bagi sebagian orang, bahkan sebagian mahasiswa Indonesia dan orang Sudan sendiri nama Dr. Alfatih Ali Hasanain Syarif adalah sosok yang tak terlalu terkenal. Sekitar 2 minggu lalu saya membeli buku beliau Al-Jisr ‘ala Nahr Ad-Drina yang dijual bersama buku-buku bekas lain dipinggir jalan Khartoum. Saat sedang membaca buku tersebut dalam angkot saya melihat seorang bapak disamping saya melirik judul buku yg saya baca. Kemudian saya bertanya apakah beliau kenal Dr. Alfatih. Bapak itu menggeleng. Pun ketika Erdogan bertamu ke rumah Dr. Alfatih pada Desember 2017, banyak orang bertanya-tanya siapa Dr. Alfatih hingga Erdogan mencuri waktu senggangnya untuk menemui Dr. Alfatih.

Dr. Alfatih Ali Hasanain lahir tahun 1947. Beliau keturunan dari Al-Arif billah Ahmad Razuq Al-Maghribi yang berasal dari Fez Maroko.

Tahun 60an, beliau mendapat beasiswa dari pemerintahan Yugoslavia yang punya hubungan baik dengan pemerintahan komunis Sudan.

Sebagai seorang kader gerakan islam, Dr. Alfatih kemudian menjadi da’i dalam makna yang sebenar-benarnya untuk umat islam negara-negara Balkan di Eropa Timur baik di era keemasan Yugoslavia sampai kemudian runtuh di tahun 90an.

Dr. Alfatih berdakwah dengan mempertaruhkan nyawanya. Secara diam-diam beliau menerjemahkan kitab-kitab islam baik kitab klasik ataupun kontemporer seperti karangan-karangan Syeikh Al’Qaradhawi, Dr. As-Siba’i, Sayyid Qutb dll kedalam bahasa Yugoslavia dan membagikannya ke masyarakat, Beliau menerjemahkan Al-Quran kedalam bahasa Bosnia, Herze, Albania, Bulgaria, Ceko dan Rumania.

Beliau mendirikan Persatuan Pelajar Islam di Eropa Timur, Majelis Al-Islami Eropa Timur, mendirikan sekolah di Bosnia, di Turki dan yayasan-yayasan demi umat islam Kosovo, Albania dan wilayah-wilayah Balkan lain yang tertindas. Beliau menjalin kerjasama dengan gerakan-gerakan islam Balkan, gerakam islam Alija Izetbegovic yang kemudian menjadi presiden Bosnia pertama dimana Alfatih ikut memperjuangkan kemerdekaannya dan menjadi penasehat sang presiden.

Foto Dr. Alfatih bersama Erdogan dan Presiden Alija Izetbegovic saya ambil dari cover kitab Aljisr ala nahr Drina.

Perjalanan dakwah dan kenangan beliau di negara-negara Balkan kemudian beliau abadikan dalam kitab Aljisr ala nahr Drina/The Bridge on the Drina. Judulnya persis seperti judul novel The Bridge on the Drina karya Ivo Andric penulis Serbia yang dengki terhadap umat islam balkan dan melakukan kebohongan dan penyesatan dalam novelnya hingga ia mendapat nobel sastra. Jembatan Drina sendiri dibangun oleh kesultanan Turki Utsmani saat kerajaan Utsmani menguasai banyak wilayah di Eropa Timur.

Foto ziarah Erdogan ke rumah Dr. Alfatih

Semoga Allah menjaga Dr. Alfatih Ali Hasanain, menyembuhkan penyakit beliau dan semoga Allah menjaga para Ulama, da’i dan para pemimpin yang berjuang untuk kebangkitan Islam.

*Penulis merupakan mahasiswa International University of Africa, Sudan

 

 

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x