Friday, October 30, 2020
Kolom

Benarkah Turki memusuhi negara-negara dan warga Arab?

TURKINESIA.NET – KOLOM. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengunjungi Kuwait dan Qatar pekan lalu untuk membahas masalah regional dan internasional. Dia menerima sambutan yang sangat hangat dengan resepsi kerajaan di kedua negara di mana dia disambut sebagai teman baik para pemimpin dan rakyat negara tersebut. Di Kuwait, Erdogan bertemu dengan Emir baru, Sheikh Nawaf Al-Ahmad Al-Sabah, menyampaikan belasungkawa atas kematian pendahulunya Sheikh Sabah Al-Ahmad Al-Sabah, yang meninggal baru-baru ini di usia 91.

Di Qatar, Erdogan bertemu Emir Sheikh Tamim Bin Hamad Al-Thani secara tertutup sebelum berbicara kepada media. Mereka membahas peluang untuk memperkuat kerja sama bilateral.

Selama berada di Qatar, presiden mengunjungi pangkalan militer Turki. Dia mengatakan kepada tentara bahwa kehadiran Turki di Negara Teluk kecil itu “adalah simbol persaudaraan, persahabatan, dan solidaritas antara kedua negara.”

“Qatar menjadi lebih kuat sejak diblokade blok Saudi”

 

Dalam satu wawancara dengan seorang jurnalis senior lokal, Erdogan mengatakan bahwa kehadiran militer Turki di Qatar demi melayani stabilitas dan perdamaian, tidak hanya di sana tetapi juga di seluruh Teluk. “Tidak seorang pun terganggu dengan kehadiran Turki dan militer Turki di Teluk, kecuali mereka yang membuat rencana untuk kekacauan,” tegasnya.

Pernyataan ini memicu kampanye kebencian yang sengit di media sosial, terutama di Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya. Pernyataan tersebut terpicu oleh komentar dari pejabat Saudi yang memfitnah sejarah Turki. Menurut akademisi Saudi Ahmed Al-Qubiban berbicara kepada RT Arabic TV minggu lalu, Turki “adalah kekuatan kolonial yang bekerja keras untuk menghidupkan kembali warisan kolonialnya di wilayah Teluk.” Dia mengklaim bahwa pangkalan militer Turki di Qatar “membelah” negara-negara kawasan dan berkontribusi memecah dunia Islam. Turki Erdogan, katanya, dating ke Qatar untuk mendapatkan suntikan dana untuk “ekonominya yang sakit”.

Kepala Kamar Dagang Arab Saudi, Ajlan Al-Ajlan baru-baru ini menyerukan “boikot atas semua hal yang terkait Turki, baik itu impor, investasi atau pariwisata… [ini] adalah tanggung jawab setiap ‘pedagang dan konsumen’ Saudi, dalam menanggapi permusuhan berkelanjutan dari pemerintah Turki terhadap kepemimpinan, negara, dan warga negara kami. ” Seruan boikot ini digaungkan oleh Pangeran Saudi Abdulrahman Bin Musa’ad.

Dunia bisnis di Arab Saudi telah diberitahu untuk menandatangani janji agar tidak mengimpor barang dari Turki. “Mereka yang memiliki investasi besar di Turki dipaksa untuk mengizinkan orang ketiga agar menjual investasi mereka dan membayar kembali uang tersebut ke kerajaan,” lapor Mujtahid di Twitter.

Saudi mau ke mana?

Mengapa ada kebencian seperti itu terhadap Turki yang melayani rakyat Arab lebih dari negara-negara Arab itu sendiri? Pertama-tama, saya akan memberi tahu orang-orang Arab yang mengklaim bahwa Turki bukan negara Arab, dan dukungan Turki kepada orang-orang Arab adalah upaya untuk mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Arab, bahwa Arabisme bukanlah etnis. Menurut ahli bahasa, afiliasi dengan bahasa Arab, terlepas dari asal atau agamanya, membuat seseorang menjadi Arab. Saya kemudian akan bertanya kepada mereka yang mengutuk dukungan Turki untuk rakyat Arab dan tujuan mereka, apa yang telah Anda lakukan untuk rakyat Arab sehingga membuat orang lain tidak perlu membela Anda? Jawaban singkatnya adalah… tidak ada.

Negara-negara Arab, termasuk Mesir, Yordania, dan Negara-negara Teluk yang dipimpin oleh Arab Saudi, telah menjual tujuan-tujuan Arab, bukan untuk keuntungan apa pun, tetapi secara gratis. Mesir dan Yordania menjual Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki oleh Israel saat berada di bawah kendali mereka, ketika mereka menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Kuwait menghancurkan warga Palestina setelah Perang Teluk 1991 karena dukungan Yasser Arafat untuk Irak. Arab Saudi dan UEA menahan lusinan warga Palestina di penjara terkenal.

Semua negara Arab telah mengambil bagian dalam pengepungan finansial yang dikenakan pada Palestina, dan Liga Arab sama sekali telah berhenti membayar iurannya. Ketika Ahmed Aboul Gheit Sekretaris Jenderal organisasi Liga Arab saat ini masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Mesir, dia berjanji untuk mematahkan kaki setiap orang Palestina yang mendekati Mesir untuk mendapatkan makanan dan obat-obatan selama diblokade ketat oleh Israel. Diceritakan bahwa mantan Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni menyatakan perang terhadap Gaza pada tahun 2008 saat berdiri di samping Aboul Gheit di Kairo.

Pangeran MBS sebut Turki-Qatar-Iran sebagai “Segitiga Setan”, picu kemarahan rakyat Turki di Sosmed

Apa yang disebut “Inisiatif Perdamaian Arab” tidak menjamin hak-hak Palestina; itu dibuat sebagai daun ara bagi orang Arab ketika mereka ingin menyembunyikan kegagalan mereka untuk mendukung perjuangan Palestina. “Kesepakatan damai” antara UEA, Bahrain dan negara pendudukan Israel, tidak perlu dikatakan, tidak melakukan apa-apa bagi Palestina.

Selain  masalah Palestina, siapakah yang berada di balik penderitaan rakyat Mesir? Ya, Barat mendukung kudeta militer 2013, tetapi alat mereka melakukan kudeta tersebut adalah Negara Arab, yaitu mereka yang menjadi ujung tombak demonisasi Turki: Arab Saudi dan UEA.

Siapa yang bertanggung jawab atas penderitaan rakyat di Suriah, Libya, Somalia dan Yaman? Negara Arab dan rezim Arab telah melakukan kejahatan perang di semua negara ini. Di Libya mereka telah mengabaikan Pemerintah Kesepakatan Nasional yang sah yang dipimpin oleh Fayez Al-Sarraj, dan sebaliknya mendukung panglima perang Khalifa Haftar yang pemberontak.

Menyebutkan kekejaman yang dilakukan oleh orang Arab terhadap sesama Arab, dan rezim Arab terhadap rakyatnya sendiri, meninggalkan rasa pahit. Namun demikian, saya akan mengingatkan Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir bahwa mereka bahkan melarang susu bayi ketika mereka melakukan pengepungan di Qatar pada tahun 2017.

Pengingat lain untuk “champion” Arab ini adalah bahwa Erdogan non-Arablah yang memberitahu mendiang Presiden Israel Shimon Peres di Davos di depan seluruh dunia bagaimana pendudukan Israel membunuh anak-anak Palestina. Orang-orang Arab yang melarikan diri dari penindasan para diktator di tanah mereka sendiri menuju Turki untuk bergabung dengan 5 juta pengungsi Arab lainnya di sana. Di negara-negara Arab, sementara itu, orang Arab Palestina dan Suriah tidak diberi kesempatan kerja yang sama.

Sudahkah negara-negara Arab membebaskan dan mengamankan bagian mana pun dari Suriah seperti yang dilakukan Turki? Turki membangun kembali rumah dan infrastruktur dan menawarkan makanan dan perawatan kesehatan bagi warga Suriah, sementara juga menampung 3,7 juta pengungsi Suriah. Krisis Suriah adalah saksi berkelanjutan dari fakta bahwa baik orang Arab maupun teman-teman mereka di Barat saat ini tidak berbuat lebih banyak untuk kemanusiaan daripada Turki di mana, kebetulan, 20.000 siswa Arab mendapatkan uang sekolah gratis atau gratis sebagian di universitas Turki.

Melihat kokohnya hubungan bilateral Turki-Qatar

 

Sumbangan seperti itu telah meluas hingga ke respon Turki terhadap pandemi Covid-19. Pemerintah Erdogan telah mengirimkan obat-obatan dan peralatan medis ke lebih dari 160 negara di seluruh dunia, termasuk AS, Inggris, Prancis, dan Italia, serta negara-negara Arab dan Afrika. Apa yang telah dilakukan orang Arab? Arab Saudi, negara-negara Arab, telah menghasilkan penutup muka terbesar di dunia (untuk menutupi malunya). Itu dia. Apakah Turki benar-benar menentang negara-negara Arab dan rakyatnya? Bukti menunjukkan bahwa jawabannya adalah tidak, dan rezim tirani yang berkuasa  (di Arab)  tidak menyukainya.

Ditulis oleh: Motasem A Dalloul

Penulis merupakan koresponden Middle East Monitor di Jalur Gaza, Palestina)

Twitter: twitter.com/abujomaaGaza 

 

Dimanakah sebenarnya posisi Hamas terkait Iran?

5 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x