Selasa, Oktober 19, 2021
EkonomiTimur Tengah

Impor Saudi dari Turki capai titik terendah dalam sejarah

RIYADH/ANKARA

Pembelian barang-barang Turki oleh Arab Saudi terus berada pada titik terendah dalam sejarah, meskipun belum lama ini ada upaya untuk memperbaiki hubungan kedua negara.

Data resmi Otoritas Umum untuk Statistik pada Selasa menunjukkan, impor Arab Saudi dari Turki pada bulan Juni jatuh ke level 5,7 juta riyal (sekitar $ 1,52 juta), mencapai titik terendah dalam sejarah setelah boikot informal selama berbulan-bulan oleh kerajaan itu.

Impor merosot dari 21,8 juta riyal pada Mei, dan dari sebanyak 712,4 juta riyal pada Juni tahun lalu.

Ankara dan Riyadh dalam beberapa bulan terakhir berusaha untuk memperbaiki hubungan diplomatik setelah ketegangan yang berlangsung selama satu dekade, terutama setelah pembunuhan terhadap jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di Konsulat Istanbul Arab Saudi pada 2018.

Presiden Recep Tayyip Erdoğan pada bulan April dan Mei membahas hubungan bilateral dengan Raja Salman. Sebulan kemudian, Erdogan mengatakan Ankara berharap untuk memaksimalkan kerja samanya dengan negara-negara Teluk.

Turki juga telah membuat kemajuan dalam memperbaiki hubungan penuh dengan Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA).

Pada bulan Mei, Turki mengirim delegasi ke Arab Saudi untuk melakukan pembicaraan dan Menteri Luar Negeri Mevlüt avuşoğlu bertemu di Riyadh dengan sejawatnya dari Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan.

Arab Saudi tidak pernah secara terbuka mengakui bahwa mereka memboikot barang-barang dari Turki, tetapi tahun lalu para pebisnis dan pengecer Saudi mendukung langkah tersebut di tengah ketegangan politik antara kedua negara.

Untuk menghindari blokade tidak resmi, beberapa eksportir Turki telah mengubah rute makanan, pakaian, dan barang-barang lainnya.

Sementara itu, data resmi menunjukkan bahwa nilai ekspor minyak Arab Saudi pada Juni meningkat 123% menjadi 61,5 miliar riyal ($16,4 miliar) dari tahun sebelumnya, sementara ekspor non-minyak naik sekitar 41%.

Baca juga  Dua tentara Turki gugur akibat serangan udara di Suriah

Ekspor keseluruhan meningkat hampir 92% pada Juni dibandingkan dengan tahun sebelumnya ketika perdagangan internasional dibatasi oleh lockdown dan gangguan perjalanan terkait dengan krisis virus corona, kata Otoritas Umum untuk Statistik.

Ekspor minyak menyumbang 72% dari total ekspor pada Juni, naik dari 62% pada Juni tahun lalu, katanya.

Arab Saudi, pengekspor minyak terbesar dunia, terpukul keras tahun lalu karena harga minyak anjlok dan langkah-langkah untuk mencegah pandemi COVID-19 merugikan ekonomi non-minyaknya.

Tetapi produk domestik bruto (PDB) negara itu pada kuartal kedua tumbuh untuk pertama kalinya sejak krisis virus corona, didukung pelonggaran pembatasan dan rebound harga minyak.

China terus menjadi mitra dagang utama Arab Saudi pada bulan Juni, dengan ekspor di sana mencapai hampir 20% dari total ekspor.

Sumber: Daily Sabah

votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x