Friday, July 3, 2020
Kolom

Tanggapan untuk Saudinesia: Bukti hubungan gelap Saudi – Israel

TURKINESIA.NET – KOLOM. Sayangnya, inti utama dari tulisan kami berjudul: “Bukan Turki, tapi Saudi yang promosikan normalisasi hubungan dengan Israel” tidak ditanggapi dengan proposional oleh Saudinesia. Saudinesia hanya fokus pada beberapa kalimat berikut dari ratusan kalimat yang kami tuliskan, “Kemesraan ini terlihat dengan penerimaan Arab saudi atas proposal damai versi Presiden Amerika Donlad Trump menguntungkan Israel. Riyadh juga mengizinkan wilayah udaranya dipakai oleh pesawat komersial terbang dari dan menuju negara Zionis itu.”

Baca juga: Media UEA dan Saudi sebut Erdogan “munafik” dan “bermuka dua”

Kenapa serial yang mempromosikan normalisasi hubungan dengan Israel bisa tayang di channel resmi milik Saudi? Saudi ini negara kerajaan, bukan negara demokrasi seperti Turki, hak ada di tangan Raja. Serial seperti Um Haroon, Exit 7 yang dirasa tidak pantas dan tidak sesuai dengan semangat anti-Israel bisa saja dihentikan atas perintah ulil amri. Tapi poin ini dihindari oleh Saudinesia, kami bisa maklum.

Kami hanya menanggapi upaya permusuhan yang dimulai oleh Saudinesia dengan mengangkat berita tendensius yang berusaha memburukkan citra Turki di dunia Islam. Tulisan berikut merupakan tanggapan kami atas klaim fitnah Saudinesia terhadap tulisan kami sebelumnya. Adapun berita fitnah Saudinesia terkait hubungan Turki dan Israel sudah kami bahas sebelumnya di sini: Pesawat Israel mendarat di Turki? Begini penjelasannya

 

Hubungan Saudi/MBS – Israel

Arab Saudi dan Israel dianggap memiliki hubungan rahasia yang semakin dekat, didorong oleh permusuhan yang sama mereka kepada Iran. Yang namanya hubungan rahasia, lain di kata lain di perbuatan. Tapi fakta di lapangan menjadi bukti ke arah sana. Dengan berbagai maksud dan tujuan, Arab Saudi dan Israel secara de facto bersekutu dalam berbagai upaya menangkal meningkatnya pengaruh Iran di Timur Tengah. Hubungan ini terus berkembang, namun sangat sensitif, dan seringkali memunculkan apa yang terjadi di bawah permukaan. Netanyahu sendiri pada 2017 mengakui kepada BBC bahwa Israel dan beberapa negara Arab sedang mengalami proses “normalisasi subterraneran”.

Baca juga: Saudi follower, Imarah leader

 

Ketakutan atas pengaruh Iran di kawasan

Pada pertengahan November 2017, Kepala Staf militer Israel, Jenderal Gadi Eisenkot, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Saudi yang berbasis di Inggris, Elaph, bahwa Israel siap untuk bertukar informasi dengan pihak Saudi untuk menghadapi Iran.

“Ada kepentingan bersama dan sejauh menyangkut poros Iran, kami dalam kesesuaian penuh dengan Saudi,”

Beberapa hari kemudian, berbicara setelah sebuah konferensi di Paris, mantan Menteri Kehakiman Saudi, Dr Muhammad bin Abdul Karim Issa – yang dekat Putera Mahkota Saudi Mohammed bin Salman – mengatakan kepada surat kabar Israel Maariv bahwa “tidak ada kekerasan atau teror yang bisa dibenarkan dengan mengatasnamakan Islam di manapun, tidak juga di Israel”. Ini adalah kecaman terbuka yang jarang terjadi di dunia Arab: kecaman pihak Arab pada kelompok radikal (pejuang Palestina) yang menyerang orang sipil Israel.

Masih pada November 2017, seorang mantan tokoh militer senior Israel berbicara di London menceritakan dua pertemuan dengan para pangeran senior Saudi, dan keduanya mengatakan kepadanya kira-kira, “Anda bukan musuh kami lagi”.

Sinyal semacam itu bukan dikirim secara tidak sengaja. Semuanya dikoordinasikan dengan hati-hati dan dimaksudkan untuk memperingatkan Iran tentang hubungan yang berkembang sekaligus untuk mempersiapkan masyarakat Saudi mengingat kemungkinan hubungan Saudi-Israel semacam itu bisa menjadi semakin nyata.

Pejabat Israel – mengingat sifat budaya politik mereka – cenderung berbicara secara lebih terbuka tentang hubungan-hubungan politik mereka. Yang kita ketahui tentang realitas praktis atau konten strategisnya mungkin masih terbatas, tapi hubungan itu nyata dan terus tumbuh.

Seorang pejabat AS yang menyaksikan seorang pejabat Saudi dan Israel mengadakan pertemuan tertutup pada 2017 mengatakan pertemuan informal semacam itu telah berlangsung selama “setidaknya lima tahun.”

Pada akhir 1970-an, pemerintah-pemerintah Arab menjadi kurang peduli dengan konflik mereka dengan Israel dan lebih fokus pada modernisasi dan kontinuitas politik, meninggalkan pertanyaan tentang status negara Palestina. Sementara itu, para pejabat Israel dan Saudi mulai menyadari potensi kolaborasi ketika kekhawatiran mereka bertemu selama Revolusi Iran 1979. Kerajaan Sunni dan negara Yahudi sama-sama tidak senang dengan teokrasi Syiah baru yang bermusuhan di lingkungan itu.

“Hubungan intelijen Saudi-Israel telah ada di sana dalam garis besar – pertukaran pandangan – selama beberapa dekade,” kata Simon Henderson, direktur teluk dan program kebijakan  energi di Washington Institute for Near East Policy. “Hubungan ini memiliki kehidupannya sendiri karena Iran. Itulah alasan utama.”

Sementara pemerintah Arab Saudi sejak saat itu memandang Israel sebagai mitra potensial di kawasan itu, mereka terus menolak pelukan diplomatik terbuka, lebih memilih konsultasi yang tidak terekam.

“Ini rahasia umum,” kata Shapiro. “Ada sejumlah besar koordinasi diam-diam di belakang layar di antara mereka – saluran intelijen dan saluran keamanan lainnya – dan itu tetap sepi karena Israel masih tidak populer di negara-negara Arab itu.”

Tiga mantan pejabat AS mengatakan kepada NBC News bahwa diplomat AS terlibat dengan kedua belah pihak dengan asumsi bahwa kedua pihak berbicara secara langsung. Seorang pejabat mengatakan bahwa Israel dan Arab Saudi telah menyampaikan poin keprihatinan yang hampir sama sementara negosiasi sedang dilakukan terkait perjanjian nuklir pemerintahan Obama dengan Iran.

Jared Kushner, menantu dan penasihat presiden, memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan putra mahkota Arab Saudi dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dan dia terus menekan Arab Saudi untuk membantu menindak Hizbullah – yang terus menimbulkan kekhawatiran keamanan utama bagi Israel.

Arab Saudi dan Israel adalah pemberhentian pertama dan kedua, secara berturut-turut, dalam perjalanan perdana Trump ke luar negeri pada bulan Mei 2017. Dan dalam langkah simbolis, Air Force One melakukan perjalanan langsung dari Riyadh ke Tel Aviv – penerbangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca juga dari sumber lainnya: https://international.sindonews.com/berita/1444301/42/mbs-akan-normalkan-hubungan-saudi-israel-jika-as-bantu-kalahkan-iran

Kampanye normalisasi hubungan dengan Israel melalui serial televisi

sejauh ini ada dua serial Saudi yang sangat kontroversial karena dianggap pro Israel. Pertama Um Haroon yang telah dibahas panjang lebar oleh Turkinesia, kedua Exit 7 yang insya Allah akan kami bahas juga nantinya. Exit 7 ini memuji Israel dan menghina Palestina sebagai “tidak tahu balas budi” terhadap Saudi. Meski telah menuai arus protes, serial ini tetap berlangsung di saluran MBC milik Arab Saudi.

 

Penangkapan tokoh Palestina di Saudi dan memasukkan Hamas dalam daftar teroris

Kedekatan Saudi dengan Amerika yang merupakan kakak bagi Israel, membuat kerajaan ini mengikuti beberapa keinginan Paman Sam untuk menangkap tokoh-tokoh Palestina di Arab Saudi dan mengkatagorikan Hamas sebagai organisasi teroris.

Pada hari Minggu, 8 Maret 2020, Arab Saudi mengadakan sidang pertama untuk 68 warga Palestina dan Yordania yang ditahan di penjara dengan tuduhan  “mendukung dan mendanai teror”, serta “berafiliasi dengan sebuah entitas teror”

Pada 9 Maret 2020, Middle East Monitor mengabarkan bahwa Hamas mengeluarkan pernyataan resmi yang mengejutkan dengan mengecam persidangan yang tidak adil dan tuduhan palsu terhadap warga Palestina yang dipenjara di Arab Saudi, kata satu pernyataan.

“Dengan kesedihan dan penyesalan yang besar, Hamas menindaklanjuti persidangan yang tidak adil dan tuduhan palsu yang diajukan oleh otoritas Saudi terhadap sejumlah warga Palestina, yang tidak pernah melakukan kriminal, pelanggaran atau kejahatan,” kata pernyataan itu.

“Menurut Keamanan Negara Saudi, mereka bersalah karena dukungan mereka untuk perjuangan Palestina”

Pernyataan itu melanjutkan: “Hamas dengan keras mengutuk penahanan orang-orang Palestina dan sejumlah orang Arab yang mulia dan menyerukan pembebasan mereka segera.”

Beberapa diduga disiksa, yang lain telah dideportasi; banyak aset mereka dibekukan dan transfer keuangan mereka dipantau. Selain itu, kontrol ketat pada pengiriman uang ke wilayah Palestina telah diberlakukan.

Selama berbulan-bulan, Hamas diam, berharap mediasi politik dapat menyelesaikan masalah ini. Anggota senior Hamas berulang kali mendekati pihak berwenang Saudi mengenai masalah ini dan juga meminta berbagai pejabat Arab untuk melakukannya juga.

Pernyataan resmi yang mengutuk kampanye Saudi terhadap pendukungnya menunjukkan bahwa upaya mediasi telah gagal dan bahwa ketegangan belum terselesaikan. Tampaknya keterlibatan Saudi dengan administrasi Trump dan “kesepakatan abad ini”, serta kampanye diplomatiknya terhadap Iran, telah mempercepat krisis ini.

Juru Bicara Hamas, Hazem Qassim dalam wawancara dengan televisi Almayadeen mengatakan, Arab Saudi harus membebaskan para tokoh Palestina yang ditahan, bukan sebaiknya diadili.

“Mereka  adalah tokoh nasional yang bernilai bagi Palestina,” ujar Jubir Hamas. Ia menekankan bahwa negara-negara Muslim harus memperkuat perjuangan Palestina dan bukan sebaliknya merusak perlawanannya.

Komite Nasional Tahanan Palestina juga meminta pemerintah Saudi segera membebaskan tahanan Palestina dan mengakhiri kebijakan  isolasi sel dan penyiksaan terhadap para tahanan.

Quds Press melaporkan bahwa perwakilan Hamas di Arab Saudi Mohamed Al-Khodari, 81, dan putranya Hani, 49, termasuk di antara mereka yang akan dituntut. Keduanya ditahan pada 4 April 2019.

Pada 5 Agustus 2017, Hamas mengecam sebuah surat kabar Saudi karena menggambarkannya sebagai kelompok teror. Hamas mengatakan sebutan teroris terhadapnya merupakan penghinaan terhadap rakyat Palestina.

“Teroris Hamas menghadiri pelantikan presiden Iran,” Al-Riyadh, sebuah surat kabar pro-pemerintah Saudi, menjadi berita utama pada kunjungan delegasi Hamas ke Iran.

(Baca juga: Dimanakah sebenarnya posisi Hamas terkait Iran?)

“Penunjukan berbahaya ini merupakan penghinaan terhadap reputasi rakyat kami, sejarah mereka, dan perjuangan mereka, dan penghinaan terhadap perlawanan berani mereka membela Palestina, Gaza, dan martabat seluruh bangsa,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan.

Hamas menyesalkan bahwa bahasa tersebut digunakan oleh outlet media Arab yang diterbitkan di ibukota kerajaan, “pada saat musuh Zionis mengejar kejahatan, agresi, dan pelanggaran terhadap rakyat Palestina, Yerusalem, dan masjid al-Aqsa.”

Sebelumnya, Menteri luar negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir mengatakan pada 6 Juni bahwa Qatar harus menghentikan pendanaan “kelompok-kelompok ekstremis”, termasuk Hamas dan afiliasi Ikhwanul Muslimin lainnya, untuk memulihkan hubungan dengan negara-negara teluk.  Hamas yang memerintah di Jalur Gaza, “melemahkan Otoritas Palestina,” tambah menteri Saudi itu.

Qatar membantah memberikan dukungan finansial kepada Hamas, namun mengatakan mendukung warga palestina, dan dengan tegas menolak semua tuduhan bahwa mereka membiayai kelompok teroris.

Hamas dan Arab Saudi memiliki hubungan yang rumit. Setelah Hamas dibentuk pada 1980-an, kepemimpinannya menikmati hubungan baik dengan Arab Saudi selama bertahun-tahun. Meskipun pemerintah Saudi tidak pernah mengirim dana langsung kepada kelompok itu, mereka membiarkan penggalangan dana terjadi di wilayah mereka.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) mulai menekan Otoritas Palestina (PA) untuk menerima kesepakatan Amerika pada awal 2017. Pada tahun 2018, laporan beredar bahwa ia mengeluarkan ancaman dan menawarkan dukungan keuangan untuk mendorong Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk menerima persyaratan dari kesepakatan Amerika.

Kemudian, awal tahun ini, Riyadh mengalihkan pandangannya ke Gaza. Pada bulan April, penangkapan pertama para pendukung Hamas terjadi, termasuk penahanan Dr. Mohammed al-Khodary, yang telah bertanggung jawab atas hubungan bilateral selama lebih dari 20 tahun. Ini diikuti oleh pergeseran yang jelas dalam retorika Saudi di media sosial dan tradisional.

Pada bulan Mei, surat kabar Saudi Mekah menerbitkan daftar 40 tokoh Islam di seluruh dunia yang dicirikan sebagai teroris yang dipengaruhi oleh gagasan Ikhwanul Muslimin. Di antara mereka adalah pendiri Hamas Sheikh Ahmed Yassin, mantan pemimpin Khaled Meshaal, pemimpin saat ini Ismail Haniya, dan komandan militernya Mohammad al-Deif dan Yahya al-Sinwar.

Kemudian, selama serangan Israel terhadap Gaza pada bulan yang sama, para aktivis dan blogger Saudi menulis tweet solidaritas dengan Israel dan menyerang Hamas, menuduhnya bekerja untuk Iran dan Turki dan menuntut agar Israel melawan apa yang mereka sebut “terorisme” dari “pembunuhan” Hamas. Komentar itu disambut secara luas oleh Israel.

Menurut pejabat Hamas yang diajak bicara oleh Dr Adnan Abu Amer yang merupakan kepala Departemen Ilmu Politik di Universitas Ummah di Gaza, Arab Saudi mengatakan Hamas perlu “menyelesaikan masalah mereka dengan Amerika”.

Meskipun tidak jelas apa artinya ini secara khusus, kepemimpinan Hamas percaya bahwa kampanye ini bertujuan untuk menekannya agar menerima “Kesepakatan Abad Ini” dari Trump dan menghentikan perlawanan bersenjatanya terhadap pendudukan Israel.

Selain berusaha memuaskan keinginan Amerika untuk menekan gerakan itu dan mengeringkan sumber pendanaannya, kampanye Saudi melawan Hamas juga berusaha untuk mengekang pemulihan hubungan dengan Iran.

Keputusan Hamas untuk mengumumkan kepada publik tentang kampanye penangkapan Saudi terhadap anggotanya memperjelas bahwa mereka menolak untuk mengejar hubungan yang lebih baik dengan Arab Saudi dengan memutuskan hubungan dengan Iran. Di masa lalu, Hamas telah mempertahankan hubungan yang seimbang dengan kedua negara dan ingin ini terus berlanjut (Baca: Memahami hubungan Hamas dengan Iran: )

Selama kunjungan oleh Donald Trump ke Riyadh pada akhir Mei 2017, presiden pro-Israel itu mengecam Hamas sebagai kelompok teror, dan Riyadh tidak keberatan dengan sebutan itu.

Saat ditanya mengenai sikap negara Arab terkait “Kesepakatan Abad Ini” yang ditawarkan oleh Trump,” seorang aktivis HAMAS mengatakan bahwa “di depan saja mereka menolak, pada praktiknya mendukung.” (tonton: https://www.youtube.com/watch?v=ovr4RGAS44g )

 

Saudi menjamu Rabi Israel

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, seorang rabi bertemu dengan raja Arab Saudi di Riyadh pada Februari 2020. Raja Salman menjamu rabbi yang bermarkas di Yerusalem, David Rosen, di istananya di ibukota Saudi, dalam suatu langkah yang mengindikasikan keinginan monarki untuk lebih membuka diri dengan Israel.

Rosen lahir di Inggris tetapi pindah ke Israel bertahun-tahun yang lalu dan merupakan anggota Komisi Dialog Antaragama Kepala Agama Israel. Dia menghabiskan dua setengah hari di ibu kota Saudi untuk menghadiri pertemuan Pusat Dialog Antaragama dan Antar Budaya King Abdullah, di mana dia adalah anggota dewan direksi.

“Itu menakjubkan. Pengalaman itu benar-benar sesuatu yang istimewa,” kata Rosen  kepada The Times of Israel. “Dan itu bukan hanya pertemuan dengan raja. Hal yang paling menarik adalah bertemu orang-orang muda dan perasaan mereka akan transformasi yang sedang dialami negara mereka.”

Pertemuan pekan lalu sebenarnya adalah kelompok antaragama pertama yang dipandu oleh Raja Salman, kata Rosen.

Rosen yang menjabat sebagai direktur urusan antaragama Komite Yahudi Amerika adalah satu dari sembilan anggota dewan KAICIID yang menghadiri pertemuan dengan Raja Salman dan satu-satunya yang mewakili Yahudi. Delapan lainnya mewakili agama Buddha, Kristen, Hindu, dan Islam.

Sementara pertemuannya dengan raja kemungkinan tidak akan mungkin terjadi tanpa pemulihan hubungan antara Kerajaan Arab Saudi dan Negara Israel, kemungkinan membangun hubungan bilateral tidak dibahas, kata Rosen.

“Sebaliknya: dari sudut pandang Saudi, ada keinginan untuk menghadirkan saya sebagai perwakilan agama, perwakilan dunia Yahudi dan agama Yahudi, dan bukan sebagai perwakilan dari arus politik tertentu,” katanya. “Saya ditunjukkan kepada raja sebagai wakil dari orang-orang Yahudi dan Yahudi, bukan dalam identitas nasional tertentu.”

Rosen yang juga menjabat sebagai rabi komunal di Afrika Selatan dan sebagai kepala rabi Irlandia, mengatakan bahwa ia mendapat kesan bahwa agar hubungan Israel-Saudi tumbuh lebih formal, kemajuan nyata perlu dibuat dalam proses perdamaian Israel-Palestina.

Joel C. Rosenberg, seorang aktivis antaragama Kristen Israel yang berbasis di Yerusalem yang melakukan perjalanan ke Arab Saudi pada bulan September, menyambut undangan Rosen untuk Riyadh.

https://en.wikipedia.org/wiki/Joel_C._Rosenberg

“Saya pikir ini sangat penting bahwa Saudi terus melanjutkan delegasi dan dialog antaragama,” katanya. “Pertemuan antara rabi dan raja sangat penting, karena sejauh yang saya tahu itu pertama kali raja bertemu dengan salah satu delegasi antaragama ini.”

Pada bulan September, Rosenberg, seorang warga negara ganda AS-Israel, memimpin delegasi Evangelis Amerika dalam tur tiga hari ke Jeddah, kelompok kedua tokoh-tokoh gereja terkemuka yang ia bawa ke kerajaan dalam beberapa tahun terakhir. Delegasi tersebut diterima oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman, tetapi tidak oleh raja.

 

“Ini adalah kemajuan yang signifikan, dan saya terdorong,” katanya tentang audiensi Rosen dengan raja. “Ada jalan panjang yang harus ditempuh, ini adalah gerakan yang sangat signifikan, dan saya berharap bahwa Saudi akan terus membangunnya. Tapi saya yakin mereka akan melakukannya.

Aktivis lintas agama AS lainnya yang memiliki hubungan luas dengan Teluk, Rabbi Marc Schneier, awal bulan Februari 2020 juga menghabiskan beberapa hari di Arab Saudi, di mana ia bertemu dengan menteri luar negeri negara itu, Pangeran Faisal bin Farhan bin Abdullah.

Rabbi Marc Schneier

Dia juga telah bertemu dengan raja Bahrain, yang dia beri nasihat tentang urusan antaragama.

Saudi “sangat ingin secara aktif meneruskan segala jenis perdamaian regional,” termasuk membangun hubungan yang semakin terbuka dengan Israel, kata rabi itu. Namun, selama perjalanannya baru-baru ini, dia diberi tahu bahwa “mereka tidak ingin membahas hal ini sampai setelah pemilihan Israel pada 2 Maret.”

Selengkapnya langsung dari sumber aslinya:

(https://www.timesofisrael.com/in-first-saudi-king-hosts-israeli-rabbi-at-royal-palace/ )

Pertemuan Raja Salman dengan pendeta Yahudi

https://twitter.com/IsraelArabic/status/1230540585737629697 

Hubungan Israel dan negara teluk: https://www.youtube.com/watch?v=mvx02dgxnVc

Hubungan gelap Arab-Israel: https://www.youtube.com/watch?v=WSIjkUfbWhY

Hubungan Saudi dengan SDF dan serangan Israel terhadap teroris Syiah Irak

Pada Agustus 2018, Arab Saudi mengatakan telah menyumbang 100 juta USD untuk kelompok SDF di Suriah timur laut untuk “proyek stabilisasi” di daerah yang pernah dikuasai ISIS.

Kedutaan Besar Saudi di AS menggambarkan 100 juta USD sebagai bagian dari janji yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Adel al-Jubeir selama konferensi yang disponsori AS di Brussels terkait ISIS pada bulan Juli di markas NATO.

Pejabat Arab Saudi pada bulan Mei 2018 bertemu dengan tokoh-tokoh top PKK yang berhaluan komunis untuk membentuk koalisi dengan pasukan Arab, menurut laporan Anadolu Agency (AA) pada bulan Juni. Tiga konsultan militer Saudi pergi ke sebuah desa di distrik Ayn al-Arab, juga dikenal sebagai Kobani, untuk mengadakan pertemuan dengan para teroris YPG.

Surat kabar Saudi Okaz, yang dikenal karena sikap anti-Turki dan sebagai corong mulut Putra Mahkota Mohammed Bin Salman, sebelumnya menerbitkan artikel kontroversial tentang PKK di mana mereka mewawancarai seorang tokoh senior dari organisasi teror PKK dan menyebutnya sebagai sebagai menteri luar negeri kelompok itu.

Pada bulan Oktober, media kurdistan24 melaporkan, Menteri Urusan Teluk Saudi, Thamer al-Sabhan, mengunjungi Suriah utara dengan Brett McGurk, utusan khusus AS untuk koalisi melawan ISIS, untuk membahas stabilisasi di Raqqa dan daerah lainnya.

Dukungan SDF / YPG oleh AS telah membawa hubungan antara Ankara dan Washington, dua sekutu NATO, menjadi panas dan berada dalam krisis terendah sepanjang sejarah Turki di NATO. Turki melihat YPG/SDF sebagai kelompok teroris, cabang dari PKK, sementara AS melihat mereka sebagai mitra paling efektif melawan ISIS.

Pada Desember 2019, sebuah delegasi dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi berada di ibukota Saudi, Riyadh untuk diskusi tentang masa depan Suriah utara, kata berita Al-Masdar mengutip harian Rusia Nezavisimaya.

“Sebuah misi dari Pasukan Demokrat Suriah, yang sebagian besar terdiri dari milisi Kurdi, tiba di Arab Saudi untuk menegosiasikan masa depan wilayah timur laut Suriah, yang masih di bawah kendali pasukan ini,” kata Al-Masdar.

Kerajaan secara resmi mengundang delegasi untuk membahas kerja sama lebih lanjut antara SDF dan Riyadh, bersama dengan situasi yang sedang berlangsung di timur laut Suriah, setelah militer Turki melancarkan ofensif pada Oktober, katanya.

Pada Februari 2020, Arabi 21 menuturkan, sejumlah pertemuan dilakukan di kota Al Hasakah, dan di dalamnya dibicarakan upaya melawan pengaruh Iran di wilayah timur Sungai Eufrat yang diduduki SDF. Delegasi Saudi memberikan dukungan dana dan pelatihan untuk milisi bersenjata Al Sanadid, dan untuk pasukan Al Nukhbah afiliasi Tayyar Al Ghad pimpinan Ahmad Al Jarba, mantan ketua koalisi pemberontak Suriah.

Arab Saudi dan Turki adalah di antara negara-negara pertama yang memutuskan hubungan dengan Damaskus setelah dimulainya perang sipil di Suriah pada 2011. Namun Arab Saudi dan Turki telah menjadi saingan untuk memperluas pengaruh mereka di Timur Tengah.

Pada 27 Agustus 2019, media Turki Daily Sabah mengutip Middle East Eye berdasarkan laporan dari pejabat intelijen Irak melaporkan, “serangan pesawat tak berawak Israel terhadap milisi Syiah dukungan Iran di Irak diluncurkan dari pangkalan di bawah kendali kelompok teroris DSF. SDF merupakan kelompok teroris di Suriah utara yang memperoleh dukungan keuangan dari Saudi.

“Serangan pesawat tak berawak diluncurkan dari daerah SDF dengan pembiayaan dan dukungan Saudi,” kata pejabat itu seperti dikutip dalam artikel Middle East Eye. SDF atau Pasukan Demokrat Suriah adalah organisasi yang terdiri dari sebagian besar milisi teroris YPG.

Suriah utara dipilih sebagai pangkalan untuk diluncurkan drone karena pesawat tanpa awak Israel tidak mampu menjangkau Irak dari Israel.

 

Keterlibatan Israel dalam pembunuhan Khashoggi

NSO Group Ltd yang berbasis di Israel diduga telah membantu Arab Saudi melacak dan membunuh jurnalis Jamal Khashoggi pada selasa (2/10/2018). Hal ini dikatakan Edward Snowden, seorang Whistle-Blower buronan Amerika Serikat, dalam konferensi video kepada seluruh masyarakat Israel. Mengutip Israel Globes, Snowden menduga sebuah software Pegasus telah digunakan untuk menginfeksi smartphone Khashoggi serta menjadi perangkat mata-mata. “Bagaimana mereka (Arab Saudi) tahu apa rencana (Khashoggi) dan bahwa mereka harus bertindak melawannya? Informasi itu berasal dari teknologi yang dikembangkan oleh NSO,” kata Snowden. Terkait dugaan itu, perusahaan Israel mengatakan bahwa pihaknya menjual spyware hanya kepada pemerintah yang berwenang untuk digunakan dalam memerangi kejahatan dan terorisme.

Khashoggi, sebelum kematiannya kerap mengkritik penindasan dan kekerasan yang dilakukan MBS terhadap perbedaan pendapat dan demokrasi. Associated Press menyebut, puluhan aktivis Saudi, penulis, ulama, bahkan para wanita ditahan karena menyuarakan pendapatnya soal kebijakan MBS.

 

Diskusi mantan jenderal Saudi dengan media dan tokoh Israel

Berikut video dialog mantan jenderal Saudi dengan seorang diplomat Israel Dore Gold yang telah bertugas di berbagai posisi di bawah beberapa pemerintah Israel. Dia saat ini adalah Presiden Pusat Urusan Publik Yerusalem.

Dialog ini dimoderatori oleh Elliott Abrams, seorang diplomat dan pengacara Amerika yang telah menjabat dalam posisi kebijakan luar negeri untuk Presiden Ronald Reagan, George W. Bush, dan Donald Trump. Abrams dianggap sebagai neokonservatif. Dia saat ini adalah anggota senior untuk studi Timur Tengah di Council on Foreign Relations.

https://www.youtube.com/watch?v=jhnvIOaMRxE

Wawancara eksklusif dengan Anwar Eshki, mantan jenderal Saudi dan arsitek pemulihan hubungan kerajaan Teluk dengan media I24News Israel. Dialog antara kedua negara disatukan oleh musuh bersama: Iran. Sebuah laporan oleh Henrique Cymerman.

Wawancara langsung jenderal Saudi yang “memperjuangkan perdamaian” dengan Israel:

Video: https://www.youtube.com/watch?v=Hnxzyfre3Dc

 

Jurnalis Israel masuk Saudi

Warga Israel i24NEWS ’Henrique Cymerman adalah di antara beberapa turis dan jurnalis yang diizinkan memasuki Arab Saudi dari 50 negara yang berbeda, termasuk entitas Zionis. “Ini adalah momen penting,” kata Cymerman dari Jeddah Arab Saudi, mencatat bahwa Riyadh telah mengubah kebijakannya dalam beberapa bulan terakhir. “Untuk pertama kalinya, Arab Saudi menerima ratusan ribu wisatawan.” Cymerman mengatakan bahwa dia mengadakan pertemuan dengan “orang berpangkat tinggi” dan undangan baru, dalam satu setengah bulan, untuk kembali melakukan perjalanan ke Arab Saudi untuk melanjutkan kontak. “Ada beberapa upaya untuk membuka pintu lain dan memulai tautan lain,” katanya, merujuk pada Arab Saudi. Video bukti: https://www.youtube.com/watch?v=dLyyODAoYCk

 

Blogger Saudi disambut Netanyahu, dilempari oleh warga Palestina

Pada Juli 2019,  Seorang pria asal Arab Saudi yang sedang mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa diusir penduduk Palestina. Mohammed Saud yang mengenakan pakaian tradisional Arab Teluk diusir dari Kota Tua Yerusalem oleh warga Palestina, pada Senin (22/7).

Jurnalis Saudi diterima Israel

Tak hanya itu, Saud dilempari dengan kursi-kursi plastik dan diteriakkan sebagai seorang pengkhianat serta zionis. Video pengusiran tersebut beredar di sosial media dengan tagar berbahasa Arab yang berbunyi, “Saudi diusir dari Yerusalem”.

Tak hanya itu, Saud dilempari dengan kursi-kursi plastik dan diteriakkan sebagai seorang pengkhianat serta zionis. Video pengusiran tersebut beredar di sosial media dengan tagar berbahasa Arab yang berbunyi, “Saudi diusir dari Yerusalem”.

Sumber dari media Israel langsung:

https://www.timesofisrael.com/pm-hosts-arab-media-delegation-including-saudi-blogger-attacked-by-palestinians/

https://www.timesofisrael.com/as-saudi-bloggers-reach-out-to-israel-does-it-signify-a-regional-shift/

Video blogger Saudi dilempar oleh warga Palestina: https://twitter.com/abqatar/status/1153354174341570566

Dilaporkan Aljazirah, Selasa (23/7), Saud merupakan mahasiswa jurusan hukum dan berada di Yerusalem sebagai bagian dari delegasi wartawan bersama enam orang lainnya. Dalam kunjungan pertamanya tersebut, Saud beserta rombongan didampingi Kementerian Luar Negeri Israel.

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan dalam Twitter resminya bahwa delegasi tersebut membawa delegasi wartawan dari Uni Emirat Arab, Irak, Mesir, dan Yordania. Mereka akan mengunjungi Museum Holocaust, Knesset, dan situs suci di Yerusalem.

“Delegasi itu akan mengadakan pertemuan dengan anggota dan diplomat Knesset serta memulai tur ke negara itu,” ujar pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel.

Dalam sebuah pernyataan, Asosiasi Jurnalis Palestina mengecam keras kunjungan tersebut. Mereka menyatakan, Federasi Jurnalis Arab menolak semua jenis normalisasi dengan musuh zionis.

Asosiasi Pers Irak juga mengecam kunjungan itu, dan mengatakan akan mengambil tindakan terhadap anggota yang mengunjungi Israel. Mesir dan Yordania adalah satu-satunya negara Arab yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Kementerian Luar Negeri Israel dalam sebuah wawancara dengan radio militer Israel, Galatz menyatakan, Saud telah mengatakan, penduduk Israel sudah dianggap sebagai keluarganya. Selain itu, Saud juga mengatakan dirinya mencintai Israel.

“Orang Israel mirip dengan saya, mereka seperti keluarga saya. Saya mencintai Israel, dan saya selalu bermimpi untuk mengunjungi Yerusalem,” ujar Saud.

Dalam Twitter-nya, Saud menulis “Only Bibi” dalam bahasa Ibrani, merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Unggahan dalam Twitter Saud sebagian besar yakni me-retweet Netanyahu dan putra perdana menteri, Yair.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Emmanuel Nahshon mengatakan, kehadiran delegasi Arab Saudi adalah sebuah pertanda untuk membangun jembatan perdamaian.

Sepekan sebelumnya, para menteri luar negeri negara Teluk termasuk Israel dan Bahrain mengadakan pertemuan di Amerika Serikat (AS). Pertemuan ini menandai keterbukaan antara negara Teluk dan Israel.

Awal Agustus 2019, aktivis perempuan Saudi, Souad Al-Shammari, mengatakan kepada stasiun televisi Israel bahwa sebagian besar warga Saudi ingin mengunjungi negara Yahudi tersebut.

“Mengunjungi Israel mungkin adalah impian banyak orang Saudi dan orang-orang Teluk serta negara-negara Arab,” terangnya dalam sebuah wawancara dengan lembaga penyiaran publik Israel, Kan.

Otoritas Arab Saudi, Senin (14/10/2019), menangkap salah satu aktivis yang menentang normalisasi hubungan dengan Israel, serta mendukung perjuangan Palestina.

Aktivis tersebut adalah Abdul Aziz Al-Audah. Media anti-Israel melaporkan penangkapan serupa sering berlangsung di negara itu. Hal tersebut merupakan langkah awal dari hubungan diplomatik yang akan segera dibangun antara Saudi dan Israel.

Pihak keluarga menyebutkan bahwa keputusan penangkapan itu berawal dari sebuah status di media sosial bernada dukungan terhadap pejuang Palestina.

*****

Ketakutan berlebihan Saudi terhadap Iran menjadikan kerajaan tersebut tidak bisa berlepas diri dari ketiak Amerika. Ketakutan mereka terhadap orang gila (Baca: Iran yang berpahan sesat, membuat mereka menjadikan preman sebagai bodyguard. Kebutuhan mereka kepada AS membuat Saudi, mau tidak mau, harus menuruti keinginan Paman Sam, termasuk terkait bangsa Palestina.

‌Memang, mesti diakui ada bantuan finansial pencitraan Saudi terhadap Palestina, namun pada akhirnya, intinya,  bagaimana sikap rakyat Palestina terhadap Saudi itu yang patut kita garis bawahi. Kenapa rakyat Palestina lebih respek terhadap Turki dan Qatar? Atau kenapa Hamas kini lebih mendekat ke Iran? Kenapa Saudi memasukkan Hamas dalam daftar organisasi teroris? Dan berbagai pertanyaan lainnya.

‌Jika ada jawaban dari Saudinesia, maka harapan kami, itu merupakan jawaban secara menyeluruh, bukan hanya terkait satu dua kalimat yang dianggap kurang data, lalu mengoceh fitnah secara panjang sekali dengan narasi basi dari pejabat kerajaan yang bertolak belakang dengan fakta di lapangan, lain di lisan lain pula perbuatan. Pada akhirnya, hubungan gelap memang rumit untuk dibuktikan, karena permainannya dalam gelap, sembunyi-sembunyi, namun betapa pun rahasianya, pada akhirnya akan tercium juga. Mungkin beberapa tahun ke depan, hubungan itu, di bawah Pangeran muda Muhammad bin Salman, yang kini menjadikan Muhammad bin Zayed sebagai mentor, akan terwujud nyata. Harapan kita semua, semoga saja tidak demikian. []

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Tanggapan untuk Saudinesia: Bukti hubungan gelap Saudi – Israel […]

RKJABARJUARA
RKJABARJUARA
1 month ago

Kenapa sih kelompok anda selalu saja menyerang sosok yang inovatif, kreatif dan dekat dengan millenial + gen Z seperti MBS. Begitu juga dengan kelompok anda versi indonesia (PKS) yang menyerang bapak Ridwan Kamil yang sama2 inovatif. MBS dengan vision 2030nya yang ingin membahagiakan warganya malah disebut antek yahudi, Pak RK dengan Jabar Juaranya dituduh demikian hanya gara2 bentuk segitiga di sebuah masjid rancangannya. Saya sarankan anda lebih baik fokus saja memberitakan Erdogan daripada menyudutkan tokoh lain.

error: Content is protected !!
2
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x