Selasa, Oktober 19, 2021
TN Menjawab

Pesawat Israel mendarat di Turki? Begini penjelasannya

TURKINESIA.NET – TAHUKAH ANDA. Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan berita mendaratnya maskapai penerbangan Israel El Al di Istanbul pada hari Minggu [24/05]. Peristiwa tersebut untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir.

Penerbangan El Al tiba di Istanbul untuk mengambil 24 ton bantuan kemanusiaan dan peralatan pelindung yang ditujukan untuk tim medis AS di garis depan melawan virus corona.

Otoritas penerbangan Turki menyetujui El Al untuk mengoperasikan penerbangan dua kali seminggu antara Istanbul dan Tel Aviv, untuk mengangkut barang setelah memasukkan permintaan minggu lalu. El Al akan menggunakan pesawat Dreamliner untuk rute tersebut.

Turki menghentikan penerbangan dari Tel Aviv ke Turki pada 2010, setelah sembilan aktivis pro-Palestina terbunuh oleh pasukan Israel selama insiden armada Gaza, di mana kapal Mavi Marmara berusaha untuk mematahkan blokade angkatan laut ilegal di Jalur Gaza. Setelah serangan itu, hubungan antara Israel dan Turki menjadi tegang.

Berita tersebut dimanfaatkan oleh beberapa media Arab yang berbasis di UEA dan Arab Saudi untuk memojokkan Turki. Padahal, pihak yang memojokkan Turki adalah negara yang baru saja mendaratkan pesawatnya di Israel (Baca: https://www.jpnn.com/news/bersejarah-pesawat-komersial-uni-emirat-arab-mendarat-di-israel), dan mempromosikan normalisasi hubungan dengan Israel (Baca: Bukan Turki, tapi Saudi yang promosikan normalisasi hubungan dengan Israel)

 

Rumitnya hubungan bilateral Turki-Israel

Secara politik, Turki memang menjalin hubungan dengan Israel sejak awal-awal era republik. Hubungan tersebut terus berlanjut di era Erdogan meskipun mengalami pasang surut dan bahkan hampir perang.

Hubungan Turki – Israel awal era republik

Untuk memahami hubungan Turki-Israel saat ini, baiknya kita tahu sejarah hubungan kedua negara.

Hubungan Turki-Israel dimulai pada tahun 1949 disaat era Turki Sekuler. Ketika itu Turki adalah negara mayoritas muslim pertama yang mengakui negara Israel.

Walaupun ketika itu Ankara belum memiliki Kedubes di Tel Aviv namun hubungan dagang dan militer kedua pihak sudah cukup erat. Tentu dengan semua dinamika layaknya hubungan dua negara. Baru tahun 1980 Turki membuka Kedubes di Tel Aviv.

Padahal pada tahun tersebut hubungan Turki-Israel sedang memburuk, akibat memanasnya hubungan Dunia Arab-Israel. Tapi kenapa Turki justru membuka kedutaan besar di Tel Aviv?

Hubungan Turki-Israel tidak terbangun layaknya hubungan Turki dengan negara2 lain, tapi tercipta dengan asas saling membutuhkan dari kedua belah pihak dalam kondisi yang sangat khusus dan sensitif.

Kondisi ini disadari oleh kedua belah pihak jauh sebelum Erdogan dan AKP naik singgasana di Turki. Itu sebabnya hubungan kedua negara yang terjalin sejak 1949 baru memiliki kedutaan besar pada tahun 1980 dengan situasi turun naik bahkan hampir perang.

Namun semua ketegangan tersebut bisa diatasi karena sebelumnya Turki hanyalah negara miskin dan terkebelakang pasca runtuhnya Khilafah. Namum pada tahun 2002 ketika Erdogan-AKP naik panggung semua menjadi sangat berbeda.

Baca juga  Apa perbedaan kerja sama Turki-Israel dan Uni Emirat-Israel di mata Palestina?

 

Hubungan Turki – Israel era Erdogan

Erdogan mengusir Dubes Israel untuk membalas kebrutalan Israel pada aksi 30 Maret 2018 yang menewaskan setidaknya 125 warga Gaza. Video penghinaan terhadap Dubes tersebut ketika di Bandara disiarkan secara langsung oleh media Turki saat itu.

Tidak sampai di situ, Turki juga menarik Dubes-nya untuk Tel Aviv. Namun di waktu yang sama hubungan Ekonomi terutama perdagangan Turki-Israel sedang sangat bagus. Ini menjadi pertanyaan: apakah hubungan kedua negara dibangun di atas kemunafikan?

Bagi yang melihat Erdogan dan AKP hanya berdasarkan pandangan pertama tentu memahami hubungan Ankara-Tel Aviv dibangun di atas kemunafikan, tapi bagi yang mengikuti rasa penasarannya dan terus menggali lebih dalam maka akan paham bagaimana jalannya ‘permainan’.

Untuk lebih mudah memahami, mari mita lihat ke tahun 2002 saat awal Erdogan-AKP naik panggung politik Turki (setelah menang pertama kali di pemilu 2002). Tahun 2003 Amerika menginvasi Irak. Sebagai sekutu dekat (kacung) Turki diminta bersedia membuka wilayah (darat dan udara) bagi militer Amrik untuk menyerang Irak.

Ini ujian pertama bagi AKP terkait politik Turki di Kawasan secara umum dan Amerika-Israel secara khusus. Pada dasarnya permintaan Amerika tersebut bukan hal yang aneh karena selama ini militer Amerika bebas keluar masuk Turki semau mereka. Wajar, posisi Turki ketika itu sebagai negara kacung.

Namun ketika itu pemerintah Turki tidak langsung mengiyakan permintaan Amerika, tapi juga tidak menolak. Pemerintah Turki menyerahkan ke parlemen untuk menolak atau menerima. Ini awal membandelnya Turki.

Ketika itu parlemen dikuasai oleh kader AKP, tentu hasilnya jelas bahwa permintaan Amerika ditolak walau hanya berbeda beberapa suara. Padahal ketika itu pemerintah Turki sempat mengusulkan kepada parlemen untuk menyetujui permintaan Amerika. Drama politik.

Terlihat nyata ketika itu pemerintah Turki ingin menolak permintaan Amerika dengan melemparkannya ke parlemen tapi di sisi lain pemerintah Turki ingin mengunci Amerika agar tidak marah dengan mengusulkan parlemen agar menerima permintaan Amerika.

Kenapa drama politik ini harus terjadi? Karena pemerintah Turki ketika itu paham betul belum cukup kuat menghadapi Amerika. Belum lagi kisah kelam rentetan kudeta dan yang terbaru yang menimpa Erbakan (pemerintahan ala politik Islam –red).

Kenapa kami perlu memaparkan cerita di atas? Karena di dalamnya ada gambaran politik Luar Negeri Turki yang hingga hari ini kadang masih dipakai oleh Erdogan dan AKP. Politik LN Erdogan tidak dibangun di atas rumus-rumus kosong yang jauh dari realita di lapangan. Erdogan sebagai Perdana Menteri dan Presiden sangat logis dalam mengambil keputusan dan tindakan.

Baca juga  Kepala Otoritas Keagamaan Turki: Perokok tidak boleh menjadi imam

Hubungan dagang atau ekonomi yang masih  dijalin Erdogan dengan Israel adalah kebutuhan Turki yang terwariskan sejak lama. Tapi dalam pragmatisme tersebut Erdogan tidak melepaskan prinsipnya dalam menjaga kehormatan Turki. Itu sebabnya kenapa hubungan Turki-Israel naik turun.

Israel adalah duta dan anak emas Barat khususnya Amerika di Kawasan. Siapa yang dianggap musuh oleh Israel maka akan menjadi musuh bagi Amerika, begitu juga sebaliknya.

Siapa yang harus disingkirkan menurut Israel maka harus disingkirkan menurut Amerika. Menjaga hubungan baik terutama dagang dengan Israel harus dilakukan Erdogan di saat kepemimpinannya diminta fokus membangun ekonomi di dalam negeri.

Namun alasan-alasan tersebut tidak menjadi alasan bagi Erdogan untuk selalu tunduk di bawah tekanan Israel. Dimulai pada tahun 2009 ketika Israel melancarkan serangan ke Gaza.

Ketika itu Erdogan menelanjangi Shimon Peres di depan publik saat acara the Annual Meeting of the World Economic Forum (WEF) di Davos Swiss yang videonya sudah tersebar.

Di tingkat rakyat, tahun 2010 Turki mengirimkan bantuan guna mematahkan blokade Israel terhadap Gaza. Kita mengenal tragedi Marmara. Semoga para korban Allah hitung sebagai syuhada.

Tragedi Marmara berujung pada pengusiran Dubes Israel untuk Ankara dan semua kerja sama militer dihentikan. Karena peristiwa ini pula, sejak saat itu tidak ada pesawat Israel yang mendarat di Turki. Tapi menariknya kerja sama di bidang ekonomi dan perdagangan tetap lanjut. Gaya hubungan Turki-Israel ini memang sedikit unik.

Ingat, Turki adalah pihak yang memulai pengusiran Dubes dan pihak yang menghentikan kerja sama militer. Turki mendesak Israel meminta maaf dan membayar ganti rugi kepada keluarga korban tragedi Marmara.

Begitulah politik yaitu seni menemukan peluang di tengah semua kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Erdogan sengaja tidak memutuskan kerja sama militer tapi hanya menghentikan. Di sisi lain Erdogan memaksa Israel meminta maaf dan membayar uang ganti rugi.

Erdogan hanya mampu melakukan manuver sampai di situ. Jika Turki sampai menghentikan kerja sama di bidang ekonomi dan perdagangan selesai sudah hubungan Israel-Turki. Sampai di situ? Tidak. Setelah itu akan memasuki babak baru: Perang.

Pertanyaannya: apakah perang adalah pilihan terbaik bagi Turki dan rezim Erdogan yang selalu digoyang dari dalam dan luar negeri? Atau lebih jelasnya, apakah Turki akan mampu bertahan dari gempuran koalisi Barat khususnya Amerika jika perang dengan Israel? Jawabannya tentu tidak.

Perlu diingat adalah jika perang terjadi maka negara-negara Arab, khususnya UEA, Saudi dan Mesir akan berada di sebelah Amerika dan Israel. Adapun yang tidak memihak ke Barat tidak juga akan memihak ke Turki. Seperti itu kondisinya jika perang terjadi.

Baca juga  Hoax foto Erdogan cium tangan Biden, ini video buktinya!

Jadi yang paling logis yang bisa dilakukan Erdogan ketika itu hanya sebatas menunda kerja sama di bidang militer. Itu sudah sangat cukup untuk menghukum Israel dan Amerika. Kenapa?

Sebelum tragedi Marmara terjadi, Turki yang dipimpin Erdogan-AKP sudah menjadi target Israel dan Barat untuk dihancurkan. Baik secara halus maupun kasar, walau Turki tergabung di NATO sekalipun.

 

Yang diharapkan Israel dan Amerika pasca tragedi Marmara adalah pemutusan kerja sama militer dengan Israel yang akan berimbas ke Amerika. Jika ini dilakukan Erdogan maka NATO yang akan mengeksekusi Turki, bukan Israel. Konspirasi ini berhasil dipatahkan Erdogan.

Langkah politik yang dipilih Erdogan ternyata justru melemahkan pihak Israel. Suara NATO terpecah dan tidak ada lagi alasan logis di depan publik untuk menghantam Erdogan, walau diam-diam usaha itu semakin kencang.

Hubungan Turki-Israel ini simple di luar tapi njilimet di dalam. Perang itu sedang berlangsung hingga saat ini dan dalam satu waktu kerja sama di depan publik terpaksa dilanjutkan.

 

Sikap rakyat Palestina terhadap Turki

Meskipun Turki menjalin hubungan dengan Israel, namun rakyat Palestina tetap menunjukkan penghormatan terhadap Turki. Hal ini sering terlihat misalnya saat demonstrasi massa Palestina. Para demonstan terlihat sering mengibarkan bendera Turki dan bahkan mengangkat poster Erdogan, baik di Gaza, maupun di pelataran masjid Alaqsha, bukan poster para penguasa Arab yang malah diam-diam menjalin hubungan rahasia dengan Israel.

Erdogan juga sering mengundang para tokoh dan ikon perjuangan Palestina ke Turki. Tokoh-tokoh Hamas seperti Ismail Haniya dan Khaled Mishaal sering bolak-balik ke Turki. Para remaja Palestina yang menjadi ikon perjuangan seperti Ahed Tamimi, Fauzi Al-Junaidi dan lainnya diundang langsung untuk bertemu Presiden Erdogan.

Erdogan juga memanfaatkan hubungan diplomatik dengan Israel untuk menyalurkan bantuan Turki kepada rakyat Palestina, sebagaimana diketahui bahwa pasokan bantuan harus mendarat di bandara Israel.

Berdasarkan fakta-fakta di atas, kita tidak pernah mendengar aksi boikot rakyat atau aktivis Palestina terhadap Turki. Rakyat Palestina tetap menghormati Turki dan Presiden Erdogan atas setiap upaya politiknya terhadap bangsa Palestina. [TN]

3.7 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
6 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Henry Ramadhan
Henry Ramadhan
1 year ago

Sungguh pemimpin yang sangat buruk namun disegani.bagi negara lawan, tetapi pemimpin yang bijak serta disayangi rakyatnya

Arif
Arif
5 months ago
Reply to  Henry Ramadhan

Buruk menurutmu,politik turki yg kau kita buruk itu dilakukan demi menolong rakyat palestina…

Azhari
Azhari
1 year ago

Turki bagaikan bandit yang sudah kembali ke jalan yang lurus dan negeri Arab bagaikan ahli ibadah yang mencoba jadi bandit,

Dan yang akhir hidup nya menjadi bandit tinggal menunggu amarah Allah jalajallalu

Rusli
Rusli
1 year ago

Yang munafiq sesungguhnya adalah uea dan arab saudi jg mesir.

UEA, Mesir dan Arab itu maling teriak maling

trackback

[…] Kami hanya menanggapi upaya permusuhan yang dimulai oleh Saudinesia dengan mengangkat berita tendensius yang berusaha memburukkan citra Turki di dunia Islam. Tulisan berikut merupakan tanggapan kami atas klaim fitnah Saudinesia terhadap tulisan kami sebelumnya. Adapun berita fitnah Saudinesia terkait hubungan Turki dan Israel sudah kami bahas sebelumnya di sini: Pesawat Israel mendarat di Turki? Begini penjelasannya […]

andri
andri
8 months ago

indonesia dan Arab saudi tdk ada hubungan diplomatik dng Israel

infografis-negara-mayoritas-muslim-yang-resmi-akui-israel.jpeg
error: Content is protected !!
6
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x