Wednesday, August 12, 2020
Kolom

Saudi mau ke mana?

TURKINESIA.NET – KOLOM. Masih ingat ketika tahun 2017 lalu Arab Saudi memasukkan Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam list teroris? Yup. Jangan kaget. Ada banyak ulama Islam yang dibunuh karakternya oleh rezim Bani Su’ud ketika mereka tak lagi dibutuhkan. Syeikh Abdullah Azzam dan Mujahidin Arab di Afghanistan telah merasakannya. Hal yang sama terjadi terhadap negara, organisasi dan kelompok yang tidak mau tunduk pada Saudi. FSA di Suriah termasuk salah satu yang sudah merasakan bagaimana di-PHP dan ditinggalkan oleh Saudi. Qatar diembargo. Perilaku Saudi yang rajin merangkul, membentuk aliansi lalu menggertak mereka yang membangkang dan memboikotnya mengingatkan kita dengan sikap sebuah negara adidaya yang menjuluki dirinya dengan polisi dunia. Persis…! You knowlah bagaimana hubungan AS dan Saudi.

 

Ok. Kembali ke laptop. Sebelum Syeikh Al-Qaradhawi dan ulama-ulama yang berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin (IM) atau dekat dengan IM dimasukkan ke list teroris, ada baiknya kita kembali ke beberapa dekade ke belakang. Sebab hampir semua ulama IM dan tokoh yg dekat dengan IM tersebut pernah menerima penghargaan King Faishal Prize dari pemerintah Saudi. Syeikh Al-Qaradhawi menerimanya tahun 1994. Abul A’la Al-Maududy adalah yang pertamakali menerimanya tahun 1979. Dari Indonesia, Buya Muhammad Natsir menerimanya tahun 1980. Syeikh Muhammad Qutb (adik Sayyid Qutb) menerimanya tahun 1988. Syeikh Abdul Karim Zaidan (Muraqib ‘Am IM Irak) menerimanya tahun 1997. Syeikh Ali At-Thantawi menerimanya tahun 1990. Syeikh Muhammad Al-Ghazali menerimanya tahun 1989. Syeikh Sayyid Sabiq menerimanya tahun 1992.

Bagi Saudi, mengkritik negara Tauhid Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-Sa’udiyah adalah dosa tak termaafkan. Bisa-bisa dimutilasi seperti Jamal Kashoggi. Ups jangankan mengkritik, sekedar mendoakan agar pemimpin Saudi dan Qatar diberi petunjuk seperti yang dilakukan Syeikh Salman Al-Audah bisa berujung penjara dan ancaman hukuman mati. Syeikh Safar Al-Hawali dan 140-an ulama yang menolak ‘menjilat’ penguasa Bani Sa’ud kini mendekam dalam penjara Saudi. Jadi jangan heran jika ulama semisal Syeikh Muhammad Al-‘Arifi bergegas membai’at Waliyul ‘Ahdi Muhammad bin Salman dan mendoakannya sebagaimana juga dilakukan oleh Syeikh ‘Aid Al-Qarni dll. Tak cukup itu, Syeikh ‘Aid Al-Qarni yang pernah mendekam dalam penjara Saudi kemudian juga menyerang Erdogan dan Turki beberapa waktu lalu hingga hangat diperbincangkan.

Beberapa waktu lalu, salah seorang ulama ‘moderat’ Saudi Syeikh Shalih Al-Maghamisy (Imam dan Khatib mesjid Quba) diberhentikan dari jabatannya karena mentwit agar mereka yang di penjara di penjara-penjara Saudi di bebaskan. Al-Maghamisy kemudian buru-buru menghapus kicauannya dan meralatnya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Dua Minggu setelah dipecat, Al-Maghamisy kemudian menyerang Ikhwan. Wallahu a’lam apakah pemerintahan Saudi menghargai serangan terhadap IM tersebut dan mengangkat kembali Al-Maghamisy sebagai Imam di mesjid lain.

Jika kita ke Uni Emirat Arab, ada Syeikh Wasim Yusuf (Imam Mesjid Syeikh Zaid Al-Kabir di Abu Dhabi) yang terkenal dekat dengan dinasti Emirat. Kini, ketika perannya tak lagi dibutuhkan ia juga menuju kepada gelapnya penjara.

Kenapa Saudi dan UEA memenjarakan banyak ulama? Alasan klisenya adalah: Para ulama tersebut radikal. Padahal, siapapun yang membaca pemikiran ulama semisal Salman Al-Audah, ‘Awad Al-Qarni dll yang kini mendekam dalam penjara adalah ulama-ulama yang moderat. Setidaknya, mereka lebih moderat ketimbang Masyaikh Salafiyah Jamiyah Madakhilah yang Ultra Konservatif. Berbeda dengan Jamiyah Madakhilah yang lahir batin siap menjadi pembela dan pelayan KSA, KSA sepertinya sadar bahwa para ulama ‘Shohwah’/sururiyah pada suatu hari berpotensi untuk membangkang.

Muhammad Bin Zaid (MBZ) sendiri saat ini sedang menampung salah seorang tokoh shufi; Al-Habib Ali Al-Jufri dengan Thabah Foundation nya yang bermarkas di Abu Dhabi. Apakah Emirat sudah cenderung ke tasawwuf? Tunggu dulu. Di Yaman UEA masih mesra dengan salah satu tokoh salafi kokohiyun Hani Bin Brek. Padahal kita tau bahwa Salafiayah Jamiyah/Madkhaliyah adalah salah satu firqah yang paling keras serangannya terhadap tasawwuf. Dua hal yang kontradiktif. Tapi tenang, Madkhaliyah relatif lebih mudah dikendalikan KSA untuk tidak terlalu menyerang tasawwuf dan Asya’irah.

Pertanyaan menarik selanjutnya adalah apakah Thabah Foundation yang didirikan untuk menyebarkan Islam moderat rahmatan lil’alamin dan membendung paham takfiri akan menyerang wahabisme yang diidentifikasi oleh banyak pengamat sebagai sumber radikalisme dan ibu kandung takfiri? Jawabannya kemungkinan besar tidak. Bukan itu yang diinginkan oleh UEA. Jadi jangan terlalu banyak berharap bahwa Thabah Foundation akan memberikan banyak porsi untuk mengcounter wahabisme yang gemar mengkafirkan tasawwuf. Karena arah anak panah yang diinginkan UEA bukan ke Wahabisme tapi Islam politik/gerakan Islam. Jadi jangan heran jika kedepan mutashawwifin Asya’irah akan bergandengan tangan dengan wahabisme. Jangan heran jika ada ormas di Indonesia yang anti Wahabi akan mendekat dan melakukan kerjasama penting dengan KSA. Jika 30an tahun lalu AS butuh gerakan Islam untuk menggebuk sosialis komunis, bukan tidak mungkin saat ini lembaga Think Tank di negeri Paman Sam akan menggunakan tasawwuf dan salafi (moderat menurut AS) untuk menggebuk gerakan Islam dan mengadu domba sesamanya. Tapi semoga tidak. Semoga masing-masing sadar untuk tidak menjadi proxi AS tanpa sadar dan semoga Thabah Foundation tidak dicampakkan ketika tak lagi dibutuhkan.

Btw, Saudi sampai saat ini (setau saya) masih ‘melindungi’ Syeikh Abdul Majid Az-Zindani (meskipun dikenakan tahanan rumah). Lulusan Al-Azhar dan rektor Universitas Al-Iman yang menjadi Ketua Hai’ah Ulama Yaman dan tokoh IM Yaman ini tetap dilindungi Saudi meskipun beliau adalah salah satu buronan ‘teroris’ yang dicari AS. Tanya kenapa? Jawabannya adalah karena Saudi masih CS-an dengan IM (Al-Islah) di Yaman kontra Houtsi.

Dengan menjebloskan banyak ulama moderat kedalam penjara dengan tuduhan radikal, Saudi dibawah MBS (Muhammad Bin Salman) ingin menunjukkan kepada dunia internasional dan kepada generasi muda Saudi wajah baru Saudi yang moderat. Padahal sejatinya Saudi sedang mempraktekkan pengekangan terhadap kebebasan berbicara dalam bentuknya yang paling vulgar. Dan untuk menutup celah kritik disisi lain, tahun 2016 Saudi membentuk GEA (General Entertainment Authority) sebuah otoritas hiburan umum yang gencar mengadakan pameran, olahraga, festival, pertunjukan panggung, game, hingga konser musik. Kemana para ulama Madakhilah? Apakah mereka sudah menghalalkan ikhtilath dan musik? Belum. Namun, betapapun mereka ultra Konservatif tapi mereka relatif bisa dikendalikan Saudi.

Jadi, mau dibawa kemana sebenarnya KSA & UEA oleh MBS dan MBZ? Moderat? Atau Konservatif liberal? Wallahu a’lam. Yang jelas, Saudi akan melakukan apapun agar monarki absolutnya bertahan.

 

Penulis: Taufik M Yusuf, mahasiswa International University of Africa, Khartoum, Sudan.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Baca juga: Saudi mau ke mana? […]

error: Content is protected !!
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x