Tuesday, November 24, 2020
Asia

Turki kecam pembunuhan brutal pasukan elit Australia terhadap 39 warga sipil Afghanistan

TURKINESIA.NET – ANKARA. Turki mengecam pembunuhan brutal pasukan Australia terhadap 39 warga sipil Afghanistan, mengganggap hal itu sebagai kebiadaban.

“Ini adalah barbarisme modern. Telah dipahami bahwa 39 warga sipil tawanan sengaja dibunuh di Afghanistan demi menunjukkan bahwa rekrutan tentara Australia siap membunuh,” kata Juru Bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin di Twitter pada hari Jumat.

Protes yang meluas diperkirakan terjadi di Australia dalam beberapa hari mendatang karena rincian laporan tersebut telah tersebar ke publik melalui media lokal.

Otoritas Australia pada Kamis akhirnya merilis rincian penyelidikan atas setidaknya 39 insiden pembunuhan warga sipil oleh pasukan khusus mereka di Afghanistan.

Kepala Pasukan Pertahanan Australia Jenderal Angus Campbell meminta maaf kepada warga Afghanistan saat dia berbagi rincian mengerikan dari penyelidikan tersebut.

“Kepada rakyat Afghanistan, atas nama Angkatan Pertahanan Australia, saya dengan tulus dan tanpa pamrih meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh tentara Australia. Saya telah berbicara langsung dengan rekan Afghanistan saya, Jenderal (Yaseen) Zia, untuk menyampaikan pesan ini,” katanya dalam pidato di televisi.

Perilaku seperti itu, katanya, “sangat tidak menghormati kepercayaan yang diberikan pada pasukan Australia oleh rakyat Afghanistan, pada saat mereka meminta bantuan kami.”

“Beberapa anggota yang berpatroli main hakim sendiri, melanggar aturan, mengarang-ngarang kejadian, kebohongan diceritakan dan tahanan dibunuh,” kata Angus Campbell.

Menurut Campbell, ada 25 anggota pasukan khusus Australia yang dituduh melakukan kesalahan tersebut dalam 23 peristiwa di Afghanistan. Sebanyak 19 anggota dan mantan pasukan militer akan diserahkan ke penyelidik khusus untuk menentukan apakah ada bukti yang cukup.

“Catatan memalukan ini mencakup dugaan kasus di mana anggota baru dipaksa untuk menembak seorang tahanan untuk menandai dia melakukan pembunuhan pertamanya. Praktik mengerikan yang dikenal sebagai ‘blooding’,” ucap dia.

Dia juga menyerukan agar beberapa medali layanan terhormat yang diberikan kepada pasukan operasi khusus yang bertugas di Afghanistan antara 2007 dan 2013 dicabut.

Setelah serangan teror 11 September 2001, Australia mengirimkan lebih dari 26 ribu tentara ke Afghanistan untuk berperang bersama AS dan pasukan sekutu melawan Taliban, Al-Qaeda, dan kelompok lainnya.

Pasukan tempur Australia meninggalkan negara itu pada 2013. Namun sejak itu serangkaian laporan investigasi yang menunjukkan kebrutalan pasukan khusus mereka di Afghanistan muncul.

Mulai dari laporan tentang tentara yang membunuh seorang anak berusia enam tahun dalam penggerebekan rumah hingga seorang tahanan yang ditembak mati untuk menghemat ruang di dalam helikopter.

Menyambut pengakuan publik atas kejahatan tersebut, komitmen terhadap keadilan dan kompensasi bagi para korban, Kementerian Luar Negeri Afghanistan menyebut pembunuhan warga sipil “tak termaafkan.”

Sementara itu, istana kepresidenan Afghanistan di Kabul mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Presiden Mohammed Ashraf Ghani menerima panggilan telepon dari Perdana Menteri Australia Scott Morrison atas laporan tersebut.

“Dalam panggilan telepon ini, Perdana Menteri Australia mengungkapkan kesedihannya yang paling dalam atas kesalahan yang dilakukan oleh beberapa pasukan Australia di Afghanistan dan meyakinkan Presiden Republik Islam Afghanistan tentang penyelidikan dan untuk memastikan keadilan,” bunyi pernyataan itu.

Sumber: Daily Sabah / Tempo

5 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Muhammad Bahrul Ulum
Muhammad Bahrul Ulum
3 days ago

Jangan pernah memberikan kepercayaan apapun kepada Barat! Kasihan rakyat sipil. Biasanya merekalah yang jadi tumbal kebiadaban Barat.

error: Content is protected !!
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x