Friday, March 5, 2021
Jejak Ottoman

SEJARAH: Tanpa bantuan Ottoman, Prancis mungkin sudah musnah

TURKINESIA.NET – SEJARAH. Perang kata-kata oleh Presiden Prancis Emmanual Macron terhadap Turki telah memberikan tekanan besar pada hubungan bilateral antara Ankara dan Paris. Terlepas dari omelan Macron yang tak henti-hentinya terhadap Turki dan Presiden Recep Tayyip Erdogan, namun pandangan umum dalam lingkaran kebijakan Ankara adalah bahwa “hanya Macron yang memiliki masalah dengan Turki,” bukan publik Prancis.

Perasaan ini berakar pada aliansi bersejarah antara Kesultanan Ottoman yang merupakan pendahulu Republik Turki dan monarki Prancis yang berasal dari abad ke-16 ketika Sultan Suleiman Al-Qanuni memasuki perang Mohacs pada tahun 1526, mengalahkan kekaisaran Hongaria yang merupakan sekutu terkuat monarki Austria, Habsburg.

Bagaimana keputusan Sultan Suleiman untuk melawan Kekaisaran Hongaria membantu monarki Prancis saat itu?

Membentuk aliansi dengan seorang Sultan Muslim adalah langkah kontroversial bagi seorang raja Kristen, tetapi hal itu membantu Francis I memperpanjang umur kekaisarannya.

Sejarawan mengatakan bahwa setahun sebelum perang Mohacs, Louise dari Savoy, ibu dari raja Prancis, Francis I, menulis surat kepada sultan, meminta bantuannya untuk mengeluarkan putranya dari penjara Habsburg.

Sebagai sekutu utama Habsburg, Kekaisaran Hongaria menghadapi kekalahan mengerikan di tangan Ottoman. Kekalahan itu menandai berakhirnya dinasti Jagiellonia. Charles V, raja Habsburg, tertekan dan terpaksa berunding dengan Ottoman hingga akhirnya membebaskan Francis I.

Peristiwa tersebut meletakkan dasar yang kuat bagi aliansi Prancis-Ottoman yang bertahan selama beberapa abad. Membentuk aliansi dengan seorang Sultan Muslim adalah langkah kontroversial bagi seorang raja Kristen. Namun keputusan itu membantu Francis I memperpanjang umur kekaisarannya.

Masjid Turki di Prancis dilempar kepala babi, masjid lainnya dibakar

“Prancis meminta bantuan dari Kekaisaran Ottoman di setiap kesempatan untuk melawan Habsburg. Prancis juga mendapat keuntungan dari dukungan Kesultanan Ottoman ketika berjuang melawan dominasi Spanyol. Jadi, Ottoman memiliki kesempatan untuk campur tangan dalam politik Eropa dan mereka melakukannya,” kata Profesor Feridun Mustafa Emecen, seorang Sejarawan Kesultanan Ottoman di Universitas 29 Mayis Istanbul.

Baca juga  Jejak Ottoman: Sejarah Masjid Aladza di Bosnia

Berbicara kepada TRT World, Prof. Ecemen mengatakan, Habsburg telah mengepung kekaisaran Prancis dan hampir menjadi ancaman besar bagi identitas Prancis. Jika Ottoman tidak memasuki Eropa tengah selama perang Mohacs, Prancis akan berada di bawah hegemoni Habsburg, tambah Ecemen.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Sabah, Profesor Erhan Afyoncu, seorang sejarawan Turki dan rektor Universitas Pertahanan Nasional, mengatakan bahwa setelah permohonan bantuan pertama kali oleh Kekaisaran Prancis yang mengawali hubungan Prancis-Ottoman, Francis I kembali meminta bantuan dari Sultan Sulaiman Alqanuni pada tahun 1528. Charles V masih mengganggu raja Prancis yang merasa rentan terhadap musuh Austria-nya jika tidak ada dukungan Ottoman.

Berbicara kepada TRT World, sejarawan politik Mesut Hakki Casin yang merupakan profesor di Universitas Yeditepe Istanbul, berpendapat bahwa “orang Turki dan Prancis adalah teman lama.” Retorika anti-Turki oleh Macron mengabaikan pengetahuan sejarah tentang bagaimana kedua negara saling melihat, tambah Casin.

Dari perspektif sejarah, aliansi penting antara raja Prancis dan Ottoman pada waktu yang berbeda dalam sejarah, yang pada akhirnya beralih ke aliansi Perang Dingin antara Paris dan Ankara, hampir selalu menjadi landasan hubungan Turki-Prancis, meskipun ada pasang surut dalam beberapa fase sejarah.

Bagaimanapun, konsensus sejarah yang luas tentang keberlangsungan kerajaan Prancis abad ke-16 adalah bahwa tanpa dukungan Ottoman, Prancis akan runtuh di bawah tekanan Habsburg yang berlangsung hingga 1918.

Prancis: Pendatang yang tidak terima karikatur Nabi Muhammad bisa dideportasi

Titik balik

Selama masa pemerintahannya, Suleiman yang Agung menahan kekuatan Habsburg. Dalam pertempuran Buda, bagian barat ibu kota Hongaria modern ,Budapest, Austria menghadapi kekalahan besar di tangan Ottoman yang memungkinkan penguasa Muslim untuk menembus jauh ke Eropa tengah. Setelah mengalahkan kekaisaran Austria, target Sultan Suleiman selanjutnya adalah kota Wina. Pada tahun 1529, Sultan Ottoman meletakkan Pengepungan Wina yang terkenal.

Baca juga  Anggota Parlemen Yunani sebut negaranya buat kesalahan fatal bersekutu dengan Prancis

Lebih dari satu dekade kemudian, pada tahun 1543, Ottoman datang kembali untuk menyelamatkan Francis I. Sultan Suleiman mengirim kapal angkatan lautnya di bawah komando pelaut legendaris Barbaros Hayreddin Pasa. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa Barbaros Hayreddin Pasa sangat dihormati di antara para pesaingnya, sehingga Charles V menawarkan jabatan sebagai kepala laksamana untuk angkatan lautnya, tawaran itu langsung ditolak Barbaros. Charles V mencoba membujuk laksamana Ottoman untuk menjadi raja di wilayah Spanyol di Afrika Utara, tetapi usahanya gagal membuat Barbaros beralih pihak.

Lembaga amal Muslim terbesar di Prancis dibubarkan, pendiri minta suaka ke Turki

Ketika Barbaros meninggal pada tahun 1546, Francis I meninggal setahun kemudian, kekaisaran Prancis Kembali merasa ketakutan di tengah ancaman Habsburg yang membayangi, tetapi Suleiman terus mendukung penerus Francis I, yaitu Henry II serta raja lainnya yang mengambil alih kekuasaan kekaisaran di dekade berikutnya.

“Setelah kematian Francis I, pada tahun 1550-an, Kesultanan Ottoman dan Prancis melakukan kampanye militer bersama melawan Spanyol. Bahkan, Prancis memberikan salah satu pelabuhannya kepada Angkatan Laut Ottoman. Prancis bahkan mendapat keuntungan dari kekuatan angkatan laut Ottoman melawan Spanyol,” kata Ecemen kepada TRT World.

Sepanjang abad ke-16, Kesultanan Ottoman tidak hanya membantu Prancis setiap hari, tetapi terus mengirimkan pasukan dan angkatan lautnya untuk membantu mereka mengusir serangan Kekaisaran Habsburg. Menurut Afyoncu, pada 1533, Suleiman Al-Qanuni mengirimkan 100.000 koin emas kepada Francis I. Dengan uang itu, raja Prancis menjalin aliansi strategis dengan pangeran Inggris dan Jerman.

Raja Prancis Henry II selalu menghargai dukungan Ottoman, memuji Suleiman yang Agung dengan rasa hormat yang dalam. Dia menyebut sultan sebagai ‘teman terhormat, raja Muslim yang luar biasa, Kaisar yang tak terkalahkan.’

Kunjungi Prancis, Menlu AS dukung Macron, ajak Uni Eropa untuk lawan Turki

Aliansi non-ideologis pertama antara negara Kristen dan Muslim itu luar biasa. Berlangsung selama lebih dari dua setengah abad, sampai kampanye militer Napoleon muncul di Mesir yang merupakan wilayah kekuasaan Ottoman pada tahun 1798-1801.

Baca juga  Mantan menteri Lebanon: Aoun praktikkan sektarianisme dan rasisme terhadap Ottoman

Menurut Afyoncu, aliansi Prancis-Ottoman adalah simbol belas kasihan Ottoman kepada raja Prancis yang sangat bermasalah – sebuah kenyataan bersejarah yang tampaknya tidak disadari oleh Presiden Prancis Macron sehubungan dengan pernyataannya yang tidak sensitif terhadap Turki, negara penerus Kesultanan Ottoman.

Karena Prancis saat ini menyeret dirinya dalam perselisihan maritim antara antara Turki dan Yunani di Mediterania timur dengan mendukung Athena, Casin mengatakan, ancaman militer yang ditimbulkan oleh sikap agresif Macron terhadap Turki, sekutu NATO-nya, dapat menjadi bencana bagi aliansi tersebut.

“AS dan Jerman menyadari masalah itu dan mereka seharusnya tidak mengizinkan Prancis menghancurkan NATO,” katanya.

Casin mengatakan rakyat Prancis dan pembuat kebijakan seharusnya tidak membiarkan Macron memutuskan hubungan berabad-abad antara Prancis dan Turki. Bukannya menjual senjata ke Yunani, Prancis seharusnya bekerja untuk memperkuat visi bersatu NATO.

Barangkali, tanpa bantuan Ottoman, Prancis hari ini hanyalah sebuah provinsi di bawah negara Hongaria.

Sumber: TRT World

4 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
5 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Luqman
Luqman
2 months ago

Ya biasalah manusia sifatnya pelupa, kacang lupa sama kulitnya

Ayam jantan dari timur
Ayam jantan dari timur
1 day ago
Reply to  Luqman

Betul👍

Pras
Pras
2 months ago

Pemimpin tidak tahu malu.
Nenek moyangnya sudah ditolong tapi malah menusuk dari belakang.
Menunjukkan sifat bodohnya tanpa dia sadari!

Ayam jantan dari timur
Ayam jantan dari timur
2 months ago

TURKI OTTOMAN 🇹🇷 👍👍👍👍…

Edi doso hartono
Edi doso hartono
2 months ago

Macron president bodoh ….tak tau terimakasih.

error: Content is protected !!
5
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x