Wednesday, August 12, 2020
Agama

Setelah banjir hujatan, lembaga fatwa Mesir revisi pernyataan: Penaklukan Istanbul tidak ada hubungannya dengan Erdogan

TURKINESIA.NET – KAIRO. Ketegangan antara Mesir dan Turki tidak menunjukkan tanda-tanda mereda karena otoritas keagamaan Kairo, Dar al-Ifta, mendeskripsikan penaklukan Ottoman terhadap Konstantinopel tahun 1453 sebagai penjajahan.

Pernyataan itu dikeluarkan pada hari Minggu oleh Dar al-Ifta di halaman Facebooknya dalam serangan terhadap Presiden Recep Tayyip Erdogan yang dituduh menggunakan agama untuk memperluas “ambisi kolonial” di luar negeri.

“Hagia Sophia dibangun sebagai sebuah gereja selama periode Bizantium pada 537 M, dan itu tetap bertahan selama 916 tahun sampai Ottoman menduduki Istanbul [Konstantinopel] pada tahun 1453, mengubah bangunan menjadi masjid,” kata otoritas Mesir yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan fatwa agama.

Setelah postingan tersebut menyebabkan kegemparan di media sosial, Dar al-Ifta mengeluarkan koreksi pada hari berikutnya.

“Kami telah berulang kali mengkonfirmasi dengan dokumen dan bukti bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terus menggunakan fatwa sebagai sebuah senjata untuk memasang tirani di Turki atas nama agama, dan untuk membenarkan ambisinya di luar negeri atas nama dugaan kekhalifahan,” katanya.

“Adapun untuk penaklukan Konstantinopel, itu adalah penaklukan Islam yang besar yang diberitakan oleh Nabi dan itu dilakukan oleh Sufi agung Usmani Sultan Muhammad Alfatih,” lanjutnya, merujuk pada Sultan Mehmet II.

“Tapi Erdogan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Muhammad Alfatih.”

Kepala otoritas agama Turki, Ali Erbas, menyebut pernyataan Dar al-Ifta “tidak menguntungkan dan jelek”.

Tahun lalu, presiden Turki berjanji untuk mengembalikan status museum Hagia Sophia kembali ke masjid.

Itu bukan pertama kalinya otoritas agama Mesir menuduh Erdogan menggunakan agama untuk memaksakan hegemoni Turki di negara-negara Arab yang sebelumnya berada di bawah imperium Ottoman.

“Presiden Turki dan para pengikutnya tidak kebal dari penggunaan wacana keagamaan secara umum, dan fatwa khususnya, sebagai kedok untuk operasi militer mereka,” kata Dar Ifta pada Februari.

Hubungan antara Turki dan Mesir memburuk sejak militer pimpinan Abdel-Fattah el-Sisi menggulingkan Presiden Mohamed Morsi yang terpilih secara demokratis pada 2013. Ankara belum mengirim duta besar untuk Kairo sejak itu.

Pada saat itu, Erdogan mengatakan dia “tidak akan pernah berbicara dengan seseorang seperti” el-Sisi dan menyerukan pembebasan tahanan Ikhwanul Muslimin di Mesir.

“Ada sistem otoriter, bahkan totaliter,” katanya, merujuk pada pemerintah Mesir di bawah el-Sisi.

Kedua negara juga berselisih mengenai yurisdiksi maritim dan sumber daya lepas pantai di Mediterania timur dan mendukung pihak yang berlawanan dalam konflik Libya.

Sumber: Aljazeera English

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Setelah banjir hujatan, lembaga fatwa Mesir revisi pernyataan: Penaklukan Istanbul tidak ada hubunga… […]

error: Content is protected !!
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x