Thursday, November 26, 2020
Islamophobia

Eropa kompak dukung Prancis dan ancam Turki untuk hentikan provokasi

TURKINESIA.NET – PARIS. Di tengah meningkatnya aksi protes oleh jutaan Muslim di seluruh dunia atas karikatur penghinaan Nabi Muhammad dan tindakan islamofobia di Prancis, para pemimpin Eropa terus menunjukkan sikap saling mendukung sentimen anti-Muslim dan menganggap ujaran kebencian sebagai kebebasan berbicara.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab, dalam teguran terselubung kepada Turki, meminta sekutu NATO untuk berdiri bahu membahu mengenai nilai-nilai toleransi dan kebebasan berbicara.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pekan lalu mengatakan dia tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi. Pernyataannya telah memicu kemarahan di dunia Arab dan Muslim.

Presiden Recep Tayyip Erdoğan menanggapi pernyataan Macron dengan mendesak warga Turki untuk berhenti membeli produk Prancis dan mendakwa Prancis melakukan agenda anti-Islam.

“Inggris berdiri dalam solidaritas dengan negara dan rakyat Prancis setelah pembunuhan mengerikan Samuel Paty,” kata Raab dalam sebuah pernyataan. “Terorisme tidak pernah dan tidak boleh dibenarkan.” Lanjutnya.

“Sekutu NATO dan komunitas internasional yang lebih luas harus berdiri bahu membahu tentang nilai-nilai dasar toleransi dan kebebasan berbicara, dan kita tidak boleh memberikan teroris hadiah untuk memecah belah kita.”

Sementara itu, pada hari Selasa Prancis juga mendesak sesama pemimpin Uni Eropa untuk mengambil tindakan terhadap Turki.

“Prancis bersatu dan Eropa bersatu. Pada pertemuan Dewan Eropa berikutnya, Eropa harus mengambil keputusan yang memungkinkannya memperkuat keseimbangan kekuatan terhadap Turki untuk lebih membela kepentingan dan nilai-nilai Eropa,” kata Menteri Perdagangan Franck Riester kepada anggota parlemen.

Prancis tampaknya memimpin Eropa dengan sikap Islamafobianya. Namun Prancis tidak sendirian karena banyak negara Eropa lainnya mengikuti jalannya.

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte pada hari Selasa mempertimbangkan pertikaian yang berkembang antara Erdogan dan seorang anggota parlemen anti-Muslim Belanda, Geert Wilders.

Erdogan pada Selasa mengajukan tuntutan pidana terhadap politisi sayap kanan Belanda itu atas tweet yang menghina dirinya.

Gugatan itu muncul setelah Wilders, yang dikenal dengan sikap anti-Islamnya, membagikan sebuah kartun presiden Turki mengenakan topi Ottoman berbentuk seperti bom dengan sumbu menyala.

Media Turki Anadolu Agency (AA) mengatakan Erdogan membawa pengaduan pencemaran nama baik di hadapan jaksa penuntut negara di Ankara terhadap Wilders, yang juga men-tweet kata “Teroris” di postingan kartun itu.

“Mengajukan keluhan terhadap politisi Belanda yang dapat membatasi kebebasan berekspresi tidak dapat diterima,” kata Mark Rutte.

Rutte mengatakan dia “berbicara langsung dengan presiden Turki” tetapi keberatan Belanda juga akan disuarakan melalui saluran diplomatik lainnya.

Rutte juga salah satu pemimpin Eropa pertama yang mendukung Macron.

Keluhan terhadap Wilders “melampaui semua batas,” kata Rutte.

Sementara itu, Juru Bicara Uni Eropa Peter Stano mengatakan dirinya tidak akan menunda pertemuan mendesak para pejabat Uni Eropa menyusul komentar Erdogan.

“Kami jelas mengharapkan adanya perubahan sikap dan pernyataan terbuka dari Turki,” kata Stano dalam konferensi pers.

Stano menyebut akan sering mengadakan diskusi “untuk melihat apakah kami akan terus menunggu atau mengambil langkah selanjutnya dengan lebih cepat”, dilansir France24, Selasa (27/10/2020).

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menyatakan bahwa penghinaan Erdogan terhadap Macron adalah ‘titik terendah baru (dalam hubungan bilateral’.

Maas mengaku negaranya akan terus “berdiri dalam solidaritas dengan teman-teman Prancis”.

Selanjutnya, dukungan datang dari Italia saat PM Giuseppe Conte menyayangkan ucapan Erdogan terhadap Presiden Macron.

“Kata-kata Presiden Erdogan kepada Presiden Macron tak dapat diterima,” tulisnya di Twitter.

Presiden Yunani Katerina Sakellaropoulou menyebut retorika Erdogan justru “memicu fanatisme agama dan intoleransi atas nama konflik kebudayaan, dan ini tidak dapat ditoleransi”.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pekan lalu mengatakan dia tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi. Pernyataannya tersebut telah memicu kemarahan di dunia Arab dan Muslim.

Pada 2 Oktober, Macron mengumumkan rencana kontroversial untuk mengatasi apa yang dia sebut “separatisme Islam” di Prancis, mengklaim bahwa agama Islam berada dalam “krisis” di seluruh dunia dan berjanji untuk “membebaskan Islam di Prancis dari pengaruh asing.”

Ia mengatakan pemerintah akan mengajukan rancangan undang-undang pada bulan Desember untuk memperkuat undang-undang tahun 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis.

Banyak organisasi non-pemerintah (LSM) dan masjid telah ditutup dalam dua minggu terakhir, sementara serangan terhadap Muslim meningkat tajam.

Dia juga mengumumkan pengawasan yang lebih ketat pada sekolah dan kontrol yang lebih baik atas pendanaan masjid asing.

Sumber: Daily Sabah/Tribunnews

4.1 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Jan Anwar
Jan Anwar
28 days ago

Para penjajah lama yg anti Islam mmg masih ada di Eropa yg katanya sdh modern. Ternyata masih jauh dari beradab.

Dg penuh keculasan dan kebodohan ..mereka menganggap menghina agama lain adalah kebebasan berekspresi

EDYBAKRI
EDYBAKRI
27 days ago

UNI EROPA GAK BELAJAR DARI SEJARAH NENEK MOYANGNYA YG KALAH MELWAN TURKEY PADA PERANG MOHAK TAHUN 1572 M

Abu Hanifah
Abu Hanifah
27 days ago

Parah inilah topeng aslinya – penjajah yetsp penjajah

error: Content is protected !!
3
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x