Tuesday, November 24, 2020
Islamophobia

Macron tuduh Turki kobarkan kebencian Afrika terhadap Prancis

TURKINESIA.NET – PARIS. Di tengah meningkatnya ketegangan antara Paris dan Ankara, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Jumat menuduh Turki mempromosikan sentimen anti-Prancis di Afrika.

Berbicara kepada majalah Jeune Afrique, Macron mengklaim Turki dan Rusia sedang mencoba untuk memainkan “kebencian pasca-kolonial” terhadap Prancis.

“Kita tidak boleh naif dalam hal ini: banyak dari mereka yang berbicara, yang membuat video, yang hadir di media berbahasa Prancis didanai oleh Rusia atau Turki,” katanya kepada majalah tersebut.

Macron menuduh Turki berkontribusi pada kesalahpahaman terhadap pembelaannya atas karikatur Nabi Muhammad setelah terjadinya pembunuhan guru sekolah Prancis Samuel Paty, yang dibunuh usai menunjukkan karikatur di kelasnya tentang kebebasan berbicara.

Prancis: Pendatang yang tidak terima karikatur Nabi Muhammad bisa dideportasi

“Ketika saya memutuskan untuk menyerang Islam radikal… kata-kata saya terdistorsi oleh Ikhwanul Muslimin – cukup luas – tetapi juga oleh Turki, yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi banyak opini publik, termasuk di sub-Sahara Afrika,” kata pemimpin Prancis.

Awal tahun ini, kementerian luar negeri Prancis melalui Twitter mengutuk TRT World, penyiar negara Turki, atas video yang dibuatnya tentang sejarah kolonial Prancis di Afrika.

Kemenlu Prancis mengklaim video itu “bias”. Mereka menolak klaim yang dibuat dalam video tersebut bahwa perbendaharaan Prancis menguasai mata uang dari 14 negara Afrika.

Pembelaan pemerintah Prancis terhadap karikatur pelecehan Nabi Muhammad setelah pembunuhan Samuel Paty mendorong Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang berselisih dengan Macron atas beberapa masalah, untuk menyerukan boikot barang-barang Prancis.

Demonstrasi juga terjadi di seluruh dunia Muslim yang mengecam sikap Prancis terhadap Islam.

Kritik Macron terhadap Turki datang beberapa hari setelah dia meminta para pemimpin Muslim di Prancis untuk menyusun piagam “nilai-nilai republik” sebagai bagian dari tindakan keras yang lebih luas terhadap yang dianggap sebagai Islam radikal.

Macron beri Muslim Prancis waktu dua pekan untuk buat perjanjian tunduk kepada negara

Rancangan undang-undang tentang “separatisme” diharapkan akan diajukan ke kabinet pada 9 Desember. Kutipan dari RUU tersebut dilaporkan mencakup pembatasan pada home-schooling dan mengeluarkan “nomor identifikasi” anak untuk memastikan mereka bersekolah.

Sumber: Middle East Eye

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Jan Anwar
Jan Anwar
2 days ago

Itulah namanya kebebasan berekspresi, macron bodooooh

error: Content is protected !!
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x