Kamis, Juni 30, 2022
Eropa

Erdogan sebut Eropa sedang panik imbas perang Rusia-Ukraina

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebut Eropa panik imbas perang Rusia-Ukraina

TURKINESIA.NET, ANKARA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan imbas perang Rusia-Ukraina menyebabkan kepanikan anggota Uni Eropa (UE) dan negara-negara Eropa lainnya. Hal itu disebabkan banyaknya arus pengungsi yang masuk dari Ukraina.

Berbicara di depan pendukung partainya di kota Kizilcahamam pada hari Minggu, Erdogan mengatakan Turki telah berhasil mengelola migrasi tidak teratur yang berasal dari Suriah selama 11 tahun.

“Kami melihat kepanikan di Eropa sebagai akibat dari krisis Ukraina-Rusia,” ujarnya, seperti dikutip dari Russia Today, Senin (6/6/2022).

Presiden Turki melanjutkan dengan mengungkapkan harapan bahwa dunia akan keluar dari periode kritis yang sedang dialaminya sesegera mungkin.

Sejak Rusia menyerang Ukraina pada 24 Februari, hampir 14 juta warga Ukraina telah mengungsi.

Data ini bersumber dari laporan yang diterbitkan pada hari Jumat oleh Amin Awad, asisten Sekretaris Jenderal PBB yang juga koordinator krisis PBB untuk Ukraina.

Menurut data itu, sebanyak 6 juta dari orang-orang Ukraina diyakini telah melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Negara-negara anggota UE seperti Polandia, Rumania, dan Hongaria telah menjadi salah satu tujuan utama, selain Rusia, bagi para pengungsi Ukraina.

Selain masalah migrasi yang dipicu oleh perang Ukraina, Erdogan juga menyinggung pengajuan Swedia dan Finlandia untuk menjadi anggota NATO, yang diajukan pada pertengahan Mei, dengan alasan ancaman yang dirasakan dari Rusia.

Presiden Turki menjelaskan bahwa Ankara akan terus memblokir kedua negara itu untuk bergabung dengan blok militer NATO sampai harapan Ankara terpenuhi.

Karena persetujuan bulat dari 30 anggota NATO diperlukan agar anggota baru dapat diterima ke dalam aliansi, keberatan Turki secara efektif telah menahan harapan kedua negara Nordik itu untuk bergabung dalam waktu dekat.

Baca juga  Macron sebut penting berbicara dengan Erdogan meski ada perselisihan

Ankara menegaskan bahwa ia hanya akan membuka blokir aksesi kedua negara itu jika mereka berhenti menyembunyikan orang-orang yang terkait dengan kelompok militan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan organisasi Kurdi lainnya yang dianggap teroris oleh Ankara.

Pertikaian utama lainnya adalah keputusan pada tahun 2019 oleh Stockholm dan Helsinki untuk melarang penjualan senjata ke Turki setelah serangan militer Ankara ke Suriah utara terhadap militan Kurdi. Turki menuntut agar itu dicabut.

Selama pidatonya pada hari Minggu, Erdogan juga berpendapat: “Sistem yang telah dibangun Barat untuk melindungi keamanan dan kesejahteraannya sendiri sedang runtuh.”

Dia menyerukan reformasi besar-besaran Dewan Keamanan PBB, mencatat bahwa Bumi lebih besar dari lima negara anggota Dewan Keamanan PBB.

Presiden Turki juga mengatakan bahwa ada indikasi bahwa negara-negara Barat pada akhirnya akan mengadopsi saran yang telah dibuat Ankara selama bertahun-tahun dalam hal ini.

Sumber: Sindonews

 

3 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
%d blogger menyukai ini: