Friday, July 3, 2020
Politik

Jenderal dalang kudeta postmodern terhadap Erbakan tahun 1997 meninggal dunia

TURKINESIA.NET – ANKARA. Mantan Kepala Staf Umum Jenderal İsmail Hakkı Karadayı yang dikenal karena perannya dalam ultimatum pada 28 Februari 1997 yang menyebabkan pengunduran diri Necmettin Erbakan, meninggal pada usia 88 di Istanbul, Selasa.

Lahir di provinsi tengah Cankiri pada tahun 1932, Karadayi lulus dari sekolah militer pada tahun 1951. Karadayı menjabat sebagai kepala staf militer dari 1994 hingga 1998, pada saat tentara menekan Perdana Menteri Necmettin Erbakan dan Partai Kesejahteraan atas kekhawatiran dihapusnya “nilai-nilai sekuler.”

Dewan Keamanan Nasional yang didominasi militer mengancam tindakan jika Erbakan tidak mundur pada Februari 1997 dan tank diperintahkan untuk berparade di distrik Sincan di Ankara sebagai taktik intimidasi. Tekanan memuncak pada pengunduran diri pemerintah Erbakan empat bulan kemudian.

Partai Kesejahteraannya kemudian juga dilarang. Pemerintah sipil baru kemudian mengambil alih dari Erbakan dalam suatu langkah yang kemudian dikenal sebagai kudeta “postmodern” Turki.

Dalam lingkup keputusan 28 Februari, Batı Çalışma Grubu (Kelompok Studi Barat) didirikan dan diketuai oleh wakil İsmail Hakkı Karadayı, Jenderal Çevik Bir, yang dianggap sebagai “dalang” dari rencana kudeta. Setelah pemerintah mengundurkan diri, tindakan keras lebih lanjut diluncurkan pada kaum Islamis yang dicap sebagai kaum reaksioner. Ribuan orang masuk daftar hitam, dipecat dari tugas-tugas publik mereka dan dipaksa keluar dari sekolah hanya karena kepatuhan mereka pada agama Islam. Wanita yang mengenakan jilbab harus berhenti dari pekerjaan sektor publik sementara pria dari perwira militer hingga akademisi, menjadi sasaran dalam rentetan investigasi dan persidangan.

Pada tahun 2018, Karadayı dan 20 lainnya, sebagian besar wakilnya di militer, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena peran mereka dalam kudeta yang menyengsarakan kehidupan jutaan orang.  Pengadilan menyimpulkan bahwa Karadayi terlibat dalam kejatuhan pemerintah namun tidak mengirim mereka ke penjara, dengan alasan usia tua. Meskipun demikian, para terdakwa diperintahkan untuk melapor ke kantor polisi terdekat secara teratur dan dilarang bepergian ke luar negeri di bawah undang-undang kontrol peradilan. Ismail telah menjalani perawatan karena kanker di rumah sakit swasta.

Pengadilan juga mengatakan tentara Turki tidak memiliki wewenang untuk campur tangan secara militer atau menghapus tatanan demokrasi seperti yang dinyatakan dalam Undang-Undang Layanan Internal Angkatan Bersenjata Turki.

Sumber: Daily Sabah/Anadolu Agency

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x