Senin, November 29, 2021
Amerika

Biden sebut Putin “pembunuh tanpa jiwa,” begini tanggapan Erdogan

TURKINESIA.NET – ANKARA. Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan pada hari Jumat mengatakan bahwa pernyataan Presiden AS Joe Biden yang menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pembunuh “tidak dapat diterima” dan “tidak sesuai dengan seorang presiden.”

“Pernyataan Tuan Biden tentang Putin tidak sesuai dengan seorang presiden,” kata Erdogan setelah shalat Jumat, 19 Maret 2021, seperti dikutip dari Sputnik News.

“Tuan Putin melakukan apa yang diperlukan dengan memberikan jawaban yang sangat cerdas dan sangat elegan,” tambahnya.

Dalam sebuah wawancara dengan ABC yang ditayangkan pada Rabu waktu setempat, Biden mengatakan Putin “akan membayar harga” atas upayanya untuk merusak pemilu AS 2020 lalu menyusul penilaian intelijen Amerika yang menemukan bahwa pemerintah Rusia ikut campur dalam pemilu 2020 dengan tujuan “merendahkan” pencalonan Biden.

Ketika pewawancara George Stephanopoulos bertanya kepada Biden apakah menurutnya Putin adalah “pembunuh,” Presiden berkata, “Mhmm. Saya yakin.”

Biden juga mengatakan bahwa ketika dia memberitahu Putin bahwa dirinya yakin pemimpin Rusia itu tidak memiliki jiwa, Putin pun menjawab, “kita saling memahami.”

Wawancara itu dirilis ketika Kementerian Perdagangan AS menjatuhkan sanksi kepada Rusia menyusul upaya peracunan tokoh oposisi, Alexey Navalny.

Buntutnya Moskow menarik pulang duta besarnya di Washington, Antoly Antonov, Kamis (18/3). Dia “diundang pulang ke Moskow untuk sebuah konsultasi mengenai apa yang harusnya kami lakukan dan bagaimana bentuk hubungan dengan AS ke depannya,” tulis Kemenlu Rusia.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov mengatakan kepada kantor berita RIA Novosti, “tanggungjawab atas memburuknya hubungan Rusia dan Amerika sepenuhnya berada pada pihak Amerika Serikat.”

Sebaliknya di Washington, Kemenlu mengaku telah mengetahui langkah Rusia dan akan “tetap memantau tantangan yang ditampilkan Rusia dengan seksama.”

Meski begitu seorang juru bicara Kemenlu di Washington mengatakan, duta besar AS akan tetap bertahan di Moskow, dengan harapan menjaga “terbukanya kanal komunikasi” untuk “mengurangi risiko salah perhitungan antara kedua negara.”

Atas komentarnya itu, juru bicara parlemen Rusia, Vyacheslav Volodin, melayangkan kecaman pedas. “Biden menghina bangsa Rusia. Serangan terhadap Putin adalah serupa dengan serangan terhadap negara kita.”

Adapun juru bicara Kremlin, Dimitry Peskov, membantah tuduhan campur tangan Rusia dalam pemilu AS, sebagai “sama sekali tidak berdasar,” serta cuma dibuat sebagai alasan untuk menjatuhkan sanksi baru. Dmitry Peskov mengatakan belum pernah ada peristiwa seperti pernyataan Biden ini dalam sejarah.

Baca juga  Setelah banjir hujatan, lembaga fatwa Mesir revisi pernyataan: Penaklukan Istanbul tidak ada hubungannya dengan Erdogan

Dia mengatakan bahwa Biden jelas tidak ingin memperbaiki hubungan dengan Rusia dan hubungan antara kedua negara sangat buruk. Ketika ditanya bagaimana hal itu dapat mempengaruhi hubungan, Peskov mengatakan sangat jelas bagaimana, tetapi menolak untuk menjelaskan lebih lanjut.

“Ini adalah pernyataan yang sangat buruk dari Presiden Amerika Serikat. Dia jelas tidak ingin memperbaiki hubungan dengan kami, dan kami akan terus melanjutkannya,” kata Peskov seperti dikutip dari CNN, Kamis (18/3/2021).

Menurut laporan dinas intelijen, CIA, Putin dan pejabat tinggi Rusia lain “mengetahui dan kemungkinan ikut mengarahkan” operasi rahasia untuk menggerakkan warga AS memilih Trump, pada pemilihan umum November silam.

Komunitas intelijen AS mengatakan dalam laporan hari Selasa bahwa pemerintah Rusia ikut campur dalam pemilu 2020 dengan kampanye pengaruh yang “merendahkan” Presiden Joe Biden dan “mendukung” mantan Presiden Donald Trump, merinci dorongan disinformasi besar-besaran yang berhasil ditargetkan, dan secara terbuka dipeluk oleh sekutu Trump.

Tuduhan serupa meruak pada pemilu sebelumnya, tahun 2016, ketika Trump mengalahkan kandidat Demokrat, Hillary Trump, meski membukukan perolehan suara yang lebih kecil.

Kepada ABC, Presiden Biden mengaku sempat melakukan “pembicaraan panjang” dengan Putin setelah dilantik, Januari silam. “Saya mengatakan, ‘saya mengenal Anda dan Anda kenal saya. Jika saya meyakini (tuduhan) itu benar, maka bersiaplah,” kata dia.

Pernyataan Biden berbanding kontras dengan pendahulunya. Ketika Trump ditanya apakah Putin seorang “pembunuh” oleh Fox News pada 2017 silam, dia menjawab, “ada banyak pembunuh, Anda kira negara kita tidak pernah berdosa?”

Meski terkesan bermusuhan, Biden mengatakan “ada area lain di mana AS dan Rusia berkepentingan untuk bekerjasama.” Dia mengaku sudah berpengalaman berhadapan dengan “sangat banyak” pemimpin dunia, selama berkarir sebagai politisi. “Saya mengenalnya dengan baik,” tuturnya soal Putin.

Biden tidak akan memberikan rincian lebih lanjut kepada ABC tentang berapa “harga” yang akan dibayar Putin, tetapi pemerintahan Biden diperkirakan akan mengumumkan sanksi terkait campur tangan pemilu secepatnya minggu depan, kata tiga pejabat Departemen Luar Negeri AS kepada CNN. Para pejabat tidak mengungkapkan rincian apa pun terkait sanksi yang diharapkan tetapi mengatakan mereka akan menargetkan banyak negara termasuk Rusia, China dan Iran.

Baca juga  Jokowi berbincang dengan Presiden Erdogan via telepon

 

Tanggapan Putin

Menanggapi pernyataan kritis dari Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis mengungkapkan dirinya berharap Biden selalu dalam keadaan sehat.

Menjawab pertanyaan soal tanggapan apa yang akan dia berikan atas tuduhan Biden, Putin mengatakan dia berharap Presiden AS tetap “sehat”, Presiden Rusia pun menekankan bahwa dirinya mengatakan hal itu tanpa ironi.

“Benar, kami benar-benar mengenal satu sama lain secara pribadi. Apa yang akan saya jawab padanya? Saya akan katakan padanya: semoga sehat terus,” kata Putin. “Saya berharap dia sehat. Saya mengatakan ini tanpa ironi, tanpa lelucon. Ini pertama-tama.”

“Ketika kita mengevaluasi orang lain, negara dan bangsa, kita selalu tampak bercermin. Kita selalu melihat diri kita sendiri. Kita selalu menyampaikan kepada orang lain apa sebenarnya diri kita sendiri,” kata Putin.

“Saya ingat di masa kecil saya, ketika kami (anak-anak Rusia) bertengkar di halaman satu sama lain, kami biasa berkata: dia yang mengatakannya, adalah dia yang melakukannya. Dan itu bukan kebetulan, bukan hanya ucapan atau lelucon anak-anak. Makna psikologis di sini sangat dalam,” kata Putin, dikutip dari Reuters.

“Kami selalu melihat sifat kami sendiri pada orang lain dan berpikir bahwa sifat kami seperti apa adanya. Dan sebagai hasilnya kami menilai aktivitas (seseorang) dan memberi penilaian,” ujarnya.

Presiden Rusia mengklaim bahwa pendirian AS memiliki mentalitas tertentu, yang terbentuk dalam kondisi sulit terkait dengan genosida penduduk lokal dan sikap seperti itu berlanjut hingga hari ini.

“Hingga hari ini, orang Afrika-Amerika menghadapi ketidakadilan dan pemusnahan. Dan semua ini tercatat dalam sejarah, hingga hari ini menyertai kehidupan AS.”

“Kalau tidak, dari mana asal gerakan Black Lives Matter,” ujar dia.

Putin juga mengatakan AS adalah satu-satunya negara di dunia yang menggunakan senjata nuklir terhadap negara lain non-nuklir, merujuk pada serangan AS di Hiroshima dan Nagasaki pada akhir Perang Dunia II.

“Sama sekali tidak ada pengertian militer di dalamnya. Itu adalah pemusnahan langsung terhadap penduduk sipil,” tekan dia.

Mengomentari hubungan Rusia-AS, Putin mengatakan Washington ingin menangani masalah berdasarkan kondisinya sendiri.

Tetapi Moskow akan mempertahankan kepentingannya dan terus bekerja sama dengan AS berdasarkan kondisi Rusia, kata Putin.

Baca juga  Wapres Turki sebut istilah genosida lebih cocok digunakan pada Amerika

“Dan mereka harus menghormatinya. Mereka harus mempertimbangkan hal ini, terlepas dari semua upaya untuk menghentikan pembangunan kami. Terlepas dari sanksi, penghinaan. Mereka harus menghormatinya [kepentingan Rusia],” kata Presiden Putin.

Putin juga menawarkan Joe Biden untuk mengadakan pembicaraan pada Jumat atau Senin secara terbuka via online dan disiarkan secara langsung.

Ia mengatakan akan menugaskan Kementerian Luar Negeri Rusia untuk mempertimbangkan kemungkinan mengadakan pembicaraan semacam itu.

“Saya tidak akan menunda ini terlalu lama. Saya ingin pergi ke Taiga pada akhir pekan untuk beristirahat, tapi kita bisa melakukannya besok (Jumat) atau katakanlah, pada hari Senin,” kata Putin kepada Rossiya-24 TV pada Kamis, dilaporkan kantor berita TASS.

“Tolong, kami siap kapan saja demi orang-orang Amerika, saya akan memberikan arahan terkait sekarang juga kepada Kementerian Luar Negeri (Rusia),” kata Putin.

Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki pada Kamis mengatakan Biden tidak menyesal menyebut Putin sebagai pembunuh dan menepis pertanyaan tentang permintaan Putin untuk segera dihubungi di depan umum.

“Saya akan mengatakan presiden sudah melakukan percakapan dengan Presiden Putin, meskipun ada lebih banyak pemimpin dunia yang belum dia temui,” kata Psaki, Reuters melaporkan.

“Presiden tentu saja akan berada di Georgia besok dan cukup sibuk,” kata Psaki.

Ketika ditanya apakah pernyataan Presiden tersebut dapat meningkatkan ketegangan dengan Rusia, Psaki mencatat bahwa Duta Besar AS untuk Rusia John Sullivan tetap di Moskow.

“Kami terus percaya bahwa diplomasi adalah langkah pertama dan harus selalu menjadi langkah pertama, harus menjadi tujuan kami, karena kami mengejar semua hubungan – bahkan dengan musuh kami,” katanya.

Sumber: A News, Detik, Tempo, Anadolu Agency

3.2 6 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x