Senin, Agustus 8, 2022
Uncategorised

Presiden Erdogan ungkap Turki bakal gempur YPG Suriah, AS mengutuk, Rusia beri lampu hijau

Presiden Recep Tayyip Erdogan
Presiden Recep Tayyip Erdogan

TURKINESIA.NET – ANKARA. Presiden Recep Tayyip Erdogan mengumumkan Turki bakal meluncurkan operasi militer baru untuk mengamankan perbatasan selatan negara itu.

Seperti dilaporkan Associated Press, Erdogan mengatakan tujuan operasi tersebut adalah mengembalikan upaya pembuatan zona aman sejauh 30 kilometer di dekat perbatasan Turki-Suriah.

“Kami secepatnya akan melakukan langkah baru untuk melanjutkan proyek yang kami mulai di zona aman sejauh 30 kilometer, yang kami buat di perbatasan selatan kami,” kata Erdogan.

“Target utama operasi ini merupakan area yang menjadi pusat serangan ke negara kami dan zona aman,” lanjut Erdogan, dikutip dari Reuters.

Erdogan sendiri tak memberikan detail lebih lanjut terkait operasi militer itu. Namun, ia mengatakan operasi itu bakal dimulai jika persiapan militer, badan keamanan, dan pasukan keamanan Turki sudah selesai.

Sebagaimana diberitakan Reuters, operasi tersebut kemungkinan bakal menargetkan wilayah utara Suriah.

Turki sendiri telah meluncurkan beberapa operasi militer sejak 2016 untuk menekan pergerakan Unit Pertahanan Masyarakat Kurdi (YPG). Sementara itu, YPG merupakan cabang dari Partai Buruh Kurdi (PKK).

Pernyataan Erdogan ini disampaikan kala Turki menolak bergabungnya Finlandia dan Swedia ke NATO. Turki menuduh kedua negara tersebut melindungi masyarakat yang terlibat dalam PKK dan melindungi ulama Turki yang dituding merencanakan kudeta Erdogan pada 2016.

Sementara itu, Amerika Serikat tiba-tiba memberi peringatan keras ke Turki terkait rencana operasi militer tersebut.

Hal tersebut, tegas Washington, bisa membahayakan sekutu NATO di sana, termasuk pasukan AS. Padahal di Oktober 2019, Erdogan dan mantan Presiden AS Donald Trump telah sepakat soal selesainya misi di Suriah, di mana kedua negara akan mundur.

“Kami sangat prihatin dengan laporan dan diskusi tentang potensi peningkatan aktivitas militer di Suriah utara dan, khususnya, dampaknya terhadap penduduk sipil,” kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri Ned Price kepada wartawan dikutip dari France 24 yang mengutip kantor berita AFP, Rabu (25/5/2022).

Baca juga  Turki bersumpah balas dengan cara terkuat jika diserang Suriah

“Kami mengutuk setiap eskalasi. Kami mendukung pemeliharaan jalur gencatan senjata saat ini,” katanya.

“Kami berharap Turki memenuhi pernyataan bersama Oktober 2019, termasuk menghentikan operasi ofensif di timur laut Suriah,” kata Price.

“Kami mengakui kekhawatiran keamanan Turki yang sah di perbatasan selatan Turki. Tetapi setiap serangan baru akan semakin merusak stabilitas regional dan membahayakan pasukan AS dalam kampanye koalisi melawan ISIS,” tambahnya.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov turut menanggapi rencana Turki. Lavrov mengatakan Turki tidak bisa tinggal diam terhadap perkembangan yang terjadi di Suriah.

Dalam sebuah wawancara dengan saluran berita RT Arab pada Kamis, Lavrov menegaskan bahwa kehadiran Rusia di Suriah sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2544 dan atas undangan rezim Suriah.

“Tentara Amerika menduduki sebagian besar wilayah Suriah di tepi timur Sungai Eufrat,” sebut Lavrov seraya menambahkan bahwa tujuan AS di sana adalah untuk menciptakan “sebuah negara.”

Turki sendiri tengah panas dengan NATO. Di mana negara itu menentang masuknya Finlandia dan Swedia sebagai dampak perang Rusia-Ukraina.

Erdogan menyebut negara Nordik mendukung PKK. Rencananya NATO, Swedia dan Finlandia akan melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan Turki untuk meredakan kekhawatiran Erdogan.

Dalam operasi terbaru, Turki berencana menciptakan “zona keamanan” sepanjang 30 kilometer (19 mil) di sepanjang perbatasan dengan Suriah. Sebelumnya 900 tentara AS berada di sana melawan ISIS ()

 

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
%d blogger menyukai ini: