Thursday, July 9, 2020
Eropa

Presiden Turki desak dukungan NATO di masa kritis

TURKINESIA.NET – ANKARA. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Senin mendesak anggota-anggota NATO untuk menunjukkan aliansi mereka dengan Turki di masa kritis seperti saat ini.

“NATO berada dalam periode kritis di mana ia harus dengan jelas menunjukkan solidaritas aliansinya [dengan Turki],” kata Erdogan kepada wartawan dalam konferensi pers bersama Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg.

Dia menegaskan bahwa sekutu harus bekerja sama dengan Turki tanpa diskriminasi dan tanpa prasyarat politik.

“Turki telah memerangi ancaman yang berbasis di Suriah dan kelompok teroris Daesh/ISIS selama hampir satu dekade sekarang dan merupakan satu-satunya negara anggota NATO yang menyaksikan tentaranya gugur,” ujar Erdogan.

Dia menambahkan bahwa tidak ada negara Eropa yang memiliki kemewahan untuk tidak peduli tentang konflik dan drama manusia di Suriah.

Stoltenberg: Turki sekutu penting

“Tidak ada sekutu lain yang menderita serangan teror lebih banyak dari Turki. Tidak ada sekutu lain yang menampung lebih banyak pengungsi dari Turki,” kata Sekjen NATO Stoltenberg, memuji upaya Turki untuk keamanan kawasan.

Dia juga menyebut Turki sebagai sekutu penting yang telah berkontribusi pada keamanan bersama dalam banyak hal.

“Aliansi militer telah banyak berinvestasi dalam sistem rudal dan pangkalan militer di Turki dalam beberapa tahun terakhir dan terus memberikan kontribusi pada misi udara dan laut di Turki,” ungkap Stoltenberg.

Dia menegaskan kembali komitmen blok untuk kemitraan dan mengatakan bahwa sekutu siap untuk terus mendukung Turki dan mengeksplorasi apa lagi yang harus dilakukan,” katanya,

Stoltenberg juga menyatakan keprihatinannya atas situasi keamanan di Suriah dan krisis migran yang disebabkannya.

“Rezim Assad dan Rusia menyebabkan penderitaan warga sipil yang tak terhitung. Saya berharap gencatan senjata di Idlib, Suriah barat laut yang dicapai pekan lalu oleh Turki dan Suriah akan tumbuh menjadi perdamaian yang tegak,” lanjut dia.

Sekretaris jenderal menyebut migrasi sebagai tantangan bersama dan memuji dialog antara Turki dan Uni Eropa untuk menemukan solusi jangka panjang bagi krisis.

Pertemuan Erdogan dan Stoltenberg berlangsung sekitar satu jam di Delegasi Permanen Turki ke Uni Eropa, di tengah kunjungan kerja satu hari Erdogan ke Brussels atas undangan Presiden Dewan Eropa Charles Michel.

“Hubungan bilateral akan dibahas secara menyeluruh dan langkah-langkah untuk memperkuat kerja sama akan dibahas selama pertemuan, yang juga akan dihadiri oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen,” kata Kepresidenan Turki dalam sebuah pernyataan.

Pertemuan itu akan membahas perkembangan terbaru di Suriah, khususnya Idlib, dan masalah pengungsi serta masalah regional dan global lainnya.

Akhir bulan lalu, Turki mengumumkan tidak akan lagi menghentikan pencari suaka yang hendak mencapai Eropa melalui darat, namun tetap melarang penyeberangan dengan perahu karena terlalu berbahaya.

Turki mengeluhkan bahwa Uni Eropa telah gagal menepati janjinya di bawah kesepakatan soal migran 2016 dan memperingatkan soal gelombang pengungsi baru yang datang dari Provinsi Idlib, Suriah, di sepanjang perbatasan selatan Turki.

Turki saat ini menampung lebih dari 3,7 juta warga Suriah, menjadikannya negara penampung pengungsi terbanyak di dunia.

Sumber: Anadolu Agency Indonesia

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x