Sunday, April 5, 2020
Jejak OttomanSejarah

Ottoman adalah kekuatan besar di Eropa saat Granada jatuh, kenapa tidak selamatkan Muslim Andalusia?

Oleh: Fahmi Salim*

TURKINESIA.NET –SEJARAH. Jika Baghdad pusat Kekhalifahan Abbasiyah musnah total oleh Mongolis meski secara politis masih eksis berlanjut di Mesir di era Dinasti Mameluk, maka Cordoba, Sevilla, Toledo dan Granada fisiknya masih utuh meski secara politik telah musnah total. Subhanallah itulah takdir ALLAH. Allah punya rencana lain.

Di penghujung abad 13 M, tepatnya tahun 1299 berdiri Kesultanan Usmaniyah di Anatolia desa Sogut Asia Kecil yang berbatasan dengan Konstantinopel ibukota kekaisaran Romawi Timur. Berawal dari tanah perdikan otonomi yang dihadiahkan Sultan Alauddin Qaikubad, Sultan Seljuk Rum kepada Ertugrul Gazi. Keluarga Osman penerus Ertugrul Gazi berperan menggantikan redupnya Kesultanan Seljuk Rum, Dinasti Ayyubid, Dinasti Mamalik dan sisa keturunan Dinasti Abbasiyah yang pindah ke Kairo. Juga menggantikan secara perlahan dinasti Islam di Maghribi dan Andalusia yang mulai menyusut menuju kebangkrutan total.

Sampai akhirnya Allah takdirkan Kesultanan Usmaniyah di masa Sultan Mehmet II berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Disinilah muncul pertanyaan besar mengapa Ottoman Turki tidak bisa menyelamatkan Andalusia di saat mereka sedang jaya dan menanjak sebagai imperium besar Islam di Asia dan Eropa Timur?

Kerajaan Islam Granada jatuh pada 1492 di masa Sultan Bayazid (putera Sultan Mehmet II) berkuasa. Dilanjutkan oleh Sultan Salim I dan Sulaiman Qanuni yang berjaya melakukan penaklukan Islam ke Eropa Timur dan sebagian Tengah.

Saat Ottoman menjelma sebagai kekuatan besar di Eropa itulah Granada jatuh.

Ada beberapa sebab yang menghalangi Ottoman menyelamatkan apalagi merehabilitasi kebangkrutan Islam di Andalusia:

Pertama, faktor geografis: jarak antara Konstantinopel (Istanbul) dan Andalusia lewat darat 3.832 km, lewat laut 3.469 km dengan medan darat dan laut yg sangat sulit karena harus melewati blokade negara-negara Eropa yang seluruhnya shock akibat penaklukan Konstantinopel. Tentu saja membuat mereka membenci dan memusuhi Ottoman Turki. Setiap pergerakan Ottoman ke Eropa Tengah dan Barat tentu akan dihadang dengan kekuatan penuh oleh otoritas Genoa, Cycillia, Yunani, Italia, Tyrene, hingga Spanyol. Itu lewat jalur laut. Belum lagi jika Melalui jalur darat, saat Ottoman Empire ekspansi ke Bulgaria, Romania, Hongaria dan Austria. Ini adalah medan yang sulit ditembus karena permusuhan mereka terhadap Ottoman Empire yang baru tumbuh pesat setelah penaklukan Konstantinopel. Koalisi salibis Eropa yang sangat anti Ottoman dan blokade Selat Gibraltar oleh kerajaan Spanyol menjadikan usaha Ottoman mustahil untuk mengatakan sangat berat menyelamatkan Granada dari reconquesta.

Kedua, faktor politis dan militer: sejak didirikan oleh Osman Gazi yang mewarisi spirit jihad qital di jalan Allah melawan Salibis dan Mongolis sejak akhir abad 12 dan 13, kesultanan Usmaniyah tidak pernah lelah berperang menghadapi banyak front dalam satu waktu. Pasca penaklukan Konstantinopel, Ottoman Turki menghadapi front Salibis Eropa yang bertekad merebut kembali (reconquesta) Istanbul dari tangan Ottoman, dan front Dinasti Safavid Syi’ah di Iran yang selalu menjadi duri dalam daging dan belati yang siap menikam kapan saja dari arah belakang.

Jadi tak semudah kita bayangkan bahwa jarak antara Istanbul dan Andalusia mirip dengan jarak antara Kesultanan Demak dan Kesultanan Malaka. Demak bisa mengirimkan armada tempur 2 kali untuk menyerang Portugis di Malaka tahun 1513 dan 1521, kenapa Ottoman tidak bisa lakukan hal yang sama?

Meski demikian Sultan-Sultan Usmani berusaha keras menyelamatkan apa yang tersisa dari air mata tumpah di Andalusia.

Sultan Mehmet II yang sedang sibuk merebut dan mempertahankan kemenangan Konstantinopel masih sempat mengirim pasukan menyerang Italia yang berhasil menduduki kota Otranto di Italia (1480-81) dan berusaha menembus ke Andalusia. Namun tidak meneruskannya karena faktor hambatan geografis dan militer, juga wafatnya Sultan Mehmet II.

Sultan Bayazid II saat sibuk menghadapi front Salibis Eropa dan Dinasti Safavid dan Mamluk Mesir, ia sempat mengirimkan pasukan armada laut yang dipimpin Kemal Rais untuk Menyerang pesisir pantai spanyol untuk menembus blokade Andalusia. Namun gagal karena serangan Eropa, pengkhianatan kekuatan Islam seperti Mamluk dan Dinasti Hafsid di Tunisia yang menolak membantu Ottoman melawan Spanyol.

Sultan Salim I mengirimkan Laksamana Oroj bertugas menyelamatkan umat Islam yang eksodus dari Andalusia akibat inkuisi gereja di Spanyol. Misi ini berhasil menyelamatkan puluhan ribu Muslim dan mengantarkan mereka ke Aljazair.

Sultan Sulaiman Qanuni mengirimkan 80 kapal perang dengan 8.000 pasukan elit Janissary dipimpin Laksamana Barbarosa untuk menyerang Andalusia dan menyelamatkan umat Islam yang lari dari inkuisisi spanyol. Di masanya, Ottoman Turki membuka pintu bagi 500.000 pengungsi yang lari dari Andalusia termasuk warga Yahudi spanyol yang ikut diusir dari sana. Itulah faktanya!

Dinasti Arab Muslim pasca runtuhnya Kekhalifahan Umayyah II di Andalusia, yang rusak mentalnya, cinta dunia, saling sikut rebutan kekuasaan, enggan jihad di jalan Allah mempertahankan Islam di Barat, mengapa kini menyalahkan dan menuntut Ottoman Turki untuk selamatkan Andalusia yang sudah berjatuhan sejak era Muluk Thowaif dimulai abad ke-11 hingga runtuhnya Cordoba abad 13 M?

Dalam benak para sultan Ottoman barangkali lebih baik menyelamatkan rakyat muslim Andalusia yang lari dari inkuisisi Spanyol daripada menolong Dinasti muslim Arab dari serangan reconquesta. Menolong rakyat yang tak berdosa lebih mulia daripada menyelamatkan penguasa yang mentalnya sudah rusak yang tak mungkin tertolong lagi.

Semoga kita bisa adil menilainya…

Referensi:
https://en.m.wikipedia.org/…/Nasrid%E2%80%93Ottoman_relatio…

https://www.turkpress.co/node/27649

https://ar.islamway.net/…/%D9%85%D8%A3%D8%B3%D8%A7%D8%A9-%D…

Wallahu a’lam.

Madrid, 11 Maret 2020

*Penulis merupakan:

Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, kini tercatat sebagai kandidat doktor bidang Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an di Universitas al-Azhar Cairo.
Sekertaris Komisi Dakwah MUI Pusat periode 2015-2020
Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah 2015-2020
Peneliti di Institute for The Study of Islamic Thought & Civilization (INSISTS) Jakarta
Dosen Fakultas Agama Islam UHAMKA.
Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)
Sekretaris Dept. Hukum dan Wakaf PP Dewan Masjid Indonesia (DMI)

Karya Tulis:
1) Kritik terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal (Penerbit GIP, tahun 2010)
2) Tafsir Sesat; 58 Essai Kritis Wacana Islam di Indonesia (Penerbit GIP, tahun 2013)

Twitter : @fahmisalim2
Facebook : Fahmi Salim Zubair
Fanspage FB : Ustadz Fahmi Salim
Instagram : @fahmisalimz
Subscribe Youtube : Ust. Fahmi Salim Official Channel
Website : www.fahmisalim.com

Leave a Response

error: Content is protected !!