Friday, October 30, 2020
Kolom

Dari Malazgirt Anatolia ke Gampong Pande Aceh

Oleh: Muhammad Haykal*

TURKINESIA.NET – KOLOM. Hari ini masyarakat Turki memperingati perang Malazgirt atau Manzikert yang merupakan titik awal mula masuknya peradaban Turki ke Anatolia pada tahun 1071 atau 949 tahun silam. Dalam rangka memperingati “Malazgirt 1071” pemerintah Turki mengadakan semacam peringatan di komplek makam kuno Turki yang berada di kota Ahlat. Makam tersebut tercatat di Unesco sebagai warisan budaya dunia.

Sekilas ketika melihat background batu nisan tempat Presiden Erdoğan & Devlet Bahçeli berfoto saya langsung terbayang ke makam-makam kuno Aceh Darussalam yang terletak di berbagai daerah di Aceh baik di Gampong Pande, Makam Kandang XII, dst, dengan ukuran yang lebih kecil namun memiliki corak yang serupa.

Aceh pamerkan manuskrip dan korespondensi Ottoman di Istanbul

 

Hanya saja, kondisi batu nisan di Aceh tak seperti di Turki -yang terawat dan menjadi pusat wisata yang menyumbang devisa negara- kondisi makam-makam di Aceh dibiarkan terlantar setengah tenggelam di atas lumpur. Ironisnya lagi, di tempat tersebut hendak diadakan pembangunan pusat pembuangan limbah.

Mantan PM Turki dapat hadiah buku “Kesultanan Aceh Darussalam”

Saya tak ingin membahas bagian adab terhadap leluhur dan lain-lain, (walaupun itu hal paling utama), namun jika dilihat dari perspektif ekonomi, ini tentu sangat merugikan Pemda & Pemkot. Lokasi makam-makam tersebut yang rata-rata terletak di pesisir pantai Banda Aceh apabila dapat diberdayakan semaksimal mungkin dapat disulap menjadi pusat wisata & kebudayaan yang mendatangkan devisa daerah, bahkan mungkin para investor perhotelan nantinya pasti akan tertarik apabila Banda Aceh memiliki situs-situs baru seperti makam di gampong Pande ini. Namun tetap yang harus digaris bawahi adalah konsep pembangunan pusat wisata & kebudayaan yang baru ini haruslah dengan konsep Syariah & sesuai dengan adat dan reusam Aceh, (bangunan-bangunan rendah dari kayu, dengan ukiran-ukiran Aceh & tinggi tak melebihi masjid raya), bukan dengan mengikuti konsep kapitalis. Bisa dilihat lokasi strategis yang saya maksud di peta terlampir.

Cerita mahasiswa Aceh: Profesor Turki terkejut Aceh pernah bantu Ottoman dalam perang Krimea

Intinya, kita semua perlu perspektif baru dalam membangun kota. Tak hanya memikirkan keuntungan sementara, namun jangka panjang. Tak hanya keuntungan dunia, namun disertakan dengan akhirat.

Istanbul 25/08/2020

*Penulis merupakan Ketua  Ikatan Masyarakat Aceh-Turki (IKAMAT) dan mahasiswa jurusan Islamic Studies and History di Marmara University

4.5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x